Kolom Hikmah
Hijrah ke Negeri Nonmuslim
Ishaq Zubaedi Raqib - detikNews
Kamis, 20 Agu 2020 06:15 WIB
0 komentar
<https://news.detik.com/berita/d-5137665/hijrah-ke-negeri-nonmuslim?tag_from=wp_nhl_10#comm1>
SHAREURL telah disalin
<https://news.detik.com/berita/d-5137665/hijrah-ke-negeri-nonmuslim?tag_from=wp_nhl_10>
Ishaq Zubaedi RaqibFoto: Dokumen pribadi
*Jakarta*-
Naifkah judul tulisan ini ? Secara historic tidak, tapi kesan
semantiknya, bisa jadi iya. Terlebih kalau dikaitkan dengan
"sayup-sayup" hijrah versi sekelompok orang dalam satu dekade terakhir.
Hijrah "yang ini" , banyak melibatkan para sosialita tapi tak di- itba'
oleh mayoritas umat Islam. Bagi kawan-kawan itu, mungkin demikianlah
cara pandang dalam beragama. Namun, hingga sejauh ini, sayup-sayup
tersebut jangan dianggap sebagai madzhab baru dalam beragama. Masih
berupa kecenderungan. Semoga tidak semata trend.
Dalam prakteknya, gerakan ini dimaknai sebagai purifikasi atas (begitu
kesan yang muncul) cara pandang dan bukan terhadap ajaran Islam itu
sendiri. Tapi, sementara kalangan justeru meyakini apa yang mereka anut
merupakan ikhtiar dan jihad (?) untuk "mengislamkan" orang Islam. Atau
paling kurang, begitu cita-cita luhur mereka, untuk lebih mendekatkan
umat pada citra dan cita Islam yang lebih original.
Begitu sampai di titik ini, yakni originalitas ajaran, tiba pula kita
pada permulaan menuju ikhtilaf. Bagi kalangan mujtahid, mujaddid,
mufassir, muhaddits, ulama, idiom ikhtilaf bisa menjadi anugerah dan
rahmat dari Tuhan. Mereka bisa saling mendekat dan bertemu. Rujukannya
Qur'an dan Sunnah. Mereka ahli quran dan ahli sunnah sekaligus. Jarak
mereka belum begitu jauh dari Nabi Muhammad SAW. Dua sumber Islam itu
masih segar dalam ingatan.
Dalam forum, halaqah, daurah, dan majelis, mereka menguji ilmu, mencari
persamaan dan menentukan mufakat. Jika tidak terjadi titik temu, mereka
akan teguh memegang prinsip dan keyakinan serta bersepakat untuk saling
menghormati. Di atas prinsip saling hormat itu, sejak ratusan tahun
silam, telah lahir ratusan madzab dan manhaj dalam Islam. Yang besar
terus bertahan hingga kini seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'ie,
Hambali, Ja'fari, Dzahiri dan lain-lain.
Yang kecil-kecil, jadi rujukan komunitas tertentu di tengah-tengah umat.
Sementara yang lain, pergerakannya samar-samar dalam catatat sejarah.
Begitulah jika para ahli pulang "kembali" kepada Qur'an dan Sunnah.
Menjadi terbalik situasinya jika kalangan awam, yang jauh dari
kualifikasi ahli, mengaku kembali kepada Qur'an dan Sunnah. Dua sumber
Islam itu justeru akan jadi sumber malapetaka bagi mereka. Tanpa ulumul
qur'an, ulumut tafsir , minus ulumur rijal, ilmu musthalahul hadits,
ulumul lughot , badi', ma'ani, balaghah , mereka coba manafsir firman
Allah dan sabda Nabi.
*Bukan 1 Muharram*
Anda bisa membayangkan apa yang akan terjadi ? Bermodal Qur'an dan kitab
hadits terjemahan, mesin pencari data, google dan produk digital
lainnya, mereka berani menetapkan hukum. Bermodal itu juga, mereka
menggiring tetangganya ke neraka dan kelompoknya ke surga. Karena
tindakannya itu, bukannya jama'atul muslimin yang tercipta melainkan
firaqul ummah yang muncul. Pada titik ini, Islam tidak lagi dijadikan
rahmat bagi alam semesta, tapi menjadi sebab perpecahan. Mereka telah
menjelma sumber ikhtilaf dan khilaf sekaligus.
Termasuk ketika menentukan awal-awal bulan dalam kalender "qamariyah" .
Sekian tahun silam, umat sering terpecah akibat beda cara dalam
menetapkan awal bulan. Terutama soal kapan hilal harus disepakati untuk
menentukan awal Syawwal. Beruntung dalam tahun-tahun terakhir, hal yang
sebenarnya bisa disepakati lebih dini itu, kini sudah lebih mudah
diterima oleh umat. Umat mulai berbesar jiwa ; rela bersepakat dalam
ketidaksamaan.
Kini, mari menyadari bahwa 1 Muharram bukanlah tanggal di mana Nabi
Muhammad SAW melakukan hijrah ke Madinah. Muharram sebagai awal tahun
baru bagi kaum muslimin, bukanlah bulan saat Ansor dan Muhajirin,
menyambut Baginda Nabi dan Abu Bakar As Shiddiq tiba ke Yatsrib dari
Mekkah. Hijrah ke Madinah terjadi pada tanggal 1 Rabiul Awwal. Pada
tanggal itulah, Nabi meninggalkan Mekkah.
Tentu karena harus mencari jalan keluar paling aman, Nabi tidak langsung
dan terang-terangan pergi dari Mekkah. Secara sembunyi-sembunyi, Nabi
menjadikan gua Tsur sebagai persinggahan terakhir sebelum hijrah. Itu
dilakukan Nabi pada tanggal 26 Shafar. Nabi tinggal beberapa hari di
dalam gua. Demikianlah yang tercatat dalam sejarah.
*Raja Nasrani*
Setelah Nabi wafat, muncul usulan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender
Islam. Ada yang usul tahun kelahiran Nabi SAW sebagai awal penanggalan
Islam. Ada yang usul tanggal wafat Nabi sebagai patokan. Akhirnya, pada
tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khattab menyepakati salah satu
usulan Sahabat dan menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah
tahun di mana Nabi SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah.
Tapi itu bukan hijrah pertama dalam Islam. Hijrah pertama yang dirancang
Nabi untuk menyelamatkan umat Islam, justeru dilakukan ke negeri
nonmuslim. Kerajaan Kristen. Rajanya Nasrani. Jika kaum muhajirin
disambut saudara se-iman kaum Ansor Madinah, para sahabat di hijrah
pertama malah datang ke negeri yang sama sekali tidak mengenal Islam.
Menurut riwayat, pembesarnya justeru terlibat persekutuan dagang dengan
pembesar Qurasy.
Hijrah ini terjadi di awal kemunculan Islam, sekitar tahun 613 atau 615
Masehi. Umat Islam terpaksa mengungsi ke wilayah Abisinia untuk
menghidar penindasan kaum Quraisy Mekkah. Pada masa itu di wilayah
Abisinia berdiri Kerajaan Aksum yang beragama Kristen yang menguasai
wilayah Etiopia dan Eritrea saat ini. Penguasa Kerajaan Aksum dikenal
dengan gelar Negus yang bernama Ashama bin Abjar.
Dalam Sirah-nya, sejarawan besar Ibnu Ishaq mencatat ; ketika Rasulullah
SAW melihat penderitaan para sahabat, dia berkata kepada mereka : "Jika
kamu pergi ke Abisinia (akan lebih baik bagimu) karena penguasa di sana
tidak akan mentolerir ketidakadilan dan itu adalah negeri yang
bersahabat, hingga waktunya Allah membebaskan kalian dari kesulitan yang
kalian hadapi sekarang."
*Putri Nabi ke Negeri Kristen*
Sebagian sahabat pergi ke Abisinia karena kuatir menjadi murtad akibat
penindasan. Mereka takut berpaling dari Tuhan dan kembali ke agama nenek
moyang mereka. Inilah hijrah pertama dalam Islam. Peristiwa hijrah ke
Abisinia ini terjadi dalam beberapa gelombang. Menurut Ibnu Ishaq,
gelombang pertama terdiri atas 11 laki-laki dan 4 perempuan.
Di antaranya Sa'ad bin Abi Waqqas, Utsman bin Affan isterinya yang juga
putri Nabi, Ruqayyah. Abu Hudzaifah dan isterinya Sahlah binti Suhail.
Lalu Zubair bin Awwam, Mush'ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Abdullah
bin Abdul-Asad dan isteri Ummu Salama, Utsman bin Mazh'un, Amir bin
Rabiah dan isteri Layla. Rombongan ini dipimpin sepupu Nabi, yaitu
Ja'far bin Abi Thalib.
Mereka adalah cikal bakal As Sabiquunal Awwalun --kelompok orang dan
keluarganya yang pertama-tama menerima Islam. Merekalah citra dan cita
pertama originalitas nilai-nilai Islam. Demi terjaga, terlindungi, dan
terpeliharanya tunas-tunas Islam itu, Nabi SAW memilihkan daerah yang
aman bagi mereka, yaitu di kerajaan Kristen dan raja nonmuslim tapi
adil. Hijrah meniscayakan keadilan dalam keyakinan, pikiran dan tindakan !
*Selamat*
*Tahun Baru Hijriyah 1442*
**
**
*Ishaq Zubaedi Raqib*
**
/Pembina Pengajian "Al Mawaidz Al Ushfuriyah" Masjid An Nur, Cileungsi,
Bogor,-/
/*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel
menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--/
*(erd/erd)*