Cerita Ahok soal Detik-detik Menegangkan di 411
Tim detikcom - detikNews
Minggu, 09 Agu 2020 06:05 WIB
https://news.detik.com/berita/d-5125711/cerita-ahok-soal-detik-detik-menegangkan-di-411?single=1
0 komentar
<https://news.detik.com/berita/d-5125711/cerita-ahok-soal-detik-detik-menegangkan-di-411?single=1#comm1>
SHAREURL telah disalin
<https://news.detik.com/berita/d-5125711/cerita-ahok-soal-detik-detik-menegangkan-di-411?single=1>
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok
meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta
Selatan, Senin (17/2/2020).Foto: Rifkianto Nugroho
*Jakarta*-
Basuki Tjahaja Purnama
<https://www.detik.com/tag/basuki-tjahaja-purnama>atau yang disapaAhok
<https://www.detik.com/tag/ahok>kembali menceritakan saat dirinya dan
keluarga menghadapiaksi 411 <https://www.detik.com/tag/aksi-411>pada 4
November 2016 yang lalu. Ahok menceritakan saat-saat menegangkan yang ia
hadapi saat itu.
Cerita Ahok ini ia sampaikan saat berbincang dengan Host Makna Talks,
Iyas Lawrence. Kutipan perbincangan mengenai demo yang dikenal dengan
sebutan 411 itu diposting di akun YouTube Ahok, 'Panggil Saya BTP'.
Persoalan aksi 411 saat itu ditengarai oleh permasalahan yang Ahok
hadapi ketika masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Saat itu Ahok
didemo lantaran ucapannya terkait frasa 'dibohongi Surat Al Maidah'
jelang Pilgub DKI 2017.
"Ngomongnya nanti salah lagi saya. Jujur aja gitu ya, waktu terjadi demo
segala macam, saya di rumah betul-betul saya bisa tidur. Memang ada
aparat (yang menyatakan) saya harus diungsikan waktu itu. Ada ibu saya,
semua," ujar Ahok dalam akun YouTube-nya seperti dilihat detikcom, Sabtu
(8/8/2020).
*Baca juga:*Ahok Cerita Anaknya Sempat Ingin Pindah Warga Negara Gegara
Dia Dipenjara
<https://news.detik.com/berita/d-5125584/ahok-cerita-anaknya-sempat-ingin-pindah-warga-negara-gegara-dia-dipenjara>
Ahok saat itu menolak untuk mengungsi dan memutuskan untuk tetap berada
di rumahnya. Saat itu Ahok tinggal di rumahnya di Pantai Mutiara Pluit,
Jakarta Utara.
"Lalu kami putuskan, kalau diungsikan ke pulau, ke mana-mana, justru,
ini minta maaf saja ya kalau sampai ada orang rencana mau bunuh saya
pun, justru dibawa ke pulau ke tempat itu, nggak ada orang yang tahu,
lebih gampang bunuh saya. Udah gitu berita bisa nggak ada kan," cerita Ahok.
Ahok yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina mengikuti
arahan ibunya, Buniarti Ningsih, saat itu yang meminta agar seluruh
keluarga beserta Ahok tetap berada di rumah. Ahok pun meminta aparat
kepolisian untuk menjaganya dan keluarga tanpa harus membawa mereka
pergi dari rumah.
"Saya bilang sama mereka, saya nggak mau pergi. Dia bilang nanti bisa
serbu masuk ke dalam rumah. Ya itu kan tugas kalian menjaga di depan.
Kalau kalian takut ya tinggalin aja. Saya lebih baik mati di rumah satu
keluarga, itu beritanya masih ada orang tau. Terbunuh di rumah. Rumah
saya dibakar, dikeroyok, masih ada orang tahu," sebutnya.
"Kalau saya diungsikan dengan helikopter ke pulau, ke mana, lalu kalian
kalau ada oknum yang bunuh saya, ini kan perang ideologi kan, ini kan
soal keyakinan. Kalau sudah keyakinan kan susah mau megang siapa, gitu.
Ibu saya bilang 'apapun terjadi, kita dalam rumah, jangan keluar. Mau
mati terbunuh pun, dalam rumah aja matinya'. Supaya dunia akan mencatat
kan. Kalau kamu hilang nggak ada yang tahu lho. Bisa fitnah macam-macam.
Bisa bilang kamu kabur, bisa bilang kamu tenggelam, macam-macam
versinya," tambah Ahok.
Menurut Ahok, hal tersebut merupakan strategi dirinya menghadapi aksi
sejumlah ormas Islam saat itu. Dalam kasus ini, Ahok akhirnya dinyatakan
bersalah melakukan penistaan agama dan dihukum 2 tahun penjara dan
menjalani masa tahanannya di Mako Brimob.
Ahok pun ditanya apakah ia merasa menyesal atas peristiwa yang menimpa
dirinya. Ia menegaskan, tak ada penyesalan meski peristiwa tersebut
membuatnya kalah di gelaran Pilkada hingga dipenjara sekaligus.
"Saya ngomong, aku nggak pernah nyesel. Karena aku tahu aku berdiri
untuk kebenaran dan keadilan dan perikemanusiaan. Saya berdiri untuk
itu. Kecuali saya salah. Kita salah saja nggak boleh menyesali yang
sudah lewat. Apalagi kita yakin kita nggak salah. Apalagi keputusan yang
saya ambil berdasarkan keyakinan saya," ujar Ahok.
Bapak empat anak ini juga menyatakan sudah bisa berdamai dengan diri
sendiri ketika masih berada di tahanan. Buat Ahok, cara memaafkan jadi
obat lara jauh dari rumah.
"Kalau kita kesel sama orang, marah, nggak mau memaafkan, sesek ini
rasanya. Sama ini panas, panas banget. Makanya saya bilang, kamu kalau
nggak memaafkan orang, kamu masih tetap marah, itu kamu yang sakit
sendiri," ucapnya.
*Baca juga:*Ahok Ungkap Cerita Hadapi Aksi 411: Hendak Diungsikan ke
Pulau-Siap Mati
<https://news.detik.com/berita/d-5125551/ahok-ungkap-cerita-hadapi-aksi-411-hendak-diungsikan-ke-pulau-siap-mati>
Ahok merasa, masuk penjara merupakan cara Tuhan memberinya sebuah
anugerah. Ia merasa penuh syukur karena di dalam penjara, dirinya bisa
lebih memperbaiki pola hidup.
"Jadi saya di dalam tahanan itu saya pikir, waduh ini bersyukur banget
ya. Gue bisa setiap hari Senin sampai Jumat dijemur bos, berjemur lah
kira-kira. Setiap hari bisa olahraga. Setiap hari tidur 8 jam. Jam 10
malam wajib tidur kan. Makan tepat waktu, sebelum jam 6 sudah selesai
makan. Jadi jam 10 tidur, 4 jam kosong perut kita. Wah ada one pack,
lurus perut lah kira-kira," tutur Ahok.
Sekali lagi, politikus PDIP ini menyatakan tidak merasa takut saat
didemo hingga berjilid-jilid. Ahok menyebut, dirinya merasa tenang
ketika didemo kala itu.
"Makanya saya bilang, kalau saya bilang nggak takut, kamu bilang saya
sombong lagi. Tapi saya cuma bilang saya bisa tidur dengan nyenyak," akunya.
Tak hanya itu, Ahok pun menceritakan lebih jauh kisahnya saat dirinya
dipenjara akibat kasus penistaan agam pada tahun 2016 itu. Ahok
bercerita soal respons anak-anaknya ketika ia dipenjara.
Saat demo terjadi, tiga anak tertua Ahok yakni Nicholas Purnama,
Nathania Purnama, dan Daud Albeenner Purnama disebut biasa-biasa saja.
Bahkan ketika sidang berjalan, tiga anak Ahok itu juga menurutnya tetap
masih biasa. Ini lantaran Ahok sudah kerap didemo selama menjabat
sebagai Gubernur DKI Jakarta.
"Di rumah biasa-biasa aja. Nggak. Kita biasa aja, kita jalani aja," kata
Ahok.
Dalam kasus itu, Ahok dihukum 2 tahun penjara dan menjalani masa
tahanannya di Mako Brimob. Saat Ahok sudah dipenjaralah anak-anak Ahok
baru merasakan kegelisahan. Bahkan anak perempuannya, Thania, sempat
ingin pindah kewarganegaraan.
"Waktu baru masuk mereka agak marah, dan syok, dan stres. Anak cewek
saya sempat berpikir mau pindah warga negara lah. Daud langsung jatuh,
dia nangis. Jadi akhirnya bisa terima juga si Nicho. Cuma takut dibully
kan, dia kuliah di UI kan," kisah Ahok.
"Sekolah Daud juga dia nggak dibully. Guru-gurunya baik, bilang 'papamu
nggak salah, papamu is a hero'. Jadi anak-anak membangkitkan semangat
dia. Bahwa papanya ini hero," lanjutnya.
*Baca juga:*Pengacara: 2 Tersangka Surati Ahok, tapi Minta Maafnya Belum
Tulus
<https://news.detik.com/berita/d-5124669/pengacara-2-tersangka-surati-ahok-tapi-minta-maafnya-belum-tulus>
Ahok pun mengaku mau tidak mau dirinya berdamai dengan keadaan. Bila
tidak, hukuman yang ia jalani akan terasa lebih berat lagi.
"Kamu perlu dikurung baru kamu tahu. Lo nggak mau damai lo mati sendiri
hehehe. Lo mati sendiri lo di dalam lo. Kamu kalau marah kan mikirin dia
terus. Lebih baik kita kerjakan sesuatu yang baru kan. Membaca. Saya doa
lah," kata Ahok.
Politikus PDIP ini mengaku belajar satu hal di dalam penjara. Menurut
Ahok, pikiran positif menjadi sumber kekuatan dirinya selama berada di
penjara.
"Jadi kalau kamu di dalam mesti pikirin semua yang baik-baik, yang
manis-manis di dalam. Itu kalau nggak salah di Filipi 4:8. Semua yang
manis, semua suci, semua yang benar, semua yang disebut kebajikan, semua
yang layak dipuji, pikirkan semua itu," sebutnya.
"Kita mesti punya dunia sendiri. Apa yang dilakukan di dalam? Waktu.
Astaga 24 jam itu sama kan detak jam itu. Satu jam itu lama lho. Lama
jalannya. Lihat kalender di meja itu coretnya lamaaaa lewat seminggu,"
tambah Ahok.
Seperti diketahui Ahok bebas murni dari penjara pada 24 Januari 2019,
setelah menjalani hukuman 1 tahun 8 bulan 15 hari karena mendapat
remisi. Kasus penistaan agama yang menimbulkan pro kontra berawal saat
Ahok berpidato di Pulau Pramuka pada 26 September 2016.
*(maa/aik)*
Ahok Ungkap Cerita Hadapi Aksi 411: Hendak Diungsikan ke Pulau-Siap Mati
Elza Astari Retaduari - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2020 19:29 WIB
https://news.detik.com/berita/d-5125551/ahok-ungkap-cerita-hadapi-aksi-411-hendak-diungsikan-ke-pulau-siap-mati
329 komentar
<https://news.detik.com/berita/d-5125551/ahok-ungkap-cerita-hadapi-aksi-411-hendak-diungsikan-ke-pulau-siap-mati#comm1>
SHAREURL telah disalin
<https://news.detik.com/berita/d-5125551/ahok-ungkap-cerita-hadapi-aksi-411-hendak-diungsikan-ke-pulau-siap-mati>
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok
meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta
Selatan, Senin (17/2/2020).Foto: Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias
Ahok. (Rifkianto Nugroho/detikcom).
*Jakarta*-
Basuki Tjahaja Purnama
<https://www.detik.com/tag/basuki-tjahaja-purnama/?tag_from=tag_detail>(BTP)
alias Ahok kembali menceritakan saat ia dan keluarga menghadapiaksi 411
<https://www.detik.com/tag/aksi-212/?tag_from=tag_detail>pada 4 November
2016 lalu. Saat itu, Ahok yang masih menjabat sebagai Gubernur DKI
Jakarta didemo lantaran ucapannya terkait frasa 'dibohongi Surat Al
Maidah' jelang Pilgub DKI 2017.
Cerita Ahok ini ia sampaikan saat berbincang dengan Host Makna Talks,
Iyas Lawrence. Kutipan perbincangan mengenai demo yang dikenal dengan
sebutan 411 itu diposting di akun YouTube Ahok, 'Panggil Saya BTP'.
"Ngomongnya nanti salah lagi saya. Jujur aja gitu ya, waktu terjadi demo
segala macam, saya di rumah betul-betul saya bisa tidur. Memang ada
aparat (yang menyatakan) saya harus diungsikan waktu itu. Ada ibu saya,
semua," ujar Ahok dalam akun YouTube-nya seperti dilihat detikcom, Sabtu
(8/8/2020).
Ahok
<https://www.detik.com/tag/basuki-tjahaja-purnama/?tag_from=tag_detail>dan
keluarga akhirnya memutuskan untuk tetap berada di rumahnya. Saat itu
Ahok tinggal di rumahnya di Pantai Mutiara Pluit, Jakarta Utara.
*Baca juga:*Babak Baru 212 Vs Ahok
<https://news.detik.com/berita/d-4927491/babak-baru-212-vs-ahok>
"Lalu kami putuskan, kalau diungsikan ke pulau, ke mana-mana, justru,
ini minta maaf saja ya kalau sampai ada orang rencana mau bunuh saya
pun, justru dibawa ke pulau ke tempat itu, nggak ada orang yang tahu,
lebih gampang bunuh saya. Udah gitu berita bisa nggak ada kan," cerita Ahok.
Sosok yang kini menjabat Komisaris Utama (Komut) Pertamina itu
mendengarkan permintaan ibunya, Buniarti Ningsih, yang meminta agar Ahok
sekeluarga tetap tinggal di rumah. Ahok meminta aparat kepolisian untuk
menjaganya dan keluarga tanpa harus membawa mereka pergi dari rumah.
"Saya bilang sama mereka, saya nggak mau pergi. Dia bilang nanti bisa
serbu masuk ke dalam rumah. Ya itu kan tugas kalian menjaga di depan.
Kalau kalian takut ya tinggalin aja. Saya lebih baik mati di rumah satu
keluarga, itu beritanya masih ada orang tau. Terbunuh di rumah. Rumah
saya dibakar, dikeroyok, masih ada orang tahu," sebutnya.
"Kalau saya diungsikan dengan helikopter ke pulau, ke mana, lalu kalian
kalau ada oknum yang bunuh saya, ini kan perang ideologi kan, ini kan
soal keyakinan. Kalau sudah keyakinan kan susah mau megang siapa, gitu.
Ibu saya bilang 'apapun terjadi, kita dalam rumah, jangan keluar. Mau
mati terbunuh pun, dalam rumah aja matinya'. Supaya dunia akan mencatat
kan. Kalau kamu hilang nggak ada yang tahu lho. Bisa fitnah macam-macam.
Bisa bilang kamu kabur, bisa bilang kamu tenggelam, macam-macam
versinya," tambah Ahok.
fotoinet demo 4 november 2016*/(Foto Demo 4 November 2016. Foto:
detikcom)./*
Menurut Ahok, hal tersebut merupakan strategi dirinya menghadapi aksi
sejumlah ormas Islam saat itu. Dalam kasus ini, Ahok akhirnya dinyatakan
bersalah melakukan penistaan agama dan dihukum 2 tahun penjara dan
menjalani masa tahanannya di Mako Brimob.
Ahok pun ditanya apakah ia merasa menyesal atas peristiwa yang menimpa
dirinya. Ia menegaskan, tak ada penyesalan meski peristiwa tersebut
membuatnya kalah di gelaran Pilkada hingga dipenjara sekaligus.
"Saya ngomong, aku nggak pernah nyesel. Karena aku tahu aku berdiri
untuk kebenaran dan keadilan dan perikemanusiaan. Saya berdiri untuk
itu. Kecuali saya salah. Kita salah saja nggak boleh menyesali yang
sudah lewat. Apalagi kita yakin kita nggak salah. Apalagi keputusan yang
saya ambil berdasarkan keyakinan saya," ujar Ahok.
*Baca juga:*Massa Aksi Sempat Ancam Ahok, Kapolda Metro: Itu Hanya
Ucapan
<https://news.detik.com/berita/d-3321227/massa-aksi-sempat-ancam-ahok-kapolda-metro-itu-hanya-ucapan>
*Tonton juga 'Dua Tersangka Penghina Ahok Tak Pernah Bertemu, Cuma
Chatting':*
Bapak empat anak ini juga menyatakan sudah bisa berdamai dengan diri
sendiri ketika masih berada di tahanan. Buat Ahok, cara memaafkan jadi
obat lara jauh dari rumah.
"Kalau kita kesel sama orang, marah, nggak mau memaafkan, sesek ini
rasanya. Sama ini panas, panas banget. Makanya saya bilang, kamu kalau
nggak memaafkan orang, kamu masih tetap marah, itu kamu yang sakit
sendiri," ucapnya.
Ahok merasa, masuk penjara merupakan cara Tuhan memberinya sebuah
anugerah. Ia merasa penuh syukur karena di dalam penjara, dirinya bisa
lebih memperbaiki pola hidup.
"Jadi saya di dalam tahanan itu saya pikir, waduh ini bersyukur banget
ya. Gue bisa setiap hari Senin sampai Jumat dijemur bos, berjemur lah
kira-kira. Setiap hari bisa olahraga. Setiap hari tidur 8 jam. Jam 10
malam wajib tidur kan. Makan tepat waktu, sebelum jam 6 sudah selesai
makan. Jadi jam 10 tidur, 4 jam kosong perut kita. Wah ada one pack,
lurus perut lah kira-kira," tutur Ahok.
Sekali lagi, politikus PDIP ini menyatakan tidak merasa takut saat
didemo hingga berjilid-jilid. Ahok menyebut, dirinya merasa tenang
ketika didemo kala itu.
"Makanya saya bilang, kalau saya bilang nggak takut, kamu bilang saya
sombong lagi. Tapi saya cuma bilang saya bisa tidur dengan nyenyak," akunya.
Ahok bebas murni dari penjara pada 24 Januari 2019, setelah menjalani
hukuman 1 tahun 8 bulan 15 hari karena mendapat remisi. Kasus penistaan
agama yang menimbulkan pro kontra berawal saat Ahok berpidato di Pulau
Pramuka pada 26 September 2016.
*(elz/bar)*