-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1695698/dikabarkan-merugi-ini-respons-pertamina



Dikabarkan merugi, ini respons Pertamina

Sabtu, 29 Agustus 2020 17:03 WIB

Dokumentasi - Dua pekerja Pertamina melakukan pemeriksaan pipa bertekanan di 
area Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong, Tompaso, Minahasa, 
Sulawesi Utara, Senin (26/9/2016). ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/ama/aa.
Jakarta (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) mengalami kerugian sekitar Rp11 
triliun pada semester I-2020, namun perusahaan migas plat merah tersebut 
menanggapi bahwa kinerjanya tengah menunjukkan tren positif.

"Salah satu shock yang dialami pada masa pandemi Covid-19 adalah penurunan 
permintaan (demand) BBM, namun seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan 
pergerakan perekonomian nasional, tren penjualan Pertamina pun mulai merangkak 
naik. Kinerja kumulatif Juli juga sudah mengalami kemajuan dan lebih baik dari 
kinerja kumulatif bulan sebelumnya,” ujar Fajriyah Usman, Vice President 
Corporate Communication Pertamina di Jakarta, dalam keterangan tertulis yang 
diterima Antara, Sabtu.

Menurut Fajriyah, periode Februari hingga Mei 2020 merupakan masa-masa terberat 
Pertamina dengan volume demand yang terus mengalami penurunan tajam akibat 
pandemi Covid-19, bahkan saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), 
penurunan demand di kota-kota besar mencapai lebih dari 50 persen. Ditambah 
penurunan pendapatan di sektor hulu, total pendapatan Pertamina, yang tercantum 
dalam Laporan Keuangan unaudited Juni 2020, turun hingga 20 persen.

Baca juga: Anggota DPR: Banyak faktor sebabkan Pertamina merugi

Fajriyah juga menyampaikan dengan penurunan pendapatan yang signifikan, maka 
laba juga turut tertekan. Pada pada Januari 2020, Pertamina masih membukukan 
laba bersih positif 87 juta dolar As. Namun memasuki 3 bulan selanjutnya, mulai 
mengalami kerugian bersih rata-rata 500 juta dolar As per bulan.

Untuk mengatasi kondisi ini, lanjut Fajriyah, manajemen Pertamina telah 
berhasil menjalankan strategi dari berbagai aspek baik operasional maupun 
finansial, sehingga laba bersih pun beranjak naik sejak Mei sampai Juli 2020 
dengan rata-rata sebesar 350 juta dolar setiap bulannya. Pencapaian positif ini 
akan terus mengurangi kerugian yang sebelumnya telah tercatat.

"Mulai Mei berlanjut Juli, dan ke depannya, kinerja makin membaik. Dengan laba 
bersih (unaudited) di Juli sebesar 408 juta dolar, maka kerugian dapat ditekan 
dan berkurang menjadi 360 juta dolar atau setara Rp5,3 triliun. Dengan 
memperhatikan trend yang ada, kami optimistis kinerja akan terus membaik sampai 
akhir tahun 2020,” katanya.

Baca juga: Pengamat : Rencana IPO Pertamina harus dikaji ulang

Selain itu, kinerja laba operasi dan EBITDA juga tetap positif, sehingga secara 
kumulatif dari Januari sampai dengan Juli 2020 mencapai 1,26 miliar dolar dan 
EBITDA sebesar 3,48 miliar dolar. Hal ini menunjukkan bahwa secara operasional 
Pertamina tetap berjalan baik, termasuk komitmen Pertamina untuk menjalankan 
penugasan dalam distribusi BBM dan LPG ke seluruh pelosok negeri serta 
menuntaskan proyek strategis nasional seperti pembangunan kilang.

"Tentu saja, perbaikan kinerja tidak semudah membalikkan tangan, perlu proses 
dan perlu waktu. Sekarang ini, sudah terlihat dengan kerja keras seluruh 
manajemen dan karyawan, kinerja Pertamina mulai pulih kembali," katanya.

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020





Kirim email ke