https://www.eramuslim.com/berita/nasional/prof-salim-komunisme-sudah-bangkrut-tapi-ada-partai-yang-melanjutkan-nasakom-soekarno.htm#.X2-zAGgza00

*Prof Salim: Komunisme Sudah Bangkrut, tapi Ada Partai yang Melanjutkan
Nasakom Soekarno*

*9*
<https://www.eramuslim.com/berita/nasional/prof-salim-komunisme-sudah-bangkrut-tapi-ada-partai-yang-melanjutkan-nasakom-soekarno.htm#>
Redaksi – Sabtu, 7 Safar 1442 H / 26 September 2020 09:00 WIB



Eramuslim.com – Pengamat politik dan militer Prof Salim Said menilai
komunisme sebagai ideologi sudah bangkrut.

Namun, mahaguru di Universitas Pertahanan itu mengaku bisa memahami
kekhawatiran mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo tentang
kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Saya adalah orang yang berkobar-kobar seperti biasa saja bicara bahwa
komunisme itu udah bangkrut,” ujar Salim sebagaimana disarikan dari kanal
Hersubeno Point di YouTube, Jumat (25/9).

Mantan wartawan itu mengaku pernah mengunjungi Uni Soviet yang kini bubar
dan menjadi Rusia. Salim juga pernah menjadi Ambasador RI di Republik Ceko
yang notabene bekas negara komunis.

“Di sana partai komunis, tidak ada lagi bekasnya,” katanya.
------------------------------
------------------------------

Salim juga menilai Tiongkok yang dikuasai partai komunis pun sudah tidak
menerapkan komunisme lagi. Peraih gelar doktor dari Ohio University,
Amerika Serikat itu lantas menyitir pernyataan Deng Xiaoping, pemimpin
tertinggi Tiongkok era 1980-an.

“Masih ingat ucapan Deng Xiaoping? Tidak penting kucing itu hitam atau
putih yang penting bisa menangkap tikus. Itulah filsafat yang dijalankan
Tiongkok,” tuturnya.

Lantas, mengapa di Indonesia masih ramai soal komunis? Salim menyebut hal
itu tak lepas dari perjalanan sejarah.



PKI itu pandai betul menyusup,” katanya. “Jadi sejarah Indonesia ini
menunjukkan bahwa PKI itu tidak pernah berkuasa sebenarnya tetapi ikut
berkuasa karena ada doktrin Nasakom (nasionalis, agama dan komunis, red),”
ulasnya.

Menurut Salim, Nasakom merupakan ide Bung Karno. Proklamator RI itu
memiliki obsesi besar tentang persatuan sehingga berupaya menyatukan
kalangan nasionalis, Islam dan komunis.

“Tidak ada masalah waktu itu,” katanya. “Bahkan banyak orang PKI itu
tokoh-tokoh Islam tadinya, jadi nggak ada masalah.”

Namun setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S (Gestapu), kata
Said memaparkan, Bung Karno tetap mempertahankan idenya tentang Nasakom.
“(Bung Karno, red) tidak mengkritik Nasakom dan tidak pernah membubarkan
PKI,” tegasnya.

Salim menambahkan, pascareformasi ada PDI Perjuangan yang menurutnya
berupaya melanjutkan kebijakan Bung Karno. Selain itu, di PDIP ada Ribka
Tjiptaning yang menulis buku Aku Bangga Jadi Anak PKI.
------------------------------
------------------------------

“Dia pengurus PDIP dan tidak pernah ditegur oleh PDIP, dibiarkan.
Kesimpulan orang bahwa PDIP itu menganggap PKI itu tidak apa-apa, Nasakom
itu tidak apa-apa,” ulas penulis buku Dari Gestapu ke Reformasi itu..

Salim pun menganggap kecemasan Gatot Nurmantyo soal PKI merupakan bentuk
kesadarannya yang tinggi akan ancaman kebangkitan komunis. “Bukan ancaman
partai komunis. Partai komunis itu tidak akan bangkit lagi karena sudah
bangkrut,” sambungnya.

Salim juga menyodorkan analisisnya soal Gatot yang getol berkoar soal
komunisme sekarang ketimbang saat masih menjadi Panglima TNI.

“Kenapa tidak dari dulu waktu jadi panglima, jawabannya karena dia jenderal
yang taat, hormati aturan, dan disiplin. Dia tidak bisa ngomong
sembarangan. Paling jauh, ya sudah tonton itu film G30S/PKI,” kata Salim.
(*)

Kirim email ke