Mengapa Diskriminasi Ras Menjadi Impian Buruk Masyarakat AS?

2020-09-01 15:42:41 http://indonesian.cri.cn/20200901/6fc48645-650e-5a3c-2a4f-976bd08a8aff.html

Selama beberapa hari terakhir, kegiatan protes yang menentang diskriminasi ras terus berkobar di Amerika Serikat. Pada 29 Agustus waktu setempat, ribuan demonstran turun ke jalan untuk melakukan unjuk rasa damai di Kenosha, mengimbau keadilan dan kesetaraan kepada Jacob Blake, pria Afro-Amerika tertembak luka oleh polisi belum lama lalu. Rapat peringatan genap 57 tahun penyampaian pidato Martin Luther King tentang protes damai digelar di Washington pada 28 Agustus. Putra sulung Martin Luther King tampak hadir di rapat peringatan yang dihadiri puluhan ribu demonstran yang menentang diskriminasi ras. Ia terus terang mengatakan, AS, alih-alih berubah menjadi apa yang diharapkan ayahnya, malah tertidur dalam “impian buruk” yang mengerikan.

Sejak 2016, arus supremasi kulit putih kembali melonjak. Demonstrasi sayap kanan ekstrem Charlottesville beserta tindakan teror yang terjadi pasca demonstrasi pada 2017 telah menyaput bayangan gelap pada hubungan antar ras di AS.

Dalam kondisi tersebut, fenomena diskriminasi ras yang terjadi bidang penegakan hukum dan praktek kehakiman di AS menjadi semakin memburuk. Hak asasi manusia pokok etnis-etnis minoritas kerap kali dilanggar secara sewenang-wenang. Duta khusus PBB untuk urusan diskriminasi ras dan gejala xenephobia menunjukkan, pembunuhan dan penganiayaan brutal warga keturunan Afrika oleh pihak otoritas penegak hukum AS sangat menonjol, apalagi para oknum yang terlibat kasus pembunuhan jarang diadili atau diusut tanggung jawabnya. Tingkat ketahanan orang dewasa keturunan Afrika lebih tinggi 5,9 kali lipat ketimbang kelompok kulit putih.

Penyebaran wabah virus corona telah memperburuk ketidaksetaraan antar ras di masyarakat AS.

Sejalan dengan memburuknya hubungan antar ras, kejahatan terkait kebencian terus bertambah dan pemecah belahan sosial semakin melebar. Sebuah survei menunjukkan, di antara 14 negara maju, hampir 80 persen responden berpendapat bahwa masyarakat AS sekarang cenderung lebih terpisah ketimbang masa sebelum terjadi pandemi COVID-19. Kesemua itu terjadi karena kewalahan para politikus AS yang bertindak semau-maunya.

Di panggung politik AS yang didominasi Partai Republik dan Partai Demokrat, pertarungan antara kedua partai tersebut sudah dipandang fenomena yang normal, di mana masing-masing pihak merampas segala sesuatu demi kepentingan dirinya sendiri, namun jarang memberikan respons yang tepat dalam penanganan masalah ras domestik.

Kenyataannya ialah kelompok kulit putih selalu berperan dominan dalam kekuasaan AS. Diskriminasi sistematis yang dilakukannya terhadap kelompok etnis lainnya merupakan simbol identik yang menandai pertentangan antar ras di AS. Tumor rasialisme di AS tersebut tak kunjungan disembuhkan, malah terus membengkak di tengah bentrokan dan kekerasan yang terus meningkat, sehingga warga keturunan etnis minoritas semakin sengsara dan “tersesak nafasnya”.



 J*ubir Kemenlu Tiongkok Bantah Perkataan Pompeo Seputar Tiongkok*

http://indonesian.cri.cn/20200901/30f239b9-20d7-b7b6-faea-3ec36a1d1867.html
2020-09-01 12:04:56

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian hari Senin kemarin (31/8) di Beijing sekali lagi membantah perkataan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo seputar Tiongkok. Ditunjukkan oleh Zhao Lijian bahwa Pompeo hendaknya becermin agar memeriksa diri sendiri bahwa mengapa AS mundur dari Persetujuan Paris.

Menanggapi perkataan Pompeo yang menyebut Tiongkok bertanggung jawab atas sekitar 30% polusi plastik, Zhao Lijian mengatakan, “pemerintah Tiongkok menaruh perhatian besar pada pelestarian lingkungan, dan mencantumkan pembangunan peradaban ekologi ke dalam rancangan keseluruhan usaha sosialisme berkarakteristik Tiongkok, dan memandang lingkungan ekologi yang baik sebagai kesejahteraan rakyat yang paling besar, dengan sekuat tenaga mendorong pembangunan hijau, karbon rendah dan perkembangan berkelanjutan, dengan sungguh-sungguh menjalani 3 rencana aksi seputar pencegahan polusi udara, air dan tanah, dan mencapai prestasi yang menonjol. Pada aspek internasional, Tiongkok dengan seksama melaksanakan kewajiban yang ditetapkan dalam Konvensi Kerangka Perubahan Iklim PBB, Persetujuan Paris dan Konvensi Minamata Seputar Merkuri, agar berkontribusi aktif demi pengelolaan lingkungan global. ”

Zhao Lijian mengatakan bahwa tahun 2018 emisi karbon dioksida per unit PDB Tiongkok menurun 45,8% dibandingkan tahun 2005, atau setara dengan mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 5,26 miliar ton. Tiongkok adalah negara yang menanam modal terbesar di bidang energi terbarukan, jumlah mobil yang menggunakan energi baru mencapai lebih dari 50% di seluruh dunia. Jauh pada tahun 2008, Tiongkok sudah menjalani peraturan pembatasan penggunaan kantong plastik, dengan sekuat tenaga mendorong daur ulang plastik bekas. Terhitung hingga akhir tahun lalu, taraf pemrosesan bebas polusi terhadap sampah kehidupan di kota-kota seluruh negeri mencapai sekitar 99%.

“Sementara melihat AS, sebagai negara dengan volume akumulasi emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, AS menolak meratifikasi Protokol Kyoto, juga mundur dari Persetujuan Paris, dan menyangkal kewajiban pengurangan emisi dirinya, secara tuntas terisolasi dari sistem dan peraturan emisi karbon global, dengan serius menghalangi berbagai prosedur seputar pengurangan emisi global serta pembangunan hijau dan karbon rendah. Ditambah lagi bahwa sebagai negara pengekspor sampah padat dan negara konsumsi plastik per kapita terbesar di dunia, AS tolak Konvensi Basel, agar meletakkan rintangan bagi prosedur pengelolaan sampah plastik global, dan memindahkan sampah dalam jumlah besar ke negara-negara berkembang, dengan serius mengancam lingkungan setempat dan global. Saya pikir masyarakat internasional sudah sangatlah jelas bahwa siapalah yang paling meremehkan lingkungan dan kesehatan rakyat global,” tutur Zhao.


Kirim email ke