Kemenlu Tiongkok:


 "Kebebasan dan Keamanan" Hanya Dalih Politikus AS Untuk Menghantam
 Negara Lain

http://indonesian.cri.cn/20200818/d7243ebc-58b8-8d63-29d7-dbcabd5f2e29.html
2020-08-18 14:11:52

Terkait perintah administratif yang ditandatangani oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengenai Tik Tok baru-baru ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian kemarin (17/8) menyatakan, bullying Amerika Serikat tersebut merupakan penyangkalan secara terbuka terhadap ekonomi pasar dan prinsip persaingan adil yang selalu dijunjung tinggi oleh Amerika Serikat, telah melanggar peraturan perdagangan international, sewenang-wenang merugikan kepentingan negara lain,dan pasti akan merugikan kepentingan dirinya sendiri.

Hari Jumat (14/8) lalu, Trump menandatangani perintah administratif untuk mendesak ByteDance melepaskan bisnisnya Tik Tok di Amerika Serikat, sementara menyatakan, adaq bukti yang dapat dipercaya bahwa ByteDance mungkin telah mengambil tindakan yang mengancam keamanan Amerika Serikat. Seputar isu tersebut, jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok itu mengatakan, Tik Tok Amerika Serikat telah merekrut warga Amerika Serikat sebagai pimpinan lapisan tinggi termasuk presiden eksekutifnya. Servernya diletakkan di Amerika Serikat, pusat datanya ditempatkan di Amerika Serikat dan Singapura, tim pengelola telah dilokalisasi sepenuhnya. Tik Tok Amerika Serikat telah merekrut 100 orang warga Amerika Serikat dan berjanji akan meciptakan 1 juta lowongan kerja, dan Tik Tok telah mengumumkan kebijakan pemeriksaan dan kode sumber agroritmanya.

Zhao Lijian mengatakan, “Boleh dikatakan, Tik Tok telah hampir memenuhi segala permintaan Amerika Serikat, tapi tetap tidak bisa luput dari perampasan sejumlah penjahat Amerika Serikat yang mengutamakan kepentingan politik diri sendirinya. Sejumlah politikus Amerika Serikat ingin mematikan Tik Tok tanpa bukti kuat apa apun. Amerika Serikat mengklaim bahwa Tik Tok dan perusahaan lain telah mengancam keamanan Amerika Serikat, tapi laporan evaluasi CIA menunjukkan bahwa tidak ada bukti yang menyatakan Tiongkok telah mencegat data Tik Tok atau menggunakan Tik Tok untuk memasuki telepon genggam para pelanggannya. Think tank terkait Amerika Serikat menyatakan pula bahwa upaya pelarangan aplikasi telepon genggam hanya karena dimiliki  perusahaan Tiongkok sama sekali bukan bertolak dari dalih keamanan. Apa yang disebut kebebasan dan keamanan merupakan dalih sejumlah politikus Amerika Serikat untuk melaksanakan kebijakan kapal perang digital.”

*
*


 Upaya Mike Pompeo untuk Hidupkan Kembali Perang Dingin itu Temui Jalan
 Buntu di Eropa

2020-08-18 11:45:36 http://indonesian.cri.cn/20200818/a6cf632f-3e38-8959-dea6-114cbdd23442.html

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo baru-baru ini mengakhiri kunjungannya ke 4 negara, antara lain Ceko, Slovenia, Austria dan Polandia. Kemana pun dia pergi , dia pasti bawa “virus politik”, dia dalam kunjungannya kali ini juga terus menyebarkan fitnahan kepada partai yang berkuasa di Tiongkok, mengklaim apa yang disebut “ancaman dari Tiongkok”, mencoba membentuk komplotan anti Tiongkok, dan menciptakan suasananya demi penghidupan kembali Perang Dingin yang baru.

Namun, pemerintah sekarang AS sering melukai dan memeras negara sekutunya demi kepentingan dirinya sendiri. Negara-negara Eropa sudah sangat jelas dan pasti tak mau menjadi batu loncatan “America First”. Justru karena itu, meskipun Mike Pompeo dalam kunjungannya kali ini berupaya memfitnah Tiongkok tapi selalu gagal.

Ketika Mike Pompeo memfitnah perusahaan 5G Tiongkok yang mengancam keamanan negara, Perdana Menteri Ceko Andrej Babis menyatakan, kebijakan Austria bukan secara khusus melarang atau membatasi suatu perusahaan, melainkan membangun sebuah sistem informasi yang dapat diandalkan. Ketika Mike Pompeo mencoba menandatangani MoU dengan Ceko tentang Proyek PLTN Dukovany untuk mengesampingkan perusahaan Tiongkok dan Rusia ke luar bidang energi,  Menteri Luar Negeri Ceko Tomas Petricek menolak usulan itu dan menyatakan tindakan itu barangkali akan melanggar ketentuan prosedur terkair Uni Eropa. Ternyata, tidak kokoh saling percaya strategis antara AS dan negara-negara Eropa Timur dan Tengah. Negara-negara Eropa Timur dan Tengah yang mengupayakan kemandirian diplomatik itu tak mau tunduk kepada Pompeo.

Akan tetapi, yang tak boleh dilupakan oleh Mike Pompeo adalah, negara-negara Eropa Timur dan Tengah adalah korban terbesar dalam Perang Dingin antara AS dan Bekas Uni Soviet. Perubahan drastis sistem politik telah mengakibatkan pergolakan dan pemecah-belahan negara-negara Eropa Timur dan Tengah, serta menimbulkan kemunduran parah pembangunan mereka. Sejarah itu sejauh ini masih tetap mengganjal di dalam hati para warga daerah itu, sehingga tidak diharapkan terjadi kembali. Yang paling dibutuhkan mereka adalah kerja sama multilateral. Tiongkok dan negara-negara Eropa Timur dan Tengah dalam sejarah tak pernah terlibat dalam bentrokan geopolitik, pada zaman sekarang ini juga mengadakan kerja sama erat dan memiliki kepentingan bersama di bidang sumber daya, teknologi dan pasar. Di latar belakang ekonomi global melesu dan proteksionisme meningkat, setiap negara Eropa Timur dan Tengah pasti tak ingin kehilangan mitra dagang yang dapat diandalkan seperti Tiongkok.

“Tiongkok bukan lawan melainkan mitra, bukan ancaman melainkan peluang”. Hal itu semakin menjadi kesepahaman di Eropa termasuk negara-negara Eropa Timur dan Tengah. Politikus tak bermoral seperti Mike Pompeo itu terus mengulangi kebohongannya untuk menipu sekutunya, menimbulkan konfrontasi di seluruh dunia, mencoba menghidupkan kembali Perang Dingin, hanya demi kepentingan  dirinya sendiri, sehingga akan menjadi orang yang berdosa dalam sejarah. Masyarakat internasional hendaknya bergandengan tangan untuk melawannya dan dengan tegas membela kepentingan bersama rakyat berbagai negara.

Kirim email ke