Media Inggris: Hati-hati, Jangan Menjadi “Negara Pengikut AS yang Murah”

2020-08-18 14:14:30 http://indonesian.cri.cn/20200818/fdecdac1-8ae6-3e97-40b2-be33acbcdc01.html

Produsen film terkenal Inggris John Pilger menyatakan, Inggris harus berhati-hati pada politik AS terhadap Tiongkok dan menghindari menjadi “negara pengikut AS yang murah” . Hal itu dinyatakannya dalam artikel wawancara oleh Harian Morning Star Inggris baru-baru ini.

Media Inggris: Hati-hati, Jangan Menjadi “Negara Pengikut AS yang Murah”_fororder_美国对话发难英媒1

   John Pilger berpendapat, AS terus-menerus mempersulit Huawei, tujuannya adalah untuk terus mempertahankan status AS sebagai negara adidaya satu-satunya. Sejumlah politikus dan pakar AS sering kali mengkritik Tiongkok sedang menantang “keunggulan” dan “hak” dunia Barat, fitnahan tersebut selalu didukung oleh pemerintah AS. Pilger mengingatkan, Inggeris harus mengabaikan kritikan terhadap Tiongkok dari segi geopolitik, yang hanya mencoreng Tiongkok. Inggris lebih-lebih harus berhati-hati dan menghindari Inggris menjadi “kaki tangan” AS pada masalah Tiongkok.

ASEAN juga menolak permintaan AS untuk mengepung Tiongkok.

Harian Yomiuri Shinbun Jepang hari Sabtu lalu (15/8) menunjukkan, AS bermaksud mengikat Tiongkok dengan masalah Laut Tiongkok Selatan (LTS) dan ingin mengupayakan kerja sama negara-negara terkait. Namun negara-negara ASEAN berpendapat, tugas urgen saat ini adalah merehabilitasi ekonomi yang terdampak Covid-19, dan menghindari memburuknya hubungan dengan Tiongkok.

Media Inggris: Hati-hati, Jangan Menjadi “Negara Pengikut AS yang Murah”_fororder_美国对话发难英媒2

Baru-baru ini, Menlu AS Mike Pompeo mengadakan pembicaraan telepon dengan Menlu negara-negara ASEAN untuk meminta dukungan mereka kepada AS terkait masalah LTS.

Akan tetapi, menurut siaran stasiun televisi nasional, Vietnam adalah ketua bergilir ASEAN dan topik utama pembicaraan itu memfokus  penanganan wabah Covid-19.

Negara-negara dunia diserukan bersama-sama menghadapi krisis

Harian Morning Star menunjukkan, pendirian politik luar negeri mendasar AS adalah memelihara hegemoninya sekaligus memperkukuh sistem hubungan internasional yang menguntungkan ekonomi, diplomasi, kebudayaan dan militer AS. Sedangkan Tiongkok berupaya mendorong kerja sama damai serta kompetisi adil internasional. Tiongkok selalu menentang perang dan mendorong hubungan internasional berkembang secara multipolaris.


 Ulah Anti-Tiongkok Pompeo Selama Kunjungan di Eropa Dikritik
 Tokoh-Tokoh Berbagai Negara

2020-08-18 14:13:10 http://indonesian.cri.cn/20200818/71838a6b-3a27-7077-dbc5-59ca630ed521.html

Menlu AS Mike Pompeo berturut-turut mengunjungi Ceko, Slovenia, Austria dan Polandia pada 11-15 Agustus, dan topiknya tentang  Tiongkok merupakan topik dari awal hingga akhir selama kunjungannya di Eropa Timur dan Tengah kali ini, dia berniat menghasut hubungan Tiongkok dengan negara-negara Eropa Timur dan Tengah, agar menarik berbagai negara Eropa Timur dan Tengah untuk membentuk suatu ‘koalisi anti-Tiongkok’ tipe Perang Dingin.

Akan tetapi, Pompeo gagal mencapai hasil yang diharapkannya, sebaliknya, pertunjukannya yang penuh prasangka ideologi dikritik tokoh-tokoh berbagai negara.

Di Ceko ebagai destinasi pertama kunjungannya kali ini, Pompeo menyampaikan pidato yang penuh pikiran Perang Dingin, dia membicarakan apa yang disebut ‘Ancaman Tiongkok’, tapi Perdana Menteri Ceko Andrej Babis tidak menyambut nada Pompeo yang anti-Tiongkok itu, Babis menyatakan, Ceko adalah suatu negara berdaulat, dan tidak menghadapi ancaman keamanan apapun yang substansial.

Direktur Pusat Penelitian Global Akademi Sains Ceko Marek Hrubec mengatakan, ‘mengenai kebijakan anti-Rusia dan anti-Tiongkok AS itu, mayoritas rakyat dan tokoh kalangan politik negara-negara Eropa Timur dan Tengah tidak akan memberi tanggapan terhadap perkataan kebencian atau kebijakan xenofobia AS, yang dibutuhkan adalah kerja sama.’

Di Slovenia, Pompeo terus memfitnah Tiongkok dengan masalah apa yang disebutnya ‘keamanan    Cyber’, tapi tidak disebut satu katapun tentang penyadapan AS di seluruh dunia.

Mengenai keamanan jaringan 5G, Menlu Austria Alexander Schallenberg menyatakan, kebijakan Austria bukan secara khusus melarang atau membatasi suatu perusahaan, tapi membentuk suatu sistem informasi yang dapat diandalkan.’



Kirim email ke