Ahok Keluar, Covid-19 Tertutupi?
R53<https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>-Monday, September 21,
2020 21:00
https://www.pinterpolitik.com/ahok-keluar-covid-19-tertutupi
/Komisaris Utama (Komut) Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama (foto:
Portonews.com)/
/7 min read/
*Ahok kembali menuai sorotan usai mengungkap bobrok direksi
Pertamina. Tekanan untuk meminta Ahok dicopot kemudian datang
karena dinilai telah membuat kegaduhan. Namun pertanyaannya
adalah, mengapa mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut tiba-tiba
mengeluarkan pernyataan kontroversial semacam itu?*
------------------------------------------------------------------------
*PinterPolitik.com <http://pinterpolitik.com/>*
Nama Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok mulai mencuri perhatian
publik setelah dirinya menggantikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai
Gubernur DKI Jakarta pada 2014 lalu. Tidak hanya karena identitasnya,
kepribadian Ahok yang terlihat keras dan ceplas-ceplos juga membuatnya
menjadi bahan pemberitaan yang mumpuni. Bahkan ada satire yang
menyebutkan, “Ahok bersin saja dapat menjadi berita.”
Baru-baru ini, Ahok kembali mendapatkan sorotan panas karena pernyataan
menohoknya seputar direksi Pertamina. Berbagai hal disebutkan, mulai
dari direksi yang hobi melobi menteri, berutang, menyinggung gaji,
hingga saran untuk membubarkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Seperti yang diduga, pernyataan panas Ahok langsung direspons berbagai
pihak. Tidak tanggung-tanggung, anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai
Gerindra, Andre Rosiade bahkan mengusulkan agar Presiden Jokowi dan
Menteri BUMN Erick Thohir untuk*mencop**ot*
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200916110414-32-547075/andre-rosiade-minta-jokowi-copot-ahok-karena-banyak-bacot>Ahok
dari jabatannya sebagai Komisaris Utama (Komut) Pertamina.
Menurut Andre, Ahok terlalu banyak/bacot/, apalagi dengan statusnya
sebagai orang dalam Pertamina. Dalam kesempatan tersebut, Andre juga
membantah berbagai kritik Ahok seputar Pertamina karena tidak sesuai
dengan data yang ada.
Pakar hukum tata negara, Refly Harun juga mengomentari persoalan ini di
kanal YouTube-nya. Menurutnya, Ahok berani memberikan pernyataan terbuka
semacam itu karena*cantolannya*
<https://jogja.suara.com/read/2020/09/21/094921/refly-harun-ahok-cantolannya-penguasa-erick-thohir-mana-berani-copot-dia>adalah
Presiden Jokowi. Oleh karenanya, keputusan dipecat tidaknya Ahok sebagai
Komut Pertamina berada di tangan sang presiden.
Melihat gelagat yang ada, bahkan berulang kali Ahok diisukan menjadi
menteri meskipun menyandang status sebagai mantan narapidana, jelas
dilihat publik sebagai indikasi kedekatan dengan Presiden Jokowi seperti
yang disebutkan oleh Refly Harun.
Lantas, apa yang dapat dimaknai dari riuhnya situasi akibat pernyataan
Ahok tersebut?
*Narsisme*
Terdapat suatu tanggapan menarik dari mantan Kementerian Sekretaris
BUMN, Said Didu terkait kritik Ahok terhadap Pertamina. Menurutnya,
pernyataan tersebut seperti menunjukkan Ahok telah bermain/playing
victim/karena masalah-masalah yang disebutkan merupakan*kewenangan*
<https://finance.detik.com/energi/d-5174688/kritik-balik-buat-ahok-yang-blak-blakan-soal-aib-pertamina>dari
komisaris. Oleh karena, itu sebenarnya menjadi semacam pengakuan bahwa
Ahok tidak mampu melaksanakan tugasnya.
Jika benar apa yang disebutkan oleh Said Didu, boleh jadi Ahok tidak
hanya tengah bermain/playing victim/, melainkan juga tengah berlaku
narsis (narsisme) karena ingin menunjukkan dirinya sebagai pembongkar
kebenaran.
Narsisme sendiri adalah istilah untuk menjelaskan seseorang yang
mengejar kepuasan atau kekaguman terhadap citra dirinya sendiri. Istilah
ini berasal dari mitologi Yunani, di mana Narcissus muda jatuh cinta
dengan bayangannya sendiri ketika berkaca di genangan air.
Sigmund Freud dalam tulisannya yang berjudul/On Narcissism: An
Introduction/memberikan kita penjelasan yang menarik perihal konsep
tersebut. Menurut Brian Andrew Sharpless dalam*tulisannya*
<https://www.researchgate.net/publication/277249914_The_Critique_of_Eros_Freud_on_Narcissism_and_the_Prospects_for_Romantic_Love>/The
Critique of Eros: Freud on Narcissism and the Prospects for Romantic
Love,/definisi Freud tentang narsisme telah mendobrak pandangan lama
karena narsisme tidak lagi dipandang berkonotasi negatif.
Beda halnya dengan konsep narsisme lama yang memaknai narsisme berkaitan
dengan relasi individu dengan objek di luar sana, atau perasaan ingin
dilihat “wah” oleh pihak lain, Freud justru menyebutkan bahwa narsisme
adalah suatu hal yang primer dalam psikis individu. Mengacu pada konsep
alam bawah sadar Freud –/Id, Ego/, dan/Super Ego/– narsisme dapat
didefinisikan sebagai semacam dorongan dalam diri individu yang memang
wajar ada.
Friedrich Nietzsche, sebagaimana dikutip oleh Francis Fukuyama dalam
bukunya/The End of History and the Last Man/juga menjelaskan persoalan
yang sama, namun tidak pada konteks psikoanalisis. Menurut Fukuyama,
masalah terbesar dari demokrasi liberal adalah menjawab tantangan
Nietzsche perihal apakah sistem politik tersebut memberikan kualitas
pengakuan yang setara terhadap setiap individu?
Dengan kata lain, untuk mewujudkan demokrasi liberal yang menjanjikan
kesetaraan hak seperti yang dibayangkan oleh Fukuyama, hasrat untuk
diakui tersebut harus menjadi prioritas utama untuk dijawab. Jika tidak
demikian, seperti yang dicatat oleh sejarah, sengketa-sengketa sosial
yang tidak jarang berujung pada cucuran darah hanya akan terus berulang.
Mengacu pada konsep narsisme, pelabelan Ahok telah berlaku narsis dengan
membongkar bobrok Pertamina, meskipun Ia adalah orang dalam BUMN
tersebut merupakan hasrat primer yang sudah sewajarnya dimiliki oleh
individu. Di luar persoalan etis, pernyataan Ahok, sebagaimana yang Ia
sebutkan, merupakan bentuk dari ekspresi diri karena jenuh dengan
tindak-tanduk direksi yang menjadi tanggung jawabnya.
Akan tetapi, apabila kita melihat melalui lanskap yang lebih luas,
terdapat strategi politik tertentu yang dapat dilihat dari tiba-tibanya
Komut Pertamina tersebut melayangkan kritik. Pasalnya, masalah di BUMN
tersebut sebenarnya telah menjadi rahasia umum yang telah lama
diketahui. Lantas, mengapa baru sekarang kritik tersebut keluar?
*Strategi Usang?*
Disadari atau tidak, pernyataan Ahok tersebut bertepatan dengan semakin
ganasnya kasus penularan Covid-19 di Indonesia. Beberapa hari terakhir
ini, 3.000 – 4.000 kasus perhari bahkan menjadi statistik yang kita
terima setiap hari di gawai masing-masing.
Melihat derasnya kenaikan kasus, epidemiolog dari Universitas Indonesia
(UI) Pandu Riono bahkan sampai menyebutkan puncak gunung penularan
Covid-19 kemungkinan*belum terjadi*
<https://twitter.com/drpriono1/status/1307605671727124480>di akhir tahun
2020 jika penanganan pandemi, khususnya perihal Pembatasan Sosial
Berskala Besar (PSBB) masih seperti saat ini.
Menariknya, bukan kali ini saja nama Ahok mencuat ketika berdekatan
dengan isu sensitif yang mengancam legitimasi pemerintah. Pada 2 Maret
lalu, ketika pemerintah Covid-19 pertama kali diidentifikasi di
Indonesia, Presiden Jokowi tiba-tiba mengumumkan bahwa Ahok masuk
sebagai*kandidat*
<https://tirto.id/jokowi-ahok-masuk-bursa-kepala-badan-otorita-ibu-kota-baru-eC4g>Kepala
Badan Otorita Ibu Kota Negara Baru.
Sebagaimana diketahui, pada saat itu perhatian publik menjadi terbelah.
Di satu sisi terdapat pihak yang mengkritik keras pemerintah karena
tidak memiliki langkah pencegahan yang memadai untuk membendung virus
yang kini memberikan dampak multi-aspek tersebut.
Namun, di sisi lain, demonstrasi justru terjadi karena terdapat pihak
yang mempertanyakan mengapa nama Ahok yang masuk sebagai kandidat proyek
besar tersebut. Pertanyaannya tentu satu, mengapa Presiden Jokowi tidak
peka dengan adanya kelompok yang melihat minor Ahok dengan memunculkan
namanya?
Melihat pada keanehan pada kasus di awal Maret tersebut, terdapat
selentingan yang menyebutkan bahwa Ahok memang sengaja didesain keluar
untuk menciptakan keriuhan di tengah publik agar terjadi pembelahan
fokus. Dan memang terbukti, tidak hanya masyarakat umum, berbagai
politisi elite turut mencurahkan fokusnya pada pernyataan mantan
Gubernur DKI Jakarta tersebut.
Jika memang benar nama Ahok digunakan sebagai strategi propaganda untuk
membelah fokus, konteks ini adalah apa yang telah dijelaskan oleh Noam
Chomsky dalam bukunya/Politik Kuasa Media/. Chomsky bahkan dengan berani
menyebutkan bahwa peran media dalam percaturan politik kontemporer telah
memaksa kita untuk mempertanyakan demokrasi seperti apa yang kita
tempati saat ini?
Menurutnya, media yang disebut sebagai salah satu pilar demokrasi,
justru telah lama digunakan oleh kekuasaan dalam menyebarkan propaganda
guna mendukung agenda mereka. Chomsky misalnya mencontohkan propaganda
pemerintah Amerika Serikat (AS) di tengah Perang Dunia I yang
menggunakan media dan selebaran, telah berhasil membius warga AS yang
semula anti-perang menjadi massa yang histeris, haus perang, dan ingin
menghancurkan Jerman.
Di Indonesia, konteks yang disebutkan Chomsky terjadi pada Televisi
Republik Indonesia (TVRI) yang pada saat itu menjadi “humas” dan*alat
propaganda*
<https://tirto.id/alat-kekuasaan-bernama-tvri-cUvu>pemerintahan Soeharto.
Akan tetapi, tidak seperti sebelumnya, media saat ini tidak hanya
menjadi milik pemerintah, melainkan juga beradu narasi dengan
media-media swasta lainnya. Ini misalnya dapat kita lihat dengan masih
banyaknya media yang tetap memberikan fokus utama pada penanganan
pandemi Covid-19, meskipun isu Ahok tengah menjadi perhatian hangat.
Oleh karenanya, kendati tetap bekerja, dengan adanya media tandingan
saat ini, taktik semacam itu sudah seharusnya mendapat evaluasi
tersendiri jika memang benar itu telah dilakukan oleh pemerintah.
Akan tetapi, tentu perlu ditegaskan, benar tidaknya digunakan Ahok
sebagai alat pembelah fokus hanya menjadi interpretasi atau obrolan di
warung kopi semata. Namun, satu hal yang jelas, seperti yang disebutkan
oleh Freud, boleh jadi kritik Ahok tersebut hanyalah puncak dari
kejengkelan sang Komut karena tidak tahan dengan kinerja direksi Pertamina.
Mari kita berharap agar pemerintah dapat mengatasi pandemi Covid-19
dengan baik dan Ahok mampu memberikan kinerja terbaiknya bagi Pertamina.
Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)