-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5137053/mengenang-the-sin-nio-pejuang-wanita-yang-telantar-di-hari-tua?tag_from=news_mostpop


Mengenang The Sin Nio, Pejuang Wanita yang 'Telantar' di Hari Tua

Uje Hartono - detikNews

Senin, 17 Agu 2020 21:12 WIB
60 komentar
SHARE URL telah disalin
The Sin Nio, pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa asal Wonosobo
The Sin Nio (Foto: Istimewa)
Wonosobo -

Sosok The Sin Nio merupakan pejuang dengan etnis Tionghoa asal Wonosobo. 
Pejuang masa revolusi 1945 ini hidup memprihatinkan di hari tuanya.

Sin Nio menjadi satu-satunya perempuan yang tergabung dalam Kompi 1 Batalyon 4 
Resimen 18 di bawah komando Sukarno. Dia ikut di garis terdepan perjuangan 
dengan senjata sederhana berupa golok, tombak hingga bambu runcing saat melawan 
Belanda.

The Sin Nio memiliki semangat besar untuk menjadi pejuang kemerdekaan. Bahkan, 
ia sempat menyamar sebagai laki-laki agar bisa bertempur melawan Belanda. pun 
celana seperti pejuang laki-laki pada umumnya. Namanya di medan perang berganti 
menjadi Mochamad Moeksin.

"Dulu dia (The Sin Nio) sempat menyamar sebagai laki-laki agar bisa ikut 
berjuang. Caranya, dengan melilit bagian dada agar terlihat sebagai laki-laki," 
terang Christiani, keponakan The Sin Nio, yang tinggal di Jalan Ahmad Yani 
Wonosobo, Senin (17/8/2020).

Namun kecemerlangannya di meda perang, tak sejalan dengan nasibnya. Ketika 
perang fisik usai, Sin Nio, kurang diperhatikan. Upaya dia untuk mengurus 
status veteran perang, tak secepat dan semudah seperti ketika dia memutuskan 
bergabung di garda depan perjuangan.
Baca juga:
Merdeka! Akhirnya Mbah Min Pejuang Terlupakan Bisa Ikut Upacara

Untuk memperjuangkan haknya itu, Sin Nio bahkan rela tinggal seorang diri di 
rumah liar di dekat Stasiun Kereta Api Juanda, Jakarta. Bahkan pernah cukup 
lama tinggal menumpang di Masjid di daerah Petojo, Jakarta.

"Dia (The Sin Nio) tinggal di dekat rel kereta api di sekitar Stasiun Juanda. 
Sebelumnya juga pernah menumpang di Masjid di daerah Petojo," kata Christiani.

"Dia (The Sin Nio) tinggal di rumah itu seorang diri hingga meninggal dunia. 
Dan sekitar satu bulan sebelum meninggal dia mengunjungi keponakannya di 
Jakarta. Memang sering berkunjung keponakannya ini yang di Jakarta. Tetapi 
tidak pernah mau menginap, hanya sekadar minum kopi dan cerita-cerita kemudian 
pulang," ujarnya.

Cerita serupa juga disampaikan Suwarsih, menanti Sin Nio. "Rumahnya sangat 
kecil di dekat stasiun. Bahkan kalau kereta lewat rumahnya sampai getar. Karena 
jarak dengan rel tidak ada 5 meter," kata Suwarsih, saat ditemui di Wonosobo, 
Jawa Tengah, Senin (17/8/2020).

Suwarsih mengaku dua kali berkunjung ke rumah The Sin Nio di Jakarta. Pertama 
setelah ia menikah, kedua saat The Sin Nio meninggal dunia. Di dalam rumah 
tersebut hanya ada satu ruangan. Namun, untuk tempat tidur dibuatkan di bagian 
atas.
Baca juga:
Komunitas Difabel Blora Ciptakan Motif Batik Kemerdekaan

Namun demikian, ia mengaku tidak tahu banyak tentang sosok The Sin Nio 
tersebut. Namun, di mata keluarga The Sin Nio ini dikenal pemberani, apalagi 
sebagai seorang perempuan.

"Mamah Sin ini dikenal pemberani. Orangnya juga penyayang. Pada saat setelah 
menikah saya ke sana, dia juga memberi nasehat banyak. Intinya agar pernikahan 
saya langgeng," kata dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2


                       ---------


https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5137053/mengenang-the-sin-nio-pejuang-wanita-yang-telantar-di-hari-tua/2



Mengenang The Sin Nio, Pejuang Wanita yang 'Telantar' di Hari Tua

Uje Hartono - detikNews

Senin, 17 Agu 2020 21:12 WIB
60 komentar
SHARE URL telah disalin
The Sin Nio, pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa asal Wonosobo
The Sin Nio (Foto: Istimewa)
Semua itu dilakukan Sin Nio untuk memperjuangkan haknya sebagai veteran. Dia 
hingga harus memperjuangkan sendirian status tersebut di Jakarta, meninggalkan 
kampung halamannya. Bertahun-tahun dia terlunta-lunta di Jakarta. Dia baru 
diakui sebagai veteran sekitar 3 tahun sebelum meninggal dunia. Setelah 
usahanya berhasil, dia sudah tak mau kembali ke Wonosobo.

Setelah meninggal dunia, The Sin Nio dimakamkan di pemakaman layur Rawamangun. 
Kerabat di Wonosobo mengaku tidak mengetahui pasti apakah saat ini makamnya 
masih terlacak di pemakaman tersebut.
The Sin Nio, pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa asal WonosoboSK Veteran 
The Sin Nio dengan nama Mochamad Moeksin. (Foto: Istimewa)
Baca juga:
Abaikan Kondisi Pandemi, Warga Malah Bikin Lomba Panjat Pinang Waria

Pasalnya, ahli waris harus membayar Rp 100 ribu per tiga tahun. Padahal menurut 
sepengetahuannya, saat ini anak-anaknya semua sudah meninggal dunia.

"Karena ada aturan harus bayar Rp 100 ribu 3 tahun sekali. Dan setahu saya 
anaknya itu ada 3, di Wonosobo, Gombong dan Yogyakarta. Semuanya sudah 
meninggal dunia. Hanya ada anak mantu yang masih hidup yakni di Wonosobo dan di 
Gombong," jelasnya.

Sebelum meninggal dunia, The Sin Nio ini juga menolak ajakan untuk hidup 
bersama anak-anaknya. Ia memilih hidup seorang diri di Jakarta. "Hidup bersama 
anak-anaknya juga tidak mau. Paling hanya mengunjungi keponakannya yang ada di 
Jakarta. Sedangkan suaminya sudah meninggal dunia lebih dulu," tuturnya.
Halaman
1 2 


                       








Kirim email ke