Tiongkok Tegas Bela Multilateralisme,
AS Bertindak Semaunya Tanpa mengindahkan Kewajiban Internasional
http://indonesian.cri.cn/20200912/7f6141e8-3b50-a238-4649-46b6563cff74.html
2020-09-12 14:10:41
Tiongkok Tegas Bela Multilateralisme, AS Bertindak Semaunya Tanpa
mengindahkan Kewajiban Internasional_fororder_PBB
Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada 10 September memublikasikan
dokumen tentang peringatan HUT ke-75 PBB, dalam mana Kemenlu Tiongkok
menguraikan pendirian dan pandangan Tiongkok mengenai peranan PBB,
situasi internasional, pembangunan berkelanjutajn serta kerja sama
penanggulangan pandemi COVID-19.
Tiongkok Tegas Bela Multilateralisme, AS Bertindak Semaunya Tanpa
mengindahkan Kewajiban Internasional_fororder_PBB2Tiongkok Tegas Bela
Multilateralisme, AS Bertindak Semaunya Tanpa mengindahkan Kewajiban
Internasional_fororder_PBB3
Dunia saat ini tengah mengalami perubahan drastis yang belum pernah
terjadi selama seratus tahun silam. Dampak pandemi COVID-19 yang
menyebar ke seluruh dunia ikut mempercepat perubahan tersebut, dan dunia
pun telah memasuki masa kegoncangan dan pembaruan. Akan tetapi,
perdamaian dan pembangunan tetap menjadi tema utama zaman sekarang.
Tiongkok mengeluarkan dokumen tersebut untuk menyatakan keinginan dan
tekat bulat Tiongkok berjuang bersama seluruh masyarakat internasional
demi mendorong multilateralisme dan membangunan bersama komunitas
senasib sepenanggungan manusia.
Selama 75 tahun silam, Tiongkok telah memberikan sumbangan penting bagi
perkembanghan usaha PBB. Tiongkok berusaha mendorong pembangunan
berkelanjutan dengan mewujudkan pengentasan kemiskinan semua penduduk di
pedesaan menurut standar yang berlaku sekarang. Selain itu, Tiongkok
memprakarsai Inisiatif Sabuk dan Jalan sebagai platform yang menciptakan
peluang perkembangan inklusif bagi semua pihak.
Berbanding terbalik dengan Tiongkok, AS malah dengan mudah melakukan
hegemonisme dan selalu bertindak semau-maunya demi kepentingan dirinya
sendiri. AS bersikeras memaksakan pemulihan mekanisme pengenaan sanksi
terhadap Iran. Setelah ditolak oleh negara lain, AS yang tidak tahu malu
malah menyatakan penyesalan kepada negara-negara yang tidak tunduk pada
tuntutannya, bahkan mencela negara lain “bersanding bersama kaum
teroris”. Dalam hal pembayaran iuran PBB, AS adalah penunggak terbesar
dari dulu hingga sekarang. Menurut statistik PBB, hingga akhir Agustus
lalu, AS total menunggak iuran PBB sebesar 1,09 miliar dolar AS, atau
merupakan 71,6 persen dari total tunggakan iuran. Tidak hanya begitu,
AS hingga kini masih belum membayar iuran sebesar 80 juta dolar AS
kepada WHO. Setelah menyatakan akan mundur dari organisasi kesehatan
sedunia itu, AS masih mengancam akan menghapuskan tunggakan iuran
tersebut. Dari tingkah lakunya tersebut terungkaplah sifatnya yang
hegemonis dan egois.
Di tengah penyebaran pandemi COVID-19 saat ini, masyarakat internasional
seharusnya saling membantu dan bersolidaritas. Namun justru sebaliknya,
proteksionisme, unilateralisme dan penindasan terus meningkat. Negara
tertentu bertindak nekad mengundurkan diri dari organisasi atau
perjanjian internasional, melimpahkan kesalahannya kepada negara lain,
bahkan mengancam akan melakukan “pemutusan hubungan” dengan Tiongkok,
sehingga telah merusak kerja sama internasional. Pada saat krusial
inilah, Tiongkok tidak lagi tinggal diam dan mengutarakan suara yang
mendukung gotong royong, dan mengimbau masyarakat internasional
menyadari pentingnya mempertahankan multilateralisme, serta bersama-sama
membangun komunitas senasib sepenanggungan umat manusia.
Mike Pompeo Jadi Ancaman Serius bagi Seluruh Dunia
http://indonesian.cri.cn/20200912/8623fe7f-89c4-ec4a-5b8c-e8176fda6964.html
2020-09-12 11:16:36
*“Mike Pompeo adalah Menteri Luar Negeri terburuk sepanjang sejarah,”
*demikian tulis The Washington Post dalam sebuah komentarnya baru-baru
ini. Selama dua tahun terakhir, Mike Pompeo terus mengacaukan dan
mencelakakan dunia dengan tingkah lakunya yang hegemonis, berbohong dan
bajingan.
Pertama, dengan kepala batu Mike Pompeo bersikeras mendominasi diplomasi
Amerika Serikat dengan pemikiran Perang Dingin, sehingga telah
menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian dan pembangunan global.
Misalnya, ia bersilat lidah bahwa hubungan AS-Tiongkok dalam keadaan
tidak adil dan tidak setara dalam jangka panjang. Argumentasi absurd ini
sama sekali tidak mengindahkan pengalaman sejarah, kenyataan obyektif
dan ilmu ekonomi. Hubungan perdagangan Tiongkok-AS telah menciptakan
sebanyak 2,6 juta lowongan kerja di AS. lebih dari 72,5 ribu perusahaan
AS berbisnis dan berinvestasi di Tiongkok. Apa yang diklaim “pemerasan”
oleh Tiongkok semata-mata adalah dalihnya untuk melakukan tekanan
maksimum terhadap Tiongkok.
Kedua, Mike Pompeo dan sejajarnya giat melakukan unilateralisme dalam
urusan internasional, secara sembarangan mengundurkan diri dari
perjanjian atau konvensi internasional, dan dengan perilakunya tersebut,
AS sudah menjadi perusak terbesar bagi ketertiban internasional zaman
sekarang. Sejumlah organisasi dan lembaga multilateral, seperti WTO,
WHO, PBB dan UNESCO mengalami kesulitan karena aksi ngawur AS.
Ketiga, sejak wabah virus corona merebak, Mike Pompeo dan para
pengikutnya dengan mudah mengaitkan virus corona jenis baru atau
COVID-19 dengan etnis dan ras tertentu, berusaha mendorong pemerintah AS
menghentikan pendanaan kepada WHO, bahkan berintrik memonopoli dan
mendominasi hak litbang vaksin virus corona secara global... kesemua
tindakan yang tidak terpuji itu telah secara serius merugikan kerja sama
penanggulangan pandemi global, dan telah menimbulkan dampak negatif yang
sulit diperhitungkan bagi negara-negara yang paling tidak maju serta
kelompok yang rentan terhadap wabah virus corona.
“Ketika kita tidak bersolidaritas dan terpecah belah, virus corona akan
memanfaatkan peluangnya, dan itulah sebabnya virus corona masih terus
tersebar di dunia,” demikian diperingatkan Direktur Jenderal WHO Tedros
Adhanom Ghebreyesus pada 10 September. Ternyata perkataan itu tertuju
kepada Mike Pompeo dan para pengikutnya.
Tak peduli bagaimana Mike Pompeo berdalih, sosok pria asal AS ini
pastilah akan tersisa oleh zaman dan mendapat hukuman sejarah.