*Ahak membuka rahasia kaum elit neo-Mojopahit memeras sapii perahan milik umum, maka oleh karena itu diributkan oleh mereka yang merasa dirugikan. KIra-kira apa rencana mereka selanjutnya selain mengritik Ahok?*
On Tue, Sep 22, 2020 at 2:32 AM ChanCT [email protected] [nasional-list] <[email protected]> wrote: > > > Ahok Keluar, Covid-19 Tertutupi? > R53 <https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>- Monday, September > 21, 2020 21:00 > > > https://www.pinterpolitik.com/ahok-keluar-covid-19-tertutupi > *Komisaris Utama (Komut) Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama (foto: > Portonews.com)* > > *7 min read* > *Ahok kembali menuai sorotan usai mengungkap bobrok direksi Pertamina. > Tekanan untuk meminta Ahok dicopot kemudian datang karena dinilai telah > membuat kegaduhan. Namun pertanyaannya adalah, mengapa mantan Gubernur DKI > Jakarta tersebut tiba-tiba mengeluarkan pernyataan kontroversial semacam > itu?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com <http://pinterpolitik.com/>* > > Nama Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok mulai mencuri perhatian publik > setelah dirinya menggantikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Gubernur DKI > Jakarta pada 2014 lalu. Tidak hanya karena identitasnya, kepribadian Ahok > yang terlihat keras dan ceplas-ceplos juga membuatnya menjadi bahan > pemberitaan yang mumpuni. Bahkan ada satire yang menyebutkan, “Ahok bersin > saja dapat menjadi berita.” > > Baru-baru ini, Ahok kembali mendapatkan sorotan panas karena pernyataan > menohoknya seputar direksi Pertamina. Berbagai hal disebutkan, mulai dari > direksi yang hobi melobi menteri, berutang, menyinggung gaji, hingga saran > untuk membubarkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). > > Seperti yang diduga, pernyataan panas Ahok langsung direspons berbagai > pihak. Tidak tanggung-tanggung, anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai > Gerindra, Andre Rosiade bahkan mengusulkan agar Presiden Jokowi dan Menteri > BUMN Erick Thohir untuk *mencop**ot* > <https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200916110414-32-547075/andre-rosiade-minta-jokowi-copot-ahok-karena-banyak-bacot> > Ahok dari jabatannya sebagai Komisaris Utama (Komut) Pertamina. > > Menurut Andre, Ahok terlalu banyak *bacot*, apalagi dengan statusnya > sebagai orang dalam Pertamina. Dalam kesempatan tersebut, Andre juga > membantah berbagai kritik Ahok seputar Pertamina karena tidak sesuai dengan > data yang ada. > > Pakar hukum tata negara, Refly Harun juga mengomentari persoalan ini di > kanal YouTube-nya. Menurutnya, Ahok berani memberikan pernyataan terbuka > semacam itu karena *cantolannya* > <https://jogja.suara.com/read/2020/09/21/094921/refly-harun-ahok-cantolannya-penguasa-erick-thohir-mana-berani-copot-dia> > adalah Presiden Jokowi. Oleh karenanya, keputusan dipecat tidaknya Ahok > sebagai Komut Pertamina berada di tangan sang presiden. > > Melihat gelagat yang ada, bahkan berulang kali Ahok diisukan menjadi > menteri meskipun menyandang status sebagai mantan narapidana, jelas dilihat > publik sebagai indikasi kedekatan dengan Presiden Jokowi seperti yang > disebutkan oleh Refly Harun. > > Lantas, apa yang dapat dimaknai dari riuhnya situasi akibat pernyataan > Ahok tersebut? > *Narsisme* > > Terdapat suatu tanggapan menarik dari mantan Kementerian Sekretaris BUMN, > Said Didu terkait kritik Ahok terhadap Pertamina. Menurutnya, pernyataan > tersebut seperti menunjukkan Ahok telah bermain *playing victim* karena > masalah-masalah yang disebutkan merupakan *kewenangan* > <https://finance.detik.com/energi/d-5174688/kritik-balik-buat-ahok-yang-blak-blakan-soal-aib-pertamina> > dari komisaris. Oleh karena, itu sebenarnya menjadi semacam pengakuan > bahwa Ahok tidak mampu melaksanakan tugasnya. > > Jika benar apa yang disebutkan oleh Said Didu, boleh jadi Ahok tidak hanya > tengah bermain *playing victim*, melainkan juga tengah berlaku narsis > (narsisme) karena ingin menunjukkan dirinya sebagai pembongkar kebenaran. > > Narsisme sendiri adalah istilah untuk menjelaskan seseorang yang mengejar > kepuasan atau kekaguman terhadap citra dirinya sendiri. Istilah ini berasal > dari mitologi Yunani, di mana Narcissus muda jatuh cinta dengan bayangannya > sendiri ketika berkaca di genangan air. > > Sigmund Freud dalam tulisannya yang berjudul *On Narcissism: An > Introduction* memberikan kita penjelasan yang menarik perihal konsep > tersebut. Menurut Brian Andrew Sharpless dalam *tulisannya* > <https://www.researchgate.net/publication/277249914_The_Critique_of_Eros_Freud_on_Narcissism_and_the_Prospects_for_Romantic_Love> > *The Critique of Eros: Freud on Narcissism and the Prospects for > Romantic Love, *definisi Freud tentang narsisme telah mendobrak pandangan > lama karena narsisme tidak lagi dipandang berkonotasi negatif. > > Beda halnya dengan konsep narsisme lama yang memaknai narsisme berkaitan > dengan relasi individu dengan objek di luar sana, atau perasaan ingin > dilihat “wah” oleh pihak lain, Freud justru menyebutkan bahwa narsisme > adalah suatu hal yang primer dalam psikis individu. Mengacu pada konsep > alam bawah sadar Freud – *Id, Ego*, dan *Super Ego* – narsisme dapat > didefinisikan sebagai semacam dorongan dalam diri individu yang memang > wajar ada. > > Friedrich Nietzsche, sebagaimana dikutip oleh Francis Fukuyama dalam > bukunya *The End of History and the Last Man* juga menjelaskan persoalan > yang sama, namun tidak pada konteks psikoanalisis. Menurut Fukuyama, > masalah terbesar dari demokrasi liberal adalah menjawab tantangan Nietzsche > perihal apakah sistem politik tersebut memberikan kualitas pengakuan yang > setara terhadap setiap individu? > > Dengan kata lain, untuk mewujudkan demokrasi liberal yang menjanjikan > kesetaraan hak seperti yang dibayangkan oleh Fukuyama, hasrat untuk diakui > tersebut harus menjadi prioritas utama untuk dijawab. Jika tidak demikian, > seperti yang dicatat oleh sejarah, sengketa-sengketa sosial yang tidak > jarang berujung pada cucuran darah hanya akan terus berulang. > > Mengacu pada konsep narsisme, pelabelan Ahok telah berlaku narsis dengan > membongkar bobrok Pertamina, meskipun Ia adalah orang dalam BUMN tersebut > merupakan hasrat primer yang sudah sewajarnya dimiliki oleh individu. Di > luar persoalan etis, pernyataan Ahok, sebagaimana yang Ia sebutkan, > merupakan bentuk dari ekspresi diri karena jenuh dengan tindak-tanduk > direksi yang menjadi tanggung jawabnya. > > Akan tetapi, apabila kita melihat melalui lanskap yang lebih luas, > terdapat strategi politik tertentu yang dapat dilihat dari tiba-tibanya > Komut Pertamina tersebut melayangkan kritik. Pasalnya, masalah di BUMN > tersebut sebenarnya telah menjadi rahasia umum yang telah lama diketahui. > Lantas, mengapa baru sekarang kritik tersebut keluar? > *Strategi Usang?* > > Disadari atau tidak, pernyataan Ahok tersebut bertepatan dengan semakin > ganasnya kasus penularan Covid-19 di Indonesia. Beberapa hari terakhir ini, > 3.000 – 4.000 kasus perhari bahkan menjadi statistik yang kita terima > setiap hari di gawai masing-masing. > > Melihat derasnya kenaikan kasus, epidemiolog dari Universitas Indonesia > (UI) Pandu Riono bahkan sampai menyebutkan puncak gunung penularan Covid-19 > kemungkinan *belum terjadi* > <https://twitter.com/drpriono1/status/1307605671727124480> di akhir tahun > 2020 jika penanganan pandemi, khususnya perihal Pembatasan Sosial Berskala > Besar (PSBB) masih seperti saat ini. > > Menariknya, bukan kali ini saja nama Ahok mencuat ketika berdekatan dengan > isu sensitif yang mengancam legitimasi pemerintah. Pada 2 Maret lalu, > ketika pemerintah Covid-19 pertama kali diidentifikasi di Indonesia, > Presiden Jokowi tiba-tiba mengumumkan bahwa Ahok masuk sebagai *kandidat* > <https://tirto.id/jokowi-ahok-masuk-bursa-kepala-badan-otorita-ibu-kota-baru-eC4g> > Kepala Badan Otorita Ibu Kota Negara Baru. > > Sebagaimana diketahui, pada saat itu perhatian publik menjadi terbelah. Di > satu sisi terdapat pihak yang mengkritik keras pemerintah karena tidak > memiliki langkah pencegahan yang memadai untuk membendung virus yang kini > memberikan dampak multi-aspek tersebut. > > Namun, di sisi lain, demonstrasi justru terjadi karena terdapat pihak yang > mempertanyakan mengapa nama Ahok yang masuk sebagai kandidat proyek besar > tersebut. Pertanyaannya tentu satu, mengapa Presiden Jokowi tidak peka > dengan adanya kelompok yang melihat minor Ahok dengan memunculkan namanya? > > Melihat pada keanehan pada kasus di awal Maret tersebut, terdapat > selentingan yang menyebutkan bahwa Ahok memang sengaja didesain keluar > untuk menciptakan keriuhan di tengah publik agar terjadi pembelahan fokus.. > Dan memang terbukti, tidak hanya masyarakat umum, berbagai politisi elite > turut mencurahkan fokusnya pada pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta > tersebut. > > Jika memang benar nama Ahok digunakan sebagai strategi propaganda untuk > membelah fokus, konteks ini adalah apa yang telah dijelaskan oleh Noam > Chomsky dalam bukunya *Politik Kuasa Media*. Chomsky bahkan dengan berani > menyebutkan bahwa peran media dalam percaturan politik kontemporer telah > memaksa kita untuk mempertanyakan demokrasi seperti apa yang kita tempati > saat ini? > > Menurutnya, media yang disebut sebagai salah satu pilar demokrasi, justru > telah lama digunakan oleh kekuasaan dalam menyebarkan propaganda guna > mendukung agenda mereka. Chomsky misalnya mencontohkan propaganda > pemerintah Amerika Serikat (AS) di tengah Perang Dunia I yang menggunakan > media dan selebaran, telah berhasil membius warga AS yang semula > anti-perang menjadi massa yang histeris, haus perang, dan ingin > menghancurkan Jerman. > > Di Indonesia, konteks yang disebutkan Chomsky terjadi pada Televisi > Republik Indonesia (TVRI) yang pada saat itu menjadi “humas” dan *alat > propaganda* <https://tirto.id/alat-kekuasaan-bernama-tvri-cUvu> pemerintahan > Soeharto. > > Akan tetapi, tidak seperti sebelumnya, media saat ini tidak hanya menjadi > milik pemerintah, melainkan juga beradu narasi dengan media-media swasta > lainnya. Ini misalnya dapat kita lihat dengan masih banyaknya media yang > tetap memberikan fokus utama pada penanganan pandemi Covid-19, meskipun isu > Ahok tengah menjadi perhatian hangat. > > Oleh karenanya, kendati tetap bekerja, dengan adanya media tandingan saat > ini, taktik semacam itu sudah seharusnya mendapat evaluasi tersendiri jika > memang benar itu telah dilakukan oleh pemerintah. > > Akan tetapi, tentu perlu ditegaskan, benar tidaknya digunakan Ahok sebagai > alat pembelah fokus hanya menjadi interpretasi atau obrolan di warung kopi > semata. Namun, satu hal yang jelas, seperti yang disebutkan oleh Freud, > boleh jadi kritik Ahok tersebut hanyalah puncak dari kejengkelan sang Komut > karena tidak tahan dengan kinerja direksi Pertamina. > > Mari kita berharap agar pemerintah dapat mengatasi pandemi Covid-19 dengan > baik dan Ahok mampu memberikan kinerja terbaiknya bagi Pertamina. Menarik > untuk ditunggu kelanjutannya. (R53) > > >
