*Mimpi itu biasanya dialami pada waktu tidur di malam hari, setelah bangun tidur apa yang dimimpikan. Tidak ada orang yang bisa melarang orang lain untuk bermimpi, jadi monggo-monggo tuan Luhut & Co bermimpi. Tetapi apakah tuan Luhut & Co tidak lebih baik bertanya mengapa negeri seperti Tiongkok, Jepang, Taiwan, Korea, Selatan, Singapura bisa maju di berbagai bidang ilmu pengetahuan, perindutian dan ekonomi. *
On Fri, Sep 11, 2020 at 8:34 AM ChanCT [email protected] [nasional-list] <[email protected]> wrote: > > > https://pinterpolitik.com/luhut-dan-mimpi-ala-tiongkok-1 > Luhut dan Mimpi ala Tiongkok > > > A43 <https://pinterpolitik.com/author/a43-162>- Tuesday, September 8, > 2020 21:30 > > > > > > *Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut > Binsar Pandjaitan. (Foto: Antara)* > > *8 min read* > *Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut > Binsar Pandjaitan sebut bahwa dirinya memiliki mimpi besar terkait masa > depan Indonesia. Bagaimanakah mimpi ini diterjemahkan dalam arah kebijakan > dan politik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com <http://pinterpolitik.com/>* > > “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia” – Nidji, grup band asal > Indonesia > > Siapa yang tidak pernah nonton film *Laskar Pelangi* (2008) yang > disutradarai oleh Riri Riza? Film Indonesia satu ini sampai menjadi populer > di banyak negara. Berbagai festival film juga menayangkan film tersebut. > <<Laskar Pelangi>> 2008 *https://www.youtube.com/watch?v=1txK-mYB4XA > <https://www.youtube.com/watch?v=1txK-mYB4XA>* > > Film yang didasarkan pada novel dengan judul yang sama ini mengisahkan > sekelompok anak Belitung yang mengenyam pendidikan di sebuah sekolah kecil. > Bahkan, sebagian dari mereka harus berjuang guna berangkat menuju sekolah.. > > Mungkin, bisa dibilang, kehidupan mereka tidak seperti yang diimpikan oleh > banyak orang. Namun, banyak pihak menilai film itu mengajari kita untuk > terus berjuang dan bermimpi akan masa depan yang lebih baik. > > Tidak hanya film tersebut, pesan yang senada juga diungkapkan dalam film > lanjutannya yang berjudul *Sang Pemimpi* (2009). Film tersebut > mengisahkan anak-anak yang sama ketika mengenyam pendidikan di tingkat > lebih lanjut. > > Boleh jadi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko > Marves) Luhut Binsar Pandjaitan pernah menonton dua film tersebut. > Pasalnya, mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut menyebutkan bahwa > dirinya memiliki mimpi besar terhadap masa depan Indonesia. > > Dalam sebuah *wawancara > <https://asiatimes.com/2020/09/man-with-the-plan-for-a-richer-indonesia/>* > yang dilakukan oleh John McBeth dari Asia Times, Luhut menyatakan bahwa > Indonesia suatu hari nanti akan menjadi negara yang kuat dan kaya. Tulisan > tersebut juga menyebutkan sejumlah upaya Menko Marves untuk menggapai mimpi > tersebut. > > Beberapa di antaranya adalah dengan mendorong pembangunan *smelter* yang > mengolah bijih nikel. Pemerintah Indonesia memang dinilai tengah berusaha > membatasi ekspor bijih nikel mentah – dengan menerapkan sejumlah larangan > ekspor mineral mentah. > > Selain itu, Luhut juga disebut tengah mendorong pembangunan industri mobil > listrik dan pembangkit listrik. Beberapa investasi proyek juga dikabarkan > telah disepakati dengan berbagai perusahaan dari sejumlah negara, seperti > Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Korea Selatan (Korsel). > > Meski begitu, bukan tidak mungkin, mimpi yang diungkapkan Luhut untuk > Indonesia ini memiliki pengaruh terhadap arah kebijakan dan politik > pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Lantas, bagaimana mimpi Luhut dapat > berdampak pada Indonesia? Kemudian, bagaimana caranya pemerintah mewujudkan > mimpi tersebut? > *American Dream* > > Setiap orang pasti memiliki mimpi, entah itu rakyat biasa atau pejabat > pemerintahan. Namun, mimpi juga dapat menjadi komponen penting dalam > kehidupan, termasuk dalam kehidupan politik dalam berbangsa dan bernegara.. > > Mimpi akan kesuksesan dan kemajuan di masa depan seperti ini bisa kita > amati di Amerika Serikat (AS). Negara adidaya ini kerap dikenal sebagai > tanah kebebasan bagi siapa saja yang memiliki mimpi. > > Terdapat sebuah istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan bagaimana > mimpi dijunjung tinggi di AS. Istilah tersebut dikenal sebagai “*American > Dream*”. > > Pada umumnya, mimpi ala AS ini menekankan pada pemahaman bahwa negara > Paman Sam merupakan tempat di mana kesempatan yang setara melimpah bagi > siapa saja yang mau meraihnya. Kesuksesan personal disebut dapat digapai > dengan usaha dan kemauan yang keras. > > Setidaknya, pemahaman itulah yang diungkapkan oleh Mark Robert Rank, > Thomas A. Hirschl, dan Kirk A. Foster dalam *buku mereka > <https://books.google.co.id/books?id=WszQAgAAQBAJ&source=gbs_navlinks_s>* yang > berjudul *Chasing the American Dream*. Mimpi ala AS ini menekankan pada > konsep petualangan (*journey*) atas suatu negara maupun kehidupan > seseorang. > > Konsep mimpi ala AS ini juga sebenarnya berakar dari identitas kebangsaan > yang ditanamkan oleh pemikir-pemikir AS di masa lampau. Salah satunya > adalah James Truslow Adams yang menjadi pencetus istilah tersebut pada > tahun 1931. > > Adams menempatkan konsep ini sebagai nilai yang sentral terhadap identitas > nasional AS. Nilai kebebasan yang dibawa oleh *American Dream* setidaknya > membedakan negara Paman Sam dengan peradaban-peradaban lainnya. > > Mimpi ala AS ini dianggap membebaskan masyarakat AS dari belenggu dan > hambatan guna memenuhi mimpi dan keinginan personal masing-masing – entah > dari kelompok atau kelas mana pun. Mimpi *American Dream* ini juga masih > diyakini di masa kontemporer. > > Mantan Presiden AS Barack Obama, misalnya, *menuangkan > <https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0021934707305431>* konsep > mimpi ala AS ini dalam bukunya yang berjudul *The Audacity of Hope*. > Menurut Obama, *American Dream* menjadi dasar bagi kehebatan AS, yakni > kesetaraan kesempatan bagi siapa saja. > > Selain itu, *American Dream *dianggap juga memiliki kontribusi bagi > perkembangan ekonomi AS. Hal ini terlihat dari bagaimana ledakan ekonomi > terjadi di negara tersebut, khususnya sebelum tahun 1970-an. > > Presiden AS Dwight D. Eisenhower, misalnya, pada tahun 1958 menyebutkan > *American > Dream* sebagai gambaran atas kenyamanan kelas menengah, seperti memiliki > rumah, memiliki dua mobil, hingga kecukupan pangan. Visi kesejahteraan > kerap mengisi gambaran atas masyarakat AS. > > Bila berkaca pada *American Dream*, bagaimana dengan mimpi Luhut akan > kemajuan Indonesia di masa depan? Apakah mimpi sang Menko Marves mirip > dengan mimpi ala AS tersebut? > *Chinese Dream* > > Bila berkaca pada *American Dream*, bukan tidak mungkin Indonesia juga > memiliki mimpi serupa. Lagi pula, banyak orang Indonesia yang ingin negara > ini menjadi negara yang kaya dan kuat. > > Namun, mimpi yang diungkapkan oleh Luhut dalam wawancaranya tersebut bukan > sekali saja datang dari seorang pejabat atau pemimpin negara. Di negara > lain, yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRT), mimpi serupa juga pernah datang. > > Mantan pemimpin tertinggi Tiongkok yang bernama Deng Xiaoping, misalnya, > memiliki mimpi yang besar akan negaranya. Bahkan, mimpi ala Deng tersebut > menjadi dasar bagi mimpi-mimpi ala Tiongkok yang dibawa oleh > pemimpin-pemimpin penerusnya. > > Sebenarnya, mimpi ala Tiongkok – biasa disebut *Chinese Dream* – dimiliki > oleh setiap pemimpin negara tersebut. Presiden Tiongkok Xi Jinping, > misalnya, juga menerapkan *Chinese Dream* dalam pemerintahannya. > > Lantas, apa yang membuat mimpi Deng menjadi berbeda? Sebenarnya, apa mimpi > yang dibawa oleh mantan pemimpin tertinggi Tiongkok tersebut? > > Zheng Wang dari Seton Hall University dalam *tulisannya > <https://thediplomat.com/2013/09/the-chinese-dream-from-mao-to-xi/>* yang > berjudul *The Chinese Dream From Mao to Xi* menjelaskan bahwa setiap > pemimpin tertinggi Tiongkok memiliki mimpinya masing-masing – mengingat ini > sudah menjadi tradisi dalam Partai Komunis Tiongkok. > > Mimpi politik seperti ini sebenarnya juga menjadi hal yang wajar. Ira > Chernus dari University of Colorado, Boulder, dalam *tulisannya > <https://www.thenation.com/article/archive/political-dreaming-twenty-first-century/>* > yang berjudul *Political Dreaming in the Twenty-First Century* – dengan > mengutip Sigmund Freud – menjelaskan bahwa mimpi merupakan perwujudan dari > keinginan yang bisa berimplikasi pada dimensi politik. > > Mimpi merupakan visi akan alam publik yang terbebaskan dari pembagian dan > hambatan di dunia nyata. Bahkan, mimpi akan masa depan – menurut Chernus – > dapat menjadi energi sendiri. > > Namun, mimpi bisa membuat sang pemimpi melakukan berbagai cara untuk > menggapai mimpinya. Hal ini terlihat dari bagaimana Deng menerapkan > mimpinya. > > Zheng dalam tulisannya menjelaskan bahwa Deng tidak lagi menjalankan mimpi > ala Mao Tsetung – pemimpin sebelumnya yang menerapkan ideologi sosialisme > dan komunisme sebagai tujuan utama. Deng lebih menekankan pada kebangkitan > Tiongkok sebagai negara kuat dan kaya (*zhenxing zhonghua*). > > Penerapan mimpi Tiongkok ala Deng ini tidak lagi melibatkan unsur > ideologi, melainkan lebih *menekankan > <https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2018/12/19/40-years-ago-deng-xiaoping-changed-china-and-the-world/>* > pada praktikalitas (*practicality*). Pemerintahan negara Tirai Bambu > tersebut alhasil meninggalkan keketatan ideologisnya dan menerapkan > reformasi – berbeda dengan *American Dream *yang menekankan pada gagasan > kebebasan. > > Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Luhut juga menerapkan mimpi ala > Deng Xiaoping ini? > *Indonesian Dream**?* > > Boleh jadi, praktikalitas dan pragmatisme yang serupa juga diterapkan oleh > pemerintahan Jokowi – beserta Luhut sebagai salah satu menteri yang paling > berpengaruh. Hal ini terlihat dari bagaimana sang Menko Marves sangat > mendorong masuknya investasi ke Indonesia guna membangun infrastruktur dan > apa pun yang dibutuhkan – misalnya proyek-proyek *smelter* bijih mineral. > > Pragmatisme seperti ini sebenarnya terlihat dari bagaimana Luhut > menanggapi pertanyaan publik soal keterpihakannya pada investasi Tiongkok.. > Sang Menko Marves pernah mengatakan bahwa *pinjaman murah > <https://katadata.co.id/yuliawati/berita/5e9a55f5a6699/luhut-dorong-petani-sawit-manfaatkan-pinjaman-dari-tiongkok>* > menjadi alasan di balik masuknya beberapa investasi Tiongkok. > > Selain itu, pragmatisme juga terlihat dari jalannya pemerintahan Jokowi. > Ben Bland dalam buku barunya yang berjudul *Man of Contradictions *bahkan > *menyebutkan > <https://www.smh.com.au/world/asia/man-of-contradictions-joko-book-a-warning-to-australia-about-a-pragmatic-president-20200812-p55kyx.html>* > bahwa Presiden Jokowi lebih menekankan pada kebijakan yang > menguntungkannya. > > Mungkin, praktikalitas yang dibawa oleh Luhut dan Jokowi ini juga terlihat > dari kebijakan dan sejumlah rancangan undang-undang (RUU) yang > kontroversial. Salah satunya adalah RUU Cipta Lapangan Kerja – atau biasa > dikenal sebagai *Omnibus Law*. > > Meski mendapatkan penolakan dari banyak pihak, pemerintahan Jokowi > dianggap melihat peraturan tersebut sebagai salah satu komponen penting > dalam Jokowinomics – sebuah istilah yang menggambarkan developmentalisme > yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi. Luhut pun bisa jadi mengambil > peran penting dalam agenda ekonomi tersebut. > > Jefferson Ng dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) > dalam *tulisannya <https://www.newmandala.org/jokowis-macron-moment/>* yang > berjudul *Jokowi’s Macron Moment *juga menjelaskan bahwa Luhut menjadi > wajah bagi pendekatan pro-investasi dari pemerintahan Jokowi dengan > bersikap ramah pada para investor. > > Meski begitu, mimpi ala Luhut untuk Indonesia yang dijelaskan di atas > belum tentu tergambar dengan benar. Pasalnya, sang Menko Marves sendiri lah > yang benar-benar mengenal mimpinya sendiri. > > Namun, yang jelas, mimpi yang diungkapkan Luhut setidaknya juga > tercerminkan dalam sejumlah kebijakan yang dijalankan oleh pemerintahan > Jokowi. Mari kita nantikan saja bagaimana kebijakan itu akhirnya berdampak > pada kemajuan Indonesia di masa mendatang. (A43) > > >
