https://www.wartaekonomi.co.id/read132528/penerimaan-pajak-dari-industri-morowali-diprediksi-rp3-triliun-pada-2022

Penerimaan Pajak dari Industri Morowali Diprediksi Rp3 Triliun pada 2022
Bagikan:
Share
Direktur Eksekutif Pengembangan PT Indonesia Morowali Industrial Park
(IMIP) Dedi Mulyadi mengungkapkan keberadaan Kawasan Industri Morowali
telah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun
nasional. Dampak pesatnya pengembangan Kawasan Industri Morowali,
kontribusi pajak diproyeksikan terus meningkat. "Penerimaan pajak akan
mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun per tahun setelah 2022," kata Dedi,
di Makassar, Kamis, (2/3/2017).


Berdasarkan data yang dihimpun Warta Ekonomi, pendapatan per kapita
Morowali pada 2015 hanya berkisar US$8.702 atau setara Rp114 juta.
Diproyeksikan pendapatan per kapita Morowali akan melonjak mencapai US$35
ribu atau setara Rp458 juta pada 2022. PDRB Sulteng pun diyakini ikut
terdongkrak dari Rp90,2 triliun pada 2014 menjadi Rp233,26 triliun pada
2022. "Diperkirakan laju pertumbuhan ekonomi di Sulteng tembus 15-17
persen."

Dedi menerangkan bila laju pertumbuhan ekonomi Sulteng diproyeksikan
mencapai belasan persen, laju pertumbuhan Morowali lebih 'gila' yakni
berkisar 30-35 persen. Untuk PDRB Morowali diperkirakan melonjak dari Rp7,5
triliun pada 2014 menjadi Rp137,87 triliun pada 2022. PAD yang dihasilkan
diproyeksikan bisa meningkat dari Rp25,3 miliar pada 2015 menjadi Rp246,3
miliar pada 2022.

Menurut Dedi, nilai tambah yang dihasilkan sejumlah pabrik smelter dan
pengolahan logam lainnya di Morowali pun diperkirakan meroket. Pada 2016,
nilai tambah yang dihasilkan di Kawasan Industri Morowali sudah menembus
Rp16,5 triliun. Pihaknya memperkirakan nilai tambah pada 2022 mencapai
Rp226,9 triliun.

Guna mendorong akselerasi pengembangan Kawasan Industri Morowali, Dedi
mengatakan berbagai infrastruktur penunjang telah dan sedang dibangun. Di
antaranya yakni pembangunan bandara, pelabuhan, perumahan dinas berupa
apartemen, rumah sakit dan sekolah. Untuk pembangunan bandara khusus akan
dimulai pada tahun ini dan ditargetkan tuntas pada 2018 mendatang.

Direktur Jendral Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan
Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri smelter
berbasis logam karena termasuk dari 10 besar negara di dunia dengan
cadangan bauksit, nikel, dan tembaga yang melimpah.

?Untuk pengembangan industri berbasis mineral logam khususnya pengolahan
bahan baku bijih nikel, saat ini difokuskan di Kawasan Timur Indonesia.
Misalnya, di Kawasan Industri Morowali (Sulteng), Kawasan Industri Bantaeng
(Sulsel) dan Kawasan Industri Konawe (Sultra),? ujar dia.

Diketahui, Kawasan Industri Morowali seluas 2.000 hektar dikelola oleh PT
IMIP. Kawasan terintegrasi tersebut akan menarik investasi sebesar USS6
miliar atau mencapai Rp78 triliun dengan menyerap tenaga kerja langsung
sekitar 20 ribu orang dan tidak langsung sebanyak 80 ribu orang.

Selanjutnya, Kawasan Industri Bantaeng memiliki luas 3.000 hektare yang
diperkirakan akan menarik investasi sebesar USS5 miliar atau setara Rp 55
triliun, dengan Harbour Group bertindak sebagai investor. Sedangkan, untuk
Kawasan Industri Konawe diprediksi akan menarik investasi sebanyak Rp28
triliun. Bertindak sebagai anchor industry di kawasan ini adalah Virtue
Dragon Nickel Industry, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 18 ribu
orang.
Tag: Pajak <https://www.wartaekonomi.co.id/tag3656/pajak>, Sulawesi Utara
<https://www.wartaekonomi.co.id/tag4754/sulawesi-utara>

Penulis: Tri Yari Kurniawan
<https://www.wartaekonomi.co.id/redaksi/tri_yari>

Editor: Sucipto <https://www.wartaekonomi.co.id/redaksi/cipto>

Foto: Tri Yari Kurniawan

Kirim email ke