*Ga*rang, bero*tot*, tetapi *Gagal Total*...?

Op ma 24 aug. 2020 om 17:11 schreef 'j.gedearka' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>:

>
>
>
>
> --
> j.gedearka <[email protected]>
>
> https://mediaindonesia.com/read/detail/338846-jenderal-gatot
>
> Senin 24 Agustus 2020, 03:59 WIB
>
> Jenderal Gatot
>
> Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group | Opini
>
>   Jenderal Gatot Dok.MI Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
> BAIKLAH sejujurnya saya katakan, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot
> Nurmantyo, sepertinya kepingin menjadi presiden. Apakah ada yang
> keterlaluan di situ? Dari kedudukannya sebagai panglima TNI, berkeinginan
> menjadi presiden, kiranya bukan impian yang terlalu tinggi. Bandingkanlah
> dengan seorang pedagang mebel di Solo, yang kemudian menjadi presiden.
> Bedanya teramat jauh. Akan tetapi, Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi
> presiden, nyatanya malah menjadi presiden. Apakah Gatot akan sampai menjadi
> presiden? Sejauh ini tidak ada trajectory yang dapat dijadikan rujukan
> untuk menjadi presiden. Bung Karno menjadi presiden tak dapat diulangi oleh
> siapa pun, karena tak ada di antara kita yang kepingin dijajah kembali,
> lalu terbuka kemungkinan untuk menjadi proklamator. Celakalah mereka yang
> ingin Indonesia dijajah kembali, untuk kemudian berpidato di pengadilan
> kolonial, Indonesia Menggugat. Celakalah juga orang yang menginginkan
> terjadi kembali peristiwa seperti 30 September 1965, sehingga terkuak
> munculnya seorang jenderal, The Smiling General, yang bahkan menjadi
> presiden 32 tahun. Siapa pula yang kita izinkan untuk meniru berkuasa
> seperti itu dan selama itu, lalu ditumbangkan setelah enam kali dipilih
> kembali menjadi presiden di masa Orde Baru? Seorang Habibie hanya menjadi
> presiden akibat tumbangnya Pak Harto. Sebuah kenyataan sejarah,
> pertanggungan jawabnya sebagai presiden ditolak MPR. Siapa yang bisa
> membantah bahwa Gus Dur menjadi presiden lebih merupakan keberuntungan
> sejarah? Akan tetapi, ketika dia ditumbangkan MPR, kenyataan itu tak boleh
> disimpulkan sebagai kemalangan sejarah. Tumbangnya Gus Dur dan naiknya
> Megawati menjadi presiden memperkuat riwayat di puncak ketatanegaraan
> berisi tragedi. MPR ialah lembaga tertinggi negara yang kerjanya
> menumbangkan presiden. Itu menimpa Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur. Cukup
> sampai di situ. Setelah presiden dipilih langsung oleh rakyat, sesungguhnya
> MPR kehilangan legitimasi moral politik untuk menumbangkan presiden. Barang
> siapa berpikir untuk menumbangkan presiden, termasuk dengan bahasa gagah
> berani people power, baiklah yang bersangkutan menimbang dirinya, tidakkah
> gerangan telambat lahir? Amien Rais tergolong lahir tepat waktu. Akan
> tetapi, Amien Rais pun gagal menjadi presiden. Kini saya percaya impiannya
> untuk menjadi presiden telah terkubur dalam-dalam.Tentu saja saya dapat
> berspekulasi, seandainya Megawati tidak mengangkat kembali SBY menjadi
> menkopolkam, yakni setelah Gus Dur menyingkirkannya dari kabinet,
> barangkali biografi SBY berisi perjalanan hidup yang berbeda. Akan tetapi,
> kajian berwatak post-factum macam itu tidak banyak gunanya. Dibolak balik
> dari segala arah, trajektori untuk menjadi presiden RI tetap saja
> perjalanan yang tak terpetakan. Yang sudah pasti hanya partai politik atau
> gabungan partai politik yang punya kursi di DPR yang punya hak
> konstitusional untuk mengusung calon presiden. Deklarasi KAMI di Tugu
> Proklamasi terlalu dini untuk dinilai, apakah bakal layu sebelum
> berkembang. Kiranya bukan kesimpulan kepagian untuk mengatakan bahwa dia
> bukan kendaraan untuk siapa pun menjadi presiden. Seandainya pun dia
> menjadi partai politik, lalu berhasil duduk di DPR hasil Pemilu 2024, baru
> pada Pilpres 2029, dia dapat turut mencalonkan presiden. Untuk sementara
> paling menjadi penggembira. Tentu saja seorang warga negara bernama
> Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo berhak membayangkan dirinya menjadi
> presiden. Semoga itu baik bagi kesehatannya. Sebaliknya, saya pun sebagai
> warga negara pembayar pajak, berhak memiliki bayangan, tentang seorang
> mantan Panglima TNI yang dengan jiwa kejuangannya menjaga dan memelihara
> dirinya sebagai seorang perwira yang layak diteladani. Ada perbedaan serius
> menjadi menteri dibanding menjadi Panglima TNI. Menjadi menteri ialah
> kedudukan yang sepenuhnya diangkat presiden. Statusnya pembantu presiden.
> Menjadi Panglima TNI setelah mendapat persetujuan DPR. Sebuah posisi sangat
> terhormat mendapat mandat dari negara, bukan semata dari pemerintah. Apakah
> seorang mantan Panglima TNI berhak menjadi oposisi? Bukankah dia telah
> menjadi warga negara (biasa)? Tentu saja dia berhak. Ketika seorang mantan
> Panglima TNI berbicara, bersuara, kiranya punya gaung yang berwibawa. Dia
> punya self-respect. Bukan malah menimbulkan penilaian, sang mantan panglima
> mengidap sindrom, setelah tak berkuasa. Seiring dengan penilaian itu,
> hilang rasa hormat. Tak banyak mantan Panglima TNI yang dapat dipakai
> sebagai rujukan generasi penerus. Di antara yang sedikit itu ialah Jenderal
> LB Moerdani. Begitu selesai serah terima jabatan Panglima ABRI kepada
> Jenderal Try Sutrisno, Jenderal Benny langsung memberi hormat kepada
> Jenderal Try Sutrisno, mantan bawahannya. Di dalam kabinet setelah Pemilu
> 1992, Pak Harto menyingkirkan Benny Moerdani. Penulis riwayat hidupnya,
> Julius Pour, memberi judul bukunya yang kedua, Benny: Tragedi Seorang
> Loyalis. Benny tersingkir, namun tak sepotong pun pernah di media masa
> meluncur kata-katanya mengkritik Pak Harto, terlebih suara seorang yang
> sakit hati. Benny contoh sejatinya seorang perwira. Gatot? Anda mungkin
> punya penilaian yang lebih bijak. Silakan.
>
> Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/338846-jenderal-gatot
>
> 
>

Kirim email ke