Inilah yang juga sangat menyedihkan dan memprihatinkan kita semua, bahwa kenyataan pejabat2 pemerintah RI, termasuk Luhut Panjahitan ini bukanlah wakil RAKYAT yang baik! Jadi, segala usaha investasi modal-asing yang dijalankan lebih banyak menguntungkan sekelompok orang saja, BUKAN jatuh untuk KEPENTINGAN RAKYAT banyak, ...! Apa boleh buat, ...

Usaha mengoptimalkan usaha pertanian, dimasa jabatan pertama Jokowi dengan bagi-bagi sertifikat tanah dan mengucurkan dana-desa entah sampai puluhan triliun itu, nampaknya juga tidak banyak hasilnya! Bahkan mungkin ludes tak ada bayangannya setelah dilanda pandemi Covid-19 selama 6 bulan lebih ini, ... Nampak BELUM ada kader, tokoh pimpinan bangsa yang berkemampuan TAMPIL memimpin dan membawa lebih 200 juta rakyat Indonesia maju sejahtera, ...!


kh djie 於 2020/9/11 下午 04:00 寫道:
Bung Chan,
Saya lihat Luhut Panjaitan dkk. mau secepatnya membangun ekonomi Indonesia
berdasarkan kekayaan Indonesia di bidang pertambangan. Problemnya tidak
cukup modal dan tidak menguasai teknologinya. Tetapi dengan terpaksanya
diberikan tax holiday seperti di negara2 lain, ya naiknya penerimaan negara tidak mendadak tinggi, tetapi setelah 10 - 20 tahun? Jadi pemerintahan2 yg. akan datang yang paling untung, menuai hasil investasi sekarang. Juga teknologi
dan pendidikan akan cepat maju luar biasa.
Tetapi toch sekarang ada extra pendapatan. Investor juga ingin modalnya secepat mungkin kembali. Kalau modalnya dapat dari pinjaman bank, ya ingin secepatnya
lunas, tidak bayar bunga lagi, dan keuntungannya naik.
R.R. pada akhir2 ini menganjurkan pembangunan pertanian secepatnya, sehingga rakyat Indonesia akan cukup makan, tidak sampai import, dan juga untuk mengatasi kemiskinan. Saya pikir, kalau harga bahan makanan di Indonesia murah, maka Indonesia seperti juga Vietnam tidak perlu selalu menaikkan gaji buruh. Dengan gaji buruh rendah seperti Vietnam, tetapi harga sandang pangan murah, buruh dapat hidup layak meskipun gajinya kalau dihitung dalam dollar rendah sekali dan itu menarik bagi investor asing. Jadi ya, dua2nya perlu dilaksanakan, baik idee Luhut Panjaitan maupun R.R. ?
Salam,
Djie



Op vr 11 sep. 2020 om 08:54 schreef ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:


      https://pinterpolitik.com/luhut-dan-mimpi-ala-tiongkok-1


      Luhut dan Mimpi ala Tiongkok



    A43<https://pinterpolitik.com/author/a43-162>-Tuesday, September
    8, 2020 21:30





    /Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko
    Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Antara)/

    /8 min read/


            *Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
            (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan sebut bahwa dirinya
            memiliki mimpi besar terkait masa depan Indonesia.
            Bagaimanakah mimpi ini diterjemahkan dalam arah kebijakan
            dan politik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)?*

    ------------------------------------------------------------------------

    *PinterPolitik.com <http://pinterpolitik.com/>*

        “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia” – Nidji,
        grup band asal Indonesia

    Siapa yang tidak pernah nonton film/Laskar Pelangi/(2008) yang
    disutradarai oleh Riri Riza? Film Indonesia satu ini sampai
    menjadi populer di banyak negara. Berbagai festival film juga
    menayangkan film tersebut.


      <<Laskar Pelangi>> 2008
      *https://www.youtube.com/watch?v=1txK-mYB4XA*

    Film yang didasarkan pada novel dengan judul yang sama ini
    mengisahkan sekelompok anak Belitung yang mengenyam pendidikan di
    sebuah sekolah kecil. Bahkan, sebagian dari mereka harus berjuang
    guna berangkat menuju sekolah.

    Mungkin, bisa dibilang, kehidupan mereka tidak seperti yang
    diimpikan oleh banyak orang. Namun, banyak pihak menilai film itu
    mengajari kita untuk terus berjuang dan bermimpi akan masa depan
    yang lebih baik.

    Tidak hanya film tersebut, pesan yang senada juga diungkapkan
    dalam film lanjutannya yang berjudul/Sang Pemimpi/(2009). Film
    tersebut mengisahkan anak-anak yang sama ketika mengenyam
    pendidikan di tingkat lebih lanjut.

    Boleh jadi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
    (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan pernah menonton dua film
    tersebut. Pasalnya, mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut
    menyebutkan bahwa dirinya memiliki mimpi besar terhadap masa depan
    Indonesia.

    Dalam sebuah*wawancara
    
<https://asiatimes.com/2020/09/man-with-the-plan-for-a-richer-indonesia/>*yang
    dilakukan oleh John McBeth dari Asia Times, Luhut menyatakan bahwa
    Indonesia suatu hari nanti akan menjadi negara yang kuat dan kaya.
    Tulisan tersebut juga menyebutkan sejumlah upaya Menko Marves
    untuk menggapai mimpi tersebut.

    Beberapa di antaranya adalah dengan mendorong
    pembangunan/smelter/yang mengolah bijih nikel. Pemerintah
    Indonesia memang dinilai tengah berusaha membatasi ekspor bijih
    nikel mentah – dengan menerapkan sejumlah larangan ekspor mineral
    mentah.

    Selain itu, Luhut juga disebut tengah mendorong pembangunan
    industri mobil listrik dan pembangkit listrik. Beberapa investasi
    proyek juga dikabarkan telah disepakati dengan berbagai perusahaan
    dari sejumlah negara, seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan
    Korea Selatan (Korsel).

    Meski begitu, bukan tidak mungkin, mimpi yang diungkapkan Luhut
    untuk Indonesia ini memiliki pengaruh terhadap arah kebijakan dan
    politik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Lantas, bagaimana mimpi
    Luhut dapat berdampak pada Indonesia? Kemudian, bagaimana caranya
    pemerintah mewujudkan mimpi tersebut?


            */American Dream/***

    Setiap orang pasti memiliki mimpi, entah itu rakyat biasa atau
    pejabat pemerintahan. Namun, mimpi juga dapat menjadi komponen
    penting dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan politik dalam
    berbangsa dan bernegara.

    Mimpi akan kesuksesan dan kemajuan di masa depan seperti ini bisa
    kita amati di Amerika Serikat (AS). Negara adidaya ini kerap
    dikenal sebagai tanah kebebasan bagi siapa saja yang memiliki mimpi.

    Terdapat sebuah istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan
    bagaimana mimpi dijunjung tinggi di AS. Istilah tersebut dikenal
    sebagai “/American Dream/”.

    Pada umumnya, mimpi ala AS ini menekankan pada pemahaman bahwa
    negara Paman Sam merupakan tempat di mana kesempatan yang setara
    melimpah bagi siapa saja yang mau meraihnya. Kesuksesan personal
    disebut dapat digapai dengan usaha dan kemauan yang keras.

    Setidaknya, pemahaman itulah yang diungkapkan oleh Mark Robert
    Rank, Thomas A. Hirschl, dan Kirk A. Foster dalam*buku mereka
    
<https://books.google.co.id/books?id=WszQAgAAQBAJ&source=gbs_navlinks_s>*yang
    berjudul/Chasing the American Dream/. Mimpi ala AS ini menekankan
    pada konsep petualangan (/journey/) atas suatu negara maupun
    kehidupan seseorang.

    Konsep mimpi ala AS ini juga sebenarnya berakar dari identitas
    kebangsaan yang ditanamkan oleh pemikir-pemikir AS di masa lampau.
    Salah satunya adalah James Truslow Adams yang menjadi pencetus
    istilah tersebut pada tahun 1931.

    Adams menempatkan konsep ini sebagai nilai yang sentral terhadap
    identitas nasional AS. Nilai kebebasan yang dibawa oleh/American
    Dream/setidaknya membedakan negara Paman Sam dengan
    peradaban-peradaban lainnya.

    Mimpi ala AS ini dianggap membebaskan masyarakat AS dari belenggu
    dan hambatan guna memenuhi mimpi dan keinginan personal
    masing-masing – entah dari kelompok atau kelas mana pun.
    Mimpi/American Dream/ini juga masih diyakini di masa kontemporer.

    Mantan Presiden AS Barack Obama, misalnya,*menuangkan
    <https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0021934707305431>*konsep
    mimpi ala AS ini dalam bukunya yang berjudul/The Audacity of
    Hope/. Menurut Obama,/American Dream/menjadi dasar bagi kehebatan
    AS, yakni kesetaraan kesempatan bagi siapa saja.

    Selain itu,/American Dream/dianggap juga memiliki kontribusi bagi
    perkembangan ekonomi AS. Hal ini terlihat dari bagaimana ledakan
    ekonomi terjadi di negara tersebut, khususnya sebelum tahun 1970-an.

    Presiden AS Dwight D. Eisenhower, misalnya, pada tahun 1958
    menyebutkan/American Dream/sebagai gambaran atas kenyamanan kelas
    menengah, seperti memiliki rumah, memiliki dua mobil, hingga
    kecukupan pangan. Visi kesejahteraan kerap mengisi gambaran atas
    masyarakat AS.

    Bila berkaca pada/American Dream/, bagaimana dengan mimpi Luhut
    akan kemajuan Indonesia di masa depan? Apakah mimpi sang Menko
    Marves mirip dengan mimpi ala AS tersebut?


            */Chinese Dream/***

    Bila berkaca pada/American Dream/, bukan tidak mungkin Indonesia
    juga memiliki mimpi serupa. Lagi pula, banyak orang Indonesia yang
    ingin negara ini menjadi negara yang kaya dan kuat.

    Namun, mimpi yang diungkapkan oleh Luhut dalam wawancaranya
    tersebut bukan sekali saja datang dari seorang pejabat atau
    pemimpin negara. Di negara lain, yakni Republik Rakyat Tiongkok
    (RRT), mimpi serupa juga pernah datang.

    Mantan pemimpin tertinggi Tiongkok yang bernama Deng Xiaoping,
    misalnya, memiliki mimpi yang besar akan negaranya. Bahkan, mimpi
    ala Deng tersebut menjadi dasar bagi mimpi-mimpi ala Tiongkok yang
    dibawa oleh pemimpin-pemimpin penerusnya.

    Sebenarnya, mimpi ala Tiongkok – biasa disebut/Chinese Dream/–
    dimiliki oleh setiap pemimpin negara tersebut. Presiden Tiongkok
    Xi Jinping, misalnya, juga menerapkan/Chinese Dream/dalam
    pemerintahannya.

    Lantas, apa yang membuat mimpi Deng menjadi berbeda? Sebenarnya,
    apa mimpi yang dibawa oleh mantan pemimpin tertinggi Tiongkok
    tersebut?

    Zheng Wang dari Seton Hall University dalam*tulisannya
    <https://thediplomat.com/2013/09/the-chinese-dream-from-mao-to-xi/>*yang
    berjudul/The Chinese Dream From Mao to Xi/menjelaskan bahwa setiap
    pemimpin tertinggi Tiongkok memiliki mimpinya masing-masing –
    mengingat ini sudah menjadi tradisi dalam Partai Komunis Tiongkok.

    Mimpi politik seperti ini sebenarnya juga menjadi hal yang wajar.
    Ira Chernus dari University of Colorado, Boulder, dalam*tulisannya
    
<https://www.thenation.com/article/archive/political-dreaming-twenty-first-century/>*yang
    berjudul/Political Dreaming in the Twenty-First Century/– dengan
    mengutip Sigmund Freud – menjelaskan bahwa mimpi merupakan
    perwujudan dari keinginan yang bisa berimplikasi pada dimensi politik.

    Mimpi merupakan visi akan alam publik yang terbebaskan dari
    pembagian dan hambatan di dunia nyata. Bahkan, mimpi akan masa
    depan – menurut Chernus – dapat menjadi energi sendiri.

    Namun, mimpi bisa membuat sang pemimpi melakukan berbagai cara
    untuk menggapai mimpinya. Hal ini terlihat dari bagaimana Deng
    menerapkan mimpinya.

    Zheng dalam tulisannya menjelaskan bahwa Deng tidak lagi
    menjalankan mimpi ala Mao Tsetung – pemimpin sebelumnya yang
    menerapkan ideologi sosialisme dan komunisme sebagai tujuan utama.
    Deng lebih menekankan pada kebangkitan Tiongkok sebagai negara
    kuat dan kaya (/zhenxing zhonghua/).

    Penerapan mimpi Tiongkok ala Deng ini tidak lagi melibatkan unsur
    ideologi, melainkan lebih*menekankan
    
<https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2018/12/19/40-years-ago-deng-xiaoping-changed-china-and-the-world/>*pada
    praktikalitas (/practicality/). Pemerintahan negara Tirai Bambu
    tersebut alhasil meninggalkan keketatan ideologisnya dan
    menerapkan reformasi – berbeda dengan/American Dream/yang
    menekankan pada gagasan kebebasan.

    Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Luhut juga menerapkan
    mimpi ala Deng Xiaoping ini?


            */Indonesian Dream/**?*

    Boleh jadi, praktikalitas dan pragmatisme yang serupa juga
    diterapkan oleh pemerintahan Jokowi – beserta Luhut sebagai salah
    satu menteri yang paling berpengaruh. Hal ini terlihat dari
    bagaimana sang Menko Marves sangat mendorong masuknya investasi ke
    Indonesia guna membangun infrastruktur dan apa pun yang dibutuhkan
    – misalnya proyek-proyek/smelter/bijih mineral.

    Pragmatisme seperti ini sebenarnya terlihat dari bagaimana Luhut
    menanggapi pertanyaan publik soal keterpihakannya pada investasi
    Tiongkok. Sang Menko Marves pernah mengatakan bahwa*pinjaman murah
    
<https://katadata.co.id/yuliawati/berita/5e9a55f5a6699/luhut-dorong-petani-sawit-manfaatkan-pinjaman-dari-tiongkok>*menjadi
    alasan di balik masuknya beberapa investasi Tiongkok.

    Selain itu, pragmatisme juga terlihat dari jalannya pemerintahan
    Jokowi. Ben Bland dalam buku barunya yang berjudul/Man of
    Contradictions/bahkan*menyebutkan
    
<https://www.smh.com.au/world/asia/man-of-contradictions-joko-book-a-warning-to-australia-about-a-pragmatic-president-20200812-p55kyx.html>*bahwa
    Presiden Jokowi lebih menekankan pada kebijakan yang menguntungkannya.

    Mungkin, praktikalitas yang dibawa oleh Luhut dan Jokowi ini juga
    terlihat dari kebijakan dan sejumlah rancangan undang-undang (RUU)
    yang kontroversial. Salah satunya adalah RUU Cipta Lapangan Kerja
    – atau biasa dikenal sebagai/Omnibus Law/.

    Meski mendapatkan penolakan dari banyak pihak, pemerintahan Jokowi
    dianggap melihat peraturan tersebut sebagai salah satu komponen
    penting dalam Jokowinomics – sebuah istilah yang menggambarkan
    developmentalisme yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi. Luhut
    pun bisa jadi mengambil peran penting dalam agenda ekonomi tersebut.

    Jefferson Ng dari S. Rajaratnam School of International Studies
    (RSIS) dalam*tulisannya
    <https://www.newmandala.org/jokowis-macron-moment/>*yang
    berjudul/Jokowi’s Macron Moment/juga menjelaskan bahwa Luhut
    menjadi wajah bagi pendekatan pro-investasi dari pemerintahan
    Jokowi dengan bersikap ramah pada para investor.

    Meski begitu, mimpi ala Luhut untuk Indonesia yang dijelaskan di
    atas belum tentu tergambar dengan benar. Pasalnya, sang Menko
    Marves sendiri lah yang benar-benar mengenal mimpinya sendiri.

    Namun, yang jelas, mimpi yang diungkapkan Luhut setidaknya juga
    tercerminkan dalam sejumlah kebijakan yang dijalankan oleh
    pemerintahan Jokowi. Mari kita nantikan saja bagaimana kebijakan
    itu akhirnya berdampak pada kemajuan Indonesia di masa mendatang.
    (A43)

Kirim email ke