-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5136206/merdeka-dan-kemandirian?tag_from=wp_cb_kolom_list




Kolom Kang Hasan

Merdeka dan Kemandirian

Hasanudin Abdurakhman - detikNews

Senin, 17 Agu 2020 10:25 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Merdeka artinya bebas. Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, bapak-bapak dan 
ibu-ibu kita dulu, para pendiri Republik ini berjuang agar kita sebagai anak 
bangsa bebas untuk menentukan nasib kita sendiri. Merdeka artinya berdaulat, 
kita bebas memilih untuk mengambil tindakan apa saja untuk kita sendiri.

Tujuan itu boleh dibilang telah tercapai saat kita memproklamasikan 
kemerdekaan, 75 tahun yang lalu. Meski masih ada sejumlah perselisihan dengan 
Belanda, pada akhirnya proklamasi itu adalah saat penjajahan panjang atas tanah 
kita berakhir. Masalahnya, apakah proklamasi itu serta merta membawa kita pada 
tujuan kemerdekaan, yaitu bersatu, berdaulat, adil, dan makmur? Jawabannya, 
tidak.

Kedaulatan ternyata terkait dengan soal apakah kita makmur atau tidak. Tanpa 
kemakmuran, ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan dengan bebas. Bahkan 
kedaulatan kita terancam. Awal tahun ini sebuah kapal coast guard Cina dengan 
enteng masuk ke wilayah perairan kita. Awak kapal Cina itu terang-terangan 
mengatakan bahwa mereka sedang melakukan kegiatan resmi, menjaga perairan Cina. 
Aartinya, mereka menganggap bahwa perairan Natuna itu miliknya --tak 
menghormati kedaulatan kita di situ.

Mengapa Cina berani bertindak begitu? Salah satu alasan yang mungkin adalah 
karena mereka merasa superior. Untuk mengusir sebuah kapal coast guard, kita 
harus mengerahkan kapal perang TNI AL. Kapal-kapal coast guard kita tak 
sebanding dengan kapal milik Cina. Ibaratnya, Cina adalah seorang pria kekar 
yang seenaknya merundung seorang pria kerempeng yang tak berdaya untuk melawan.

Dalam hal persenjataan militer kita jelas kalah jauh dengan Cina. Sebabnya, 
anggaran militer kita jauh di bawah Cina. Anggaran militer kita jauh di bawah 
Cina. Artinya, kita tak punya cukup uang untuk melengkapi diri dengan 
persenjataan memadai yang membuat kita disegani.

Tentu ini bukan hanya soal senjata. Untuk makan nasi kita selalu mengimpor 
beras. Tak hanya beras, kita juga mengimpor kacang kedelai, jagung, 
buah-buahan, berbagai produk pertanian. Padahal sepanjang usia sekolah kita 
belajar bahwa kita ini negara agraris. Negara agraris, tapi tak sanggup 
memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri.

Dalam hal industri, kita hanya sekadar berperan sebagai tuan rumah bagi 
pabrik-pabrik milik perusahaan dari negara lain. Mereka mendirikan pabrik di 
sini karena tanah kita murah, dan tenaga kerja kita juga mau dibayar murah. 
Alasan lain, karena mereka ingin mengambil sumber daya alam yang kita miliki, 
atau menjual produk mereka untuk kita konsumsi.

Ada begitu banyak produk industri sederhana yang masih harus kita impor. 
Sekadar ember plastik, mainan anak-anak, jarum, dan gunting kuku pun harus kita 
impor. Kita tak membuat itu semua.

Sumber daya alam yang kita miliki tak bisa kita olah sendiri. Sekadar menangkap 
ikan di laut pun kita tak sanggup, sehingga laut kita dipenuhi oleh kapal-kapal 
asing. Minyak, tembaga, dan emas kita, diambil dengan teknologi dan modal asing.

Itu adalah deretan kenyataan pahit yang harus kita saksikan pada usia 75 tahun 
kemerdekaan kita. Ringkasnya, kita hanya merdeka secara formal, tapi sama 
sekali tak mandiri. Setiap tahun kita mesti berutang untuk mencukupi anggaran 
belanja kita sendiri.

Kenapa kita begini? Ini adalah hasil dari kesalahan kolektif kita. Salah 
pemerintah, salah pengusaha, salah kaum buruh, salah petani, salah pedagang. 
Ini salah kita semua.

Mari kita tinjau soal industri. Pemerintah salah. Banyak salahnya. Strateginya 
tidak jelas. Rencananya tidak jelas. Prioritas juga tidak jelas. Ditambah lagi, 
korup!

Usaha untuk membangun industri logam dasar dengan membangun Krakatau Steel 
dimulai dengan mega-korupsi. Kalau Anda ikuti kasus perburuan harta Taher di 
zaman Orde Baru dulu Anda akan tahu ceritanya. Usaha membangun industri kimia 
dasar (olefin) dulu menghasilkan skandal Eddy Tanzil. Ada banyak lagi salah 
pemerintah, dari zaman Soeharto sampai sekarang.

Lalu bagaimana dengan korporasi? Perusahaan raksasa Indonesia banyak. Tapi 
nyaris tidak ada yang mau berivestasi di riset teknologi dan pengembangan 
produk. Maaf saja, mereka hanya mencari kekayaan. Setelah kaya, duitnya 
diparkir di Singapura. Mereka kendalikan bisnis dari sana.

Lalu apa lagi? Peneliti kita banyak yang lebih suka cari popularitas ketimbang 
bekerja serius untuk riset. Tentu saja ada orang-orang yang bekerja serius. 
Tapi jumlahnya masih jauh dari cukup. Kualitasnya, dalam hal kreativitas, 
integritas, dan motivasi, juga rendah.

Pekerja kita kebanyakan bermental budak. Sedikit yang mau bersusah payah 
mengasah kemampuan dan menambah skill. Skill rendah, disiplin minim, motivasi 
melempem, tapi gaji mau tinggi.

Intinya, ini kesalahan kolektif kita sebagai bangsa. Ini harus diperbaiki. 
Bagaimana memperbaikinya? Sadarilah bahwa kemerdekaan hakiki baru akan kita 
raih kalau kita merdeka secara ekonomi. Untuk mencapai itu, kita perlu 
teknologi. Dengan teknologi kita bisa mengolah potensi sumber daya alam kita 
menjadi uang. Tapi tentu saja itu pun tak cukup. Kita perlu pengusaha yang mau 
berinvestasi dengan tujuan membangun kemandirian, bukan sekadar untuk 
memperkaya diri. Kita perlu pekerja yang bekerja keras tak sekadar untuk 
memenuhi kebutuhan pribadi.

Ringkasnya, segenap komponen bangsa ini perlu bekerja lebih keras lagi, lebih 
cerdik lagi. Yang sangat penting adalah, kita perlu bekerja untuk membangun 
kemandirian, bukan sekadar bekerja untuk mencukupi kebutuhan dan nafsu pribadi. 
Kita juga membutuhkan pemimpin yang secara serius bekerja untuk kemandirian, 
melalui langkah-langkah nyata dan substansial, bukan untuk pencitraan.

Meninjau keadaan kita sekarang, jalan kita masih sangat panjang untuk mencapai 
kemandirian. Dengan komitmen penuh, strategi yang jitu dan kepemimpinan kuat, 
kita mungkin membutuhkan 25 tahun untuk bisa mandiri. Tanpa 3 hal itu, sampai 
kapan pun kita akan terus begini. Merdeka, tapi tak mandiri.

(mmu/mmu)
hut kemerdekaan ri ke-75






Kirim email ke