Politikus AS Yang Terkucil dan Tidak Disukai Sekutunya

http://indonesian.cri.cn/20200813/77ee2881-46a6-34e0-158d-f9f4a4549aaf.html
2020-08-13 12:03:48

Baru-baru ini Jerman dan Perancis resmi keluar dari perundingan G7 terkait reformasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) gara-gara Amerika Serikat (AS) bersikeras mendominasi reformasi tersebut walaupun sudah resmi mengajukan permohonan untuk mundur dari WHO.

Diberitakan, atas dorongan AS, G7 secara diam-diam telah melakukan hampir 20 putaran konsultasi secara virtual mengenai reformasi WHO selama 5 bulan. Jerman dan Perancis mundur dari perundingan itu karena kedua negara itu tidak puas terhadap “skema reformasi” versi AS yang hanya mengutamakan “kepentingan politik” yang sempit.

Pada hal, Jerman dan Perancis serta negara-negara Eropa lainnya sudah lama tidak puas terhadap perilaku AS. Sejak pandemi COVID-19 mewabah, para politikus AS pada awalnya berkali-kali mengabaikan peringatan dari Tiongkok maupun WHO sehingga wabah virus corona tersebar dan kehilangan kontrol di AS, sementara terus memanipulasi “politisasi pandemi” dan nekat menimpakan kesalahannya dalam melawan pandemi kepada negara atau organisasi yang lain.  Dari mengancam menghentikan pendanaan kepada WHO hingga resmi mengajukan permohonan untuk mundur dari WHO, perilaku AS telah diberondongi kritik luas dari masyarakat internasional, termasuk para sekutu tradisionalnya.

Saat ini jumlah kasus akumulatif wabah virus corona di AS tercatat 5 juta lebih. Terpengaruh wabah virus corona, krisis ekonomi dan sosial yang tumpang tindih, para politikus Gedung Putih semakin kewalahan memelihara tingkat dukungannya yang terus merosot. Dalam kondisi demikian, negara-negara Eropa tahu benar bahwa AS bersikeras melakukan reformasi WHO hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat domestik terhadap kegagalannya dalam perlawanan wabah virus corona. Hal itu juga dilakukannya atas pertimbangan pilpres pada tiga bulan mendatang. Keinginan AS nyata sekali bertentangan dengan pendirian sekutu utamanya yang berpegang teguh pada multilateralisme untuk menghadapi tantangan global. Sebagai negara-negara yang berdaulat, negara-negara Eropa sudah barang tentu mustahil selalu mematuhi perintah AS tanpa menghiraukan kepentingan dirinya yang terus digerogoti.

Perselisihan antara AS dan negara-negara Eropa terkait reformasi WHO menunjukkan bahwa di tubuh internal dunia Barat sudah muncul kerenggangan yang semakin lebar di hadapan krisis dan tantangan berat global. Para politikus Washington yang ingin mengubah tata kelola multilateral global dengan ikhtiar hegemonis akan semakin terkucil di dunia.

Kirim email ke