Bung Chan,
Saya lihat Luhut Panjaitan dkk. mau secepatnya membangun ekonomi Indonesia
berdasarkan kekayaan Indonesia di bidang pertambangan. Problemnya tidak
cukup modal dan tidak menguasai teknologinya. Tetapi dengan terpaksanya
diberikan tax holiday seperti di negara2 lain, ya naiknya penerimaan
negara
tidak mendadak tinggi, tetapi setelah 10 - 20 tahun? Jadi
pemerintahan2 yg.
akan datang yang paling untung, menuai hasil investasi sekarang. Juga
teknologi
dan pendidikan akan cepat maju luar biasa.
Tetapi toch sekarang ada extra pendapatan. Investor juga ingin
modalnya secepat
mungkin kembali. Kalau modalnya dapat dari pinjaman bank, ya ingin
secepatnya
lunas, tidak bayar bunga lagi, dan keuntungannya naik.
R.R. pada akhir2 ini menganjurkan pembangunan pertanian secepatnya,
sehingga
rakyat Indonesia akan cukup makan, tidak sampai import, dan juga untuk
mengatasi
kemiskinan. Saya pikir, kalau harga bahan makanan di Indonesia murah,
maka Indonesia
seperti juga Vietnam tidak perlu selalu menaikkan gaji buruh. Dengan
gaji buruh rendah
seperti Vietnam, tetapi harga sandang pangan murah, buruh dapat hidup
layak meskipun
gajinya kalau dihitung dalam dollar rendah sekali dan itu menarik bagi
investor asing.
Jadi ya, dua2nya perlu dilaksanakan, baik idee Luhut Panjaitan maupun
R.R. ?
Salam,
Djie
Op vr 11 sep. 2020 om 08:54 schreef ChanCT [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>>:
https://pinterpolitik.com/luhut-dan-mimpi-ala-tiongkok-1
Luhut dan Mimpi ala Tiongkok
A43<https://pinterpolitik.com/author/a43-162>-Tuesday, September
8, 2020 21:30
/Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko
Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Antara)/
/8 min read/
*Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
(Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan sebut bahwa dirinya
memiliki mimpi besar terkait masa depan Indonesia.
Bagaimanakah mimpi ini diterjemahkan dalam arah kebijakan
dan politik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)?*
------------------------------------------------------------------------
*PinterPolitik.com <http://pinterpolitik.com/>*
“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia” – Nidji,
grup band asal Indonesia
Siapa yang tidak pernah nonton film/Laskar Pelangi/(2008) yang
disutradarai oleh Riri Riza? Film Indonesia satu ini sampai
menjadi populer di banyak negara. Berbagai festival film juga
menayangkan film tersebut.
<<Laskar Pelangi>> 2008
*https://www.youtube.com/watch?v=1txK-mYB4XA*
Film yang didasarkan pada novel dengan judul yang sama ini
mengisahkan sekelompok anak Belitung yang mengenyam pendidikan di
sebuah sekolah kecil. Bahkan, sebagian dari mereka harus berjuang
guna berangkat menuju sekolah.
Mungkin, bisa dibilang, kehidupan mereka tidak seperti yang
diimpikan oleh banyak orang. Namun, banyak pihak menilai film itu
mengajari kita untuk terus berjuang dan bermimpi akan masa depan
yang lebih baik.
Tidak hanya film tersebut, pesan yang senada juga diungkapkan
dalam film lanjutannya yang berjudul/Sang Pemimpi/(2009). Film
tersebut mengisahkan anak-anak yang sama ketika mengenyam
pendidikan di tingkat lebih lanjut.
Boleh jadi, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
(Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan pernah menonton dua film
tersebut. Pasalnya, mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut
menyebutkan bahwa dirinya memiliki mimpi besar terhadap masa depan
Indonesia.
Dalam sebuah*wawancara
<https://asiatimes.com/2020/09/man-with-the-plan-for-a-richer-indonesia/>*yang
dilakukan oleh John McBeth dari Asia Times, Luhut menyatakan bahwa
Indonesia suatu hari nanti akan menjadi negara yang kuat dan kaya.
Tulisan tersebut juga menyebutkan sejumlah upaya Menko Marves
untuk menggapai mimpi tersebut.
Beberapa di antaranya adalah dengan mendorong
pembangunan/smelter/yang mengolah bijih nikel. Pemerintah
Indonesia memang dinilai tengah berusaha membatasi ekspor bijih
nikel mentah – dengan menerapkan sejumlah larangan ekspor mineral
mentah.
Selain itu, Luhut juga disebut tengah mendorong pembangunan
industri mobil listrik dan pembangkit listrik. Beberapa investasi
proyek juga dikabarkan telah disepakati dengan berbagai perusahaan
dari sejumlah negara, seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan
Korea Selatan (Korsel).
Meski begitu, bukan tidak mungkin, mimpi yang diungkapkan Luhut
untuk Indonesia ini memiliki pengaruh terhadap arah kebijakan dan
politik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Lantas, bagaimana mimpi
Luhut dapat berdampak pada Indonesia? Kemudian, bagaimana caranya
pemerintah mewujudkan mimpi tersebut?
*/American Dream/***
Setiap orang pasti memiliki mimpi, entah itu rakyat biasa atau
pejabat pemerintahan. Namun, mimpi juga dapat menjadi komponen
penting dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan politik dalam
berbangsa dan bernegara.
Mimpi akan kesuksesan dan kemajuan di masa depan seperti ini bisa
kita amati di Amerika Serikat (AS). Negara adidaya ini kerap
dikenal sebagai tanah kebebasan bagi siapa saja yang memiliki mimpi.
Terdapat sebuah istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan
bagaimana mimpi dijunjung tinggi di AS. Istilah tersebut dikenal
sebagai “/American Dream/”.
Pada umumnya, mimpi ala AS ini menekankan pada pemahaman bahwa
negara Paman Sam merupakan tempat di mana kesempatan yang setara
melimpah bagi siapa saja yang mau meraihnya. Kesuksesan personal
disebut dapat digapai dengan usaha dan kemauan yang keras.
Setidaknya, pemahaman itulah yang diungkapkan oleh Mark Robert
Rank, Thomas A. Hirschl, dan Kirk A. Foster dalam*buku mereka
<https://books.google.co.id/books?id=WszQAgAAQBAJ&source=gbs_navlinks_s>*yang
berjudul/Chasing the American Dream/. Mimpi ala AS ini menekankan
pada konsep petualangan (/journey/) atas suatu negara maupun
kehidupan seseorang.
Konsep mimpi ala AS ini juga sebenarnya berakar dari identitas
kebangsaan yang ditanamkan oleh pemikir-pemikir AS di masa lampau.
Salah satunya adalah James Truslow Adams yang menjadi pencetus
istilah tersebut pada tahun 1931.
Adams menempatkan konsep ini sebagai nilai yang sentral terhadap
identitas nasional AS. Nilai kebebasan yang dibawa oleh/American
Dream/setidaknya membedakan negara Paman Sam dengan
peradaban-peradaban lainnya.
Mimpi ala AS ini dianggap membebaskan masyarakat AS dari belenggu
dan hambatan guna memenuhi mimpi dan keinginan personal
masing-masing – entah dari kelompok atau kelas mana pun.
Mimpi/American Dream/ini juga masih diyakini di masa kontemporer.
Mantan Presiden AS Barack Obama, misalnya,*menuangkan
<https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0021934707305431>*konsep
mimpi ala AS ini dalam bukunya yang berjudul/The Audacity of
Hope/. Menurut Obama,/American Dream/menjadi dasar bagi kehebatan
AS, yakni kesetaraan kesempatan bagi siapa saja.
Selain itu,/American Dream/dianggap juga memiliki kontribusi bagi
perkembangan ekonomi AS. Hal ini terlihat dari bagaimana ledakan
ekonomi terjadi di negara tersebut, khususnya sebelum tahun 1970-an.
Presiden AS Dwight D. Eisenhower, misalnya, pada tahun 1958
menyebutkan/American Dream/sebagai gambaran atas kenyamanan kelas
menengah, seperti memiliki rumah, memiliki dua mobil, hingga
kecukupan pangan. Visi kesejahteraan kerap mengisi gambaran atas
masyarakat AS.
Bila berkaca pada/American Dream/, bagaimana dengan mimpi Luhut
akan kemajuan Indonesia di masa depan? Apakah mimpi sang Menko
Marves mirip dengan mimpi ala AS tersebut?
*/Chinese Dream/***
Bila berkaca pada/American Dream/, bukan tidak mungkin Indonesia
juga memiliki mimpi serupa. Lagi pula, banyak orang Indonesia yang
ingin negara ini menjadi negara yang kaya dan kuat.
Namun, mimpi yang diungkapkan oleh Luhut dalam wawancaranya
tersebut bukan sekali saja datang dari seorang pejabat atau
pemimpin negara. Di negara lain, yakni Republik Rakyat Tiongkok
(RRT), mimpi serupa juga pernah datang.
Mantan pemimpin tertinggi Tiongkok yang bernama Deng Xiaoping,
misalnya, memiliki mimpi yang besar akan negaranya. Bahkan, mimpi
ala Deng tersebut menjadi dasar bagi mimpi-mimpi ala Tiongkok yang
dibawa oleh pemimpin-pemimpin penerusnya.
Sebenarnya, mimpi ala Tiongkok – biasa disebut/Chinese Dream/–
dimiliki oleh setiap pemimpin negara tersebut. Presiden Tiongkok
Xi Jinping, misalnya, juga menerapkan/Chinese Dream/dalam
pemerintahannya.
Lantas, apa yang membuat mimpi Deng menjadi berbeda? Sebenarnya,
apa mimpi yang dibawa oleh mantan pemimpin tertinggi Tiongkok
tersebut?
Zheng Wang dari Seton Hall University dalam*tulisannya
<https://thediplomat.com/2013/09/the-chinese-dream-from-mao-to-xi/>*yang
berjudul/The Chinese Dream From Mao to Xi/menjelaskan bahwa setiap
pemimpin tertinggi Tiongkok memiliki mimpinya masing-masing –
mengingat ini sudah menjadi tradisi dalam Partai Komunis Tiongkok.
Mimpi politik seperti ini sebenarnya juga menjadi hal yang wajar.
Ira Chernus dari University of Colorado, Boulder, dalam*tulisannya
<https://www.thenation.com/article/archive/political-dreaming-twenty-first-century/>*yang
berjudul/Political Dreaming in the Twenty-First Century/– dengan
mengutip Sigmund Freud – menjelaskan bahwa mimpi merupakan
perwujudan dari keinginan yang bisa berimplikasi pada dimensi politik.
Mimpi merupakan visi akan alam publik yang terbebaskan dari
pembagian dan hambatan di dunia nyata. Bahkan, mimpi akan masa
depan – menurut Chernus – dapat menjadi energi sendiri.
Namun, mimpi bisa membuat sang pemimpi melakukan berbagai cara
untuk menggapai mimpinya. Hal ini terlihat dari bagaimana Deng
menerapkan mimpinya.
Zheng dalam tulisannya menjelaskan bahwa Deng tidak lagi
menjalankan mimpi ala Mao Tsetung – pemimpin sebelumnya yang
menerapkan ideologi sosialisme dan komunisme sebagai tujuan utama.
Deng lebih menekankan pada kebangkitan Tiongkok sebagai negara
kuat dan kaya (/zhenxing zhonghua/).
Penerapan mimpi Tiongkok ala Deng ini tidak lagi melibatkan unsur
ideologi, melainkan lebih*menekankan
<https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2018/12/19/40-years-ago-deng-xiaoping-changed-china-and-the-world/>*pada
praktikalitas (/practicality/). Pemerintahan negara Tirai Bambu
tersebut alhasil meninggalkan keketatan ideologisnya dan
menerapkan reformasi – berbeda dengan/American Dream/yang
menekankan pada gagasan kebebasan.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Luhut juga menerapkan
mimpi ala Deng Xiaoping ini?
*/Indonesian Dream/**?*
Boleh jadi, praktikalitas dan pragmatisme yang serupa juga
diterapkan oleh pemerintahan Jokowi – beserta Luhut sebagai salah
satu menteri yang paling berpengaruh. Hal ini terlihat dari
bagaimana sang Menko Marves sangat mendorong masuknya investasi ke
Indonesia guna membangun infrastruktur dan apa pun yang dibutuhkan
– misalnya proyek-proyek/smelter/bijih mineral.
Pragmatisme seperti ini sebenarnya terlihat dari bagaimana Luhut
menanggapi pertanyaan publik soal keterpihakannya pada investasi
Tiongkok. Sang Menko Marves pernah mengatakan bahwa*pinjaman murah
<https://katadata.co.id/yuliawati/berita/5e9a55f5a6699/luhut-dorong-petani-sawit-manfaatkan-pinjaman-dari-tiongkok>*menjadi
alasan di balik masuknya beberapa investasi Tiongkok.
Selain itu, pragmatisme juga terlihat dari jalannya pemerintahan
Jokowi. Ben Bland dalam buku barunya yang berjudul/Man of
Contradictions/bahkan*menyebutkan
<https://www.smh.com.au/world/asia/man-of-contradictions-joko-book-a-warning-to-australia-about-a-pragmatic-president-20200812-p55kyx.html>*bahwa
Presiden Jokowi lebih menekankan pada kebijakan yang menguntungkannya.
Mungkin, praktikalitas yang dibawa oleh Luhut dan Jokowi ini juga
terlihat dari kebijakan dan sejumlah rancangan undang-undang (RUU)
yang kontroversial. Salah satunya adalah RUU Cipta Lapangan Kerja
– atau biasa dikenal sebagai/Omnibus Law/.
Meski mendapatkan penolakan dari banyak pihak, pemerintahan Jokowi
dianggap melihat peraturan tersebut sebagai salah satu komponen
penting dalam Jokowinomics – sebuah istilah yang menggambarkan
developmentalisme yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi. Luhut
pun bisa jadi mengambil peran penting dalam agenda ekonomi tersebut.
Jefferson Ng dari S. Rajaratnam School of International Studies
(RSIS) dalam*tulisannya
<https://www.newmandala.org/jokowis-macron-moment/>*yang
berjudul/Jokowi’s Macron Moment/juga menjelaskan bahwa Luhut
menjadi wajah bagi pendekatan pro-investasi dari pemerintahan
Jokowi dengan bersikap ramah pada para investor.
Meski begitu, mimpi ala Luhut untuk Indonesia yang dijelaskan di
atas belum tentu tergambar dengan benar. Pasalnya, sang Menko
Marves sendiri lah yang benar-benar mengenal mimpinya sendiri.
Namun, yang jelas, mimpi yang diungkapkan Luhut setidaknya juga
tercerminkan dalam sejumlah kebijakan yang dijalankan oleh
pemerintahan Jokowi. Mari kita nantikan saja bagaimana kebijakan
itu akhirnya berdampak pada kemajuan Indonesia di masa mendatang.
(A43)