Wang Yi Ungkapkan 6 Hal Yang Perlu Diusahakan Tiongkok-Eropa
http://indonesian.cri.cn/20200902/5ea6c79f-761c-45ed-290d-257a2884762c.html
2020-09-02 12:55:00
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Jerman
Heiko Maas menghadiri jumpa pers bersama di Berlin, pada 1 September
kemarin.
Ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai apa harapannya Tiongkok
mengenai hubungan Tiongkok-Eropa dan kerjasama kedua pihak pada tahap
selanjutnya?
Wang Yi mengatakan, tahun ini genap 45 tahun penggalangan hubungan
diplomatik Tiongkok-Uni Eropa (UE), juga merupakan tahun pertama
beroperasinya pimpinan baru UE, serta tahun penting bagi Jerman yang
kembali menjabat sebagai ketua negara bergilir UE. Dalam situasi dewasa
ini, hubungan Tiongkok-UE menghadapi peluang penting yang berkembang
lebih lanjut. Ke depan, kedua pihak hendaknya berupaya melakukan 6 hal
sebagai berikut:
*Pertama, *menyelenggarakan pertukaran tingkat tinggi Tiongkok-Eropa dan
menunjukkan arah perkembangan kerjasama kedua pihak.
*Kedua, *menyelesaikan perundingan persetujuan investasi Tiongkok-Eropa.
Perundingan itu sudah dijalankan sampai tahap terakhir. Kedua pihak
hendaknya meningkatkan investasi, dan mengambil keputusan politik pada
waktu yang diperlukan, selekasnya menyelesaikan masalah peninggalan
sejarah dan menjamin penyelesaian perundingan tepat pada waktunya.
*Ketiga, *selekasnya menandatangani Rancangan Strategis 2025 Kerjasama
Tiongkok-Eropa. Rancangan Strategis 2020 akan berakhir masa berlakunya.
Kedua pihak hendaknya menyusun rancangan kerjasama lima tahun yang baru,
untuk menyediakan cetak biru dan kerangka demi dialog dan kerjasama
Tiongkok-Eropa.
*Keempat,* membina kemitraan hijau Tiongkok-Eropa. Kedua pihak harus
dengan teguh tak tergoyahkan mendorong kerjasama internasional untuk
mengantisipasi perubahan iklim, dan mengambil aksi baru demi target ini.
Tiongkok lebih awal dua tahun sudah mewujudkan komitmen pengurangan
emisi pada tahun 2020, sekarang kami sedang menjajaki target jangka
menengah dan panjang. Kedua pihak harus saling mendukung dan
menyelenggarakan berbagai konsultasi penting mengenai perubahan iklim
dan keanekaragaman hayati yang digelar Tiongkok dan Eropa masing-masing
pada tahun depan.
*Kelima,* hendaknya meningkatkan kerjasama ekonomi digital. Tiongkok dan
Eropa masing-masing memiliki keunggulan dalam bidang ekonomi digital dan
juga mempunyai keprihatinan bersama. Kita harus tetap membuka pasar
secara satu sama lain, meningkatkan kerjasama di sektor teknologi,
mendorong penyusunan standar dan kriteria di bidang digital global.
*Keenam, *meningkatkan dukungan pada lembaga multilateral. Bersama-sama
mendukung peranan dominan PBB, khususnya Dewan Keamanan dalam memelihara
perdamaian dan keamanan dunia, mempercepat pelaksanaan agenda
pembangunan berkelanjutan tahun 2030. Memelihara nilai inti dan prinsip
pokok WHO, dan selekasnya memilih dirjen yang baru. Mendukung WHO
memainkan peran dominan dan koordinasi, serta membantu berbagai negara
selekasnya mengatasi dampak wabah virus corona.
Presiden Jerman Temui Wang Yi
http://indonesian.cri.cn/20200902/2bbcef2a-a45c-8b8e-2fa0-36eb3109aa61.html
2020-09-02 12:54:22
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier hari Selasa kemarin (1/9) di
Berlin mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang
Yi. Kedua pihak mengadakan pembicaraan bersahabat.
Steinmeier menekankan Jerman selalu mementingkan hubungan dengan
Tiongkok, bersedia memelihara dan memperdalam hubungan yang lebih erat
dengan Tiongkok dalam jangka panjang. Ini adalah sangat penting di bawah
situasi internasional yang tegang pada saat ini. Jerman menegaskan
kembali pihaknya akan terus berpegang teguh pada prinsip Satu Tiongkok,
sementara meneruskan multilateralisme dalam urusan internasional, tidak
mendukung apa yang disebut pelepasan hubungan, tidak menginginkan dunia
jatuh dalam jurang pemecah belahan dan konfrontasi.
Wang Yi menyampaikan salam Presiden Xi Jinping kepada Steinmeier. Ia
menyatakan, di tengah tatanan baru pengendalian wabah di seluruh dunia,
kunjungannya ke Jerman dan Eropa kali ini menunjukkan Tiongkok
mementingkan hubungan Tiongkok-Jerman dan hubungan Tiongkok-Eropa.
Tiongkok bersedia berupaya bersama Jerman dan Eropa untuk mempersiapkan
agenda penting pada tahap selanjutnya. Pada satu pihak, Tiongkok akan
meningkatkan kerja sama internasional dalam perlawanan wabah, termasuk
uji coba dan pemasaran vaksin virus corona, pada pihak lain, Tiongkok
memprakarsai dan mempraktekkan multilateralisme di panggung
internasional, menentang kegiatan hegemonis, memelihara patokan pokok
hubungan internasional dan memelihara keadilan internasional.
Kedua pihak juga bertukar pendapat mengenai situasi internasional serta
masalah-masalah yang mengundang perhatian bersama Tiongkok dan Jerman.
Kemenlu Tiongkok Minta Mike Pompeo Yang Tidak Tahu Malu itu “Becermin”
lah!
http://indonesian.cri.cn/20200902/d62c1ac9-3df3-d07b-a98b-a4d792ec2cff.html
2020-09-02 12:49:51
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo baru-baru ini memfitnah Tiongkok
mengembangkan perekonomian dengan mengabaikan pelestarian lingkungan.
Menanggapi fitnahan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri
Tiongkok menganjurkan Mike Pompeo agar “becermin” secara teliti.
Masyarakat yang menaruh perhatian pada ekonomi Tiongkok pasti tahu bahwa
“pembangunan hijau” adalah inti sari dari pembangunan berkualitas tinggi
yang ditargetkan pemerintah Tiongkok. Pada tahun-tahun terakhir ini,
emisi polutan utama di Tiongkok terus menurun, di mana ekosistemnya
telah mengalami perbaikan signifikan. Pada 2018, emisi karbon dioksida
per unit PDB Tiongkok menurun sebesar 45,8 persen dibanding tahun 2005.
Terhitung hingga akhir 2019, tingkat pemrosesan tak berbahaya sampah
kehidupan di kota-kota besar Tiongkok mencapai 99 persen. Dilihat dari
tatanan internasional, Tiongkok selalu dengan sungguh-sungguh
melaksanakan Konvensi Perubahan Iklim PBB (UNFCCC), Perjanjian Paris dan
Konvensi Basel yang mengatur perpindahan limbah B3 (Bahan Beracun dan
Berbahaya). Tiongkok patut disebut negara yang menanam modal terbanyak
terhadap energi terbarukan, dan telah memberikan kontribusi positif bagi
pembenahan lingkungan global.
Mantan Koordinator PBB untuk Tiongkok, Nicholas Rosellini memuji
Tiongkok telah memainkan peranan penting dalam pelaksanaan Perjanjian
Paris, dan Tiongkok telah mencapai kemajuan signifikan dalam
pengembangan ekonomi hijau.
Mike Pompeo sengaja menutup matanya terhadap implementasi pedoman
pembangunan hijau yang dilakukan Tiongkok maupun apresiasi masyarakat
internasional terhadap Tiongkok yang telah secara jujur menunaikan
kewajibannya, malah nekat mencoreng Tiongkok, tindakannya benar-benar
tidak terpuji. Sebagai negara besar emisi gas rumah kaca, AS pada Juni
2017 mengumumkan penghentian pelaksanaan Perjanjian Paris, menyangkal
kewajiban pengurangan emisi kuantatif sehingga dengan serius menghalangi
proses pengurangan emisi serta pembangunan rendah karbon secara global.
AS adalah negara terbesar dalam pembuangan limbah padat, namun justru
negeri inilah yang mengalihkan limbah dan sampahnya ke negara-negara
berkembang dalam jumlah besar, dengan dirinya berfoya-foya menikmati
lingkungan bersih tanpa menghiraukan malapetaka lingkungan yang
dilimpahkannya kepada negara lain. Tingkah laku jelek AS tersebut telah
mengakibatkan bencana terhadap ekosistem global. Akan tetapi, Mike
Pompeo sepertinya sama sekali tidak peduli, malah balik menyerang negara
lain yang telah memberikan kontribusi dalam pembangunan hijau. Apa yang
dilakukan Mike Pompeo sudah semakin menjelekkan reputasi AS di dunia
internasional.
Pada hal tidak hanya di bidang pelestarian lingkungan, pemerintah AS
telah berkali-kali melakukan manipulasi terhadap semua perjanjian
internasional atau organisasi internasional, antara lain, Dewan HAM PBB,
WHO dan perjanjian nuklir Iran. Mereka melakukan segala tindakan ibarat
pengkhianat dan berjalan semakin jauh di perjalanan “amoral”. Yang lucu
ialah Mike Pompeo dan sejumlah pengikutnya malah dengan sikap sombong
berlagak selaku “juru bicara masyarakat internasional” dan berulang kali
mementaskan lelucon politik yang konyol dan menjijikkan.