-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/read/detail/347926-misteri-harta-karun-soekarno




Sabtu 26 September 2020, 03:05 WIB 

Misteri Harta Karun Soekarno Guntur Soekarno 

Pengamat Sosial | Opini 

  Misteri Harta Karun Soekarno Dok. Pribadi DARI penelitian yang dilakukan 
sebuah badan penelitian internasional dari seluruh presiden Indonesia, yang 
paling terkaya, di urutan pertama, ialah Bung Karno dengan total kekayaan 
ditaksir + Rp55 triliun. Terdiri dari benda-benda tak bergerak seperti tanah, 
rumah, dan logam mulia berupa batangan emas yang berton-ton beratnya disimpan 
di bank-bank Swiss. Di era Orde Baru, Soeharto pernah membentuk sebuah, 
katakanlah, tim untuk memburu harta karun Bung Karno tadi. Namun, hasilnya 
nihil karena semua itu tidak ditemukan. Setelah Bung Karno wafat pada 21 Juni 
1970 banyak sekali oknum yang mengaku-ngaku dapat memberikan petunjuk bahkan 
dengan data dan fakta-fakta autentik untuk memperoleh harta karun Bung Karno 
tersebut. Banyak kalangan, bahkan pejabatpejabat tinggi Indonesia saat itu, 
yang tertipu jutaan rupiah karena percaya pada ocehan oknum-oknum tersebut. 
Mereka datang, terutama kepada keluarga almarhum Bung Karno, khususnya saya. 
Bila dihitung, barang kali ada puluhan oknum tadi yang menghubungi. Karena saya 
tahu fakta yang sebenarnya, saya tidak pernah percaya kepada bujukan mereka. 
Bukan karena saya ingin membela ayah saya. Namun, saya tahu pasti bahwa Bung 
Karno sejak sebelum menjadi presiden sampai menjadi presiden sebenarnya ialah 
seorang yang kantongnya selalu tipis. Sebagai presiden, Bung Karno ialah 
presiden yang paling miskin di dunia ini. Ia tidak punya tanah, tidak punya 
rumah, apalagi logamlogam mulia seperti yang digembargemborkan orang selama 
ini. Dari gaji resmi presiden yang diterima dari negara sampai dengan 
diturunkan pada 1967, gajinya tidak pernah mencukupi kebutuhan keluarga 
sehari-harinya. Oleh karena itu, Bung Karno kerap kali meminjam uang atau minta 
bantuan keuangan dari sahabatsahabatnya sejak zaman pergerakan tempo dulu, 
yakni Dasaad Muhsin. Dasaad memang seorang pribumi yang sukses dalam dunia 
usaha. Selain Dasaad, kadang-kadang minta bantuan ke Teuku Markam. Walaupun 
begitu, di 1966, 1967, dan seterusnya tetap saja Bung Karno diberi gelar 
‘koruptor agung’! Saking kesalnya kepada oknum-oknum yang selalu menghubungi 
saya untuk minta bertemu, suatu saat saya menyatakan bersedia bertemu. 
Oknum-oknum tadi berasal dari Malaysia. Saat ini, saya sudah lupa siapa 
namanya. Pada hari yang sudah disepakati, oknum tadi bersama dengan beberapa 
kawannya datang menemui saya di kantor Jalan Dempo, Kebayoran Baru, Jakarta 
Selatan. Setelah berbicara ngalor-ngidul, akhirnya dia menyerahkan setumpuk 
dokumen yang katanya autentik mengenai keberadaan emas-emas batangan di Swiss 
yang jumlahnya berton-ton itu. Dalam hati saya berpikir, mana ada bank di Swiss 
yang punya ruang deposit sebesar Fort Knox di USA?! Hal yang membuat saya kaget 
dan geleng kepala, oknum itu menyodorkan contoh emas batangan kepada saya untuk 
diperiksa. Ketika itu, saya benar-benar mulai kesal dan dongkol melihat ulah si 
oknum tadi. Segera saya panggil office boy dan minta sebuah gergaji besi. 
Setelah melihat saya minta gergaji besi, si oknum tampak gelisah dan 
berkeringat dingin, serta bertanya untuk apa gergaji besi tadi. Saya hanya 
menjawab, “Lihat saja nanti.” Setelah gergaji besi saya peroleh, langsung emas 
batangan tadi saya potong menjadi dua bagian dan ternyata emasnya hanya ada di 
lapisan luar saja, sedangkan di dalamnya terdiri dari besi kancur murahan! Dua 
potongan tadi langsung saya lempar ke oknum tersebut, sambil saya bentak: ”You 
are crazy Malaysian, go to hell with your gold!” Sambil ketakukan oknum tadi 
minta maaf dan mohon ampun agar jangan dilaporkan ke pihak yang berwajib. 
Setelah emosi mereda, saya katakan kepada mereka, saya tidak akan ungkit-ungkit 
lagi masalah ini dan silakan mereka pulang secara baik-baik ke Malaysia. 
Sebelum mereka mohon diri, saya menyuruh mereka minum kopi pahit dulu. Dengan 
kejadian di atas, saya menjadi lebih yakin lagi akan kebohongan berita-berita 
mengenai harta karun Bung Karno. Pada 1965 sekelompok pendulang intan di bawah 
pimpinan H Madsalam menemukan intan sebesar telur burung merpati di Sungai 
Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Intan itu mereka 
persembahkan kepada Bung Karno sebagai Presiden RI. Oleh Bung Karno, intan 
tersebut diberi nama Intan Trisakti dan setelah digosok, beratnya menjadi + 
166,75 karat dengan harga saat itu sekitar Rp10 triliun. Jadi, kalau 
dijumlahkan dengan harta kekayaan Bung Karno yang katanya Rp55 triliun, total 
kekayaan pribadi Bung Karno menjadi Rp65 triliun! Hebat! Intan Trisakti raib? 
Secara tegas, Bung Karno memutuskan Intan Trisakti bukan milik pribadi Bung 
Karno, melainkan milik Negara RI dan diinstruksikan agar intan tersebut 
disimpan di ruang khusus Bank Indonesia tempat penyimpanan Piala Thomas dan All 
England yang diperoleh Indonesia. Kepada kelompok pendulang H Madsalam, 
pemerintah memberikan katakanlah ganti rugi setelah terkena sanering 
(pemotongan uang) sebesar Rp3,5 juta untuk biaya naik haji kelompok tersebut 
beserta keluarga mereka yang berjumlah sekitar 80 orang. Untuk diketahui, 
lokasi pendulang di Kalimantan kebanyakan berlokasi di Sungai Tiung di 
titik-titik Pumpung dan Ujung Murung. Intan-intan lain yang ditemukan di lokasi 
Cempaka antara lain Intan Putri Malu, Intan Galuh Cempaka 5, dan Intan Galuh 
Plumpung. Ada kepercayaan di kalangan para pendulang di Kalimantan, kata-kata 
intan atau berlian tabu untuk dipergunakan dan bila menyebut intan, harus 
diganti dengan kata galuh. Baik di era Orba maupun Orde Reformasi keberadaan 
Intan Trisakti tidak diketahui. Secara sepintas, saya pernah menanyakan hal 
tersebut kepada salah satu Gubernur Bank Indonesia. Ternyata, yang bersangkutan 
tidak tahu-menahu adanya Intan Trisakti, apalagi disimpan di Bank Indonesia. 
Padahal, penemuan Intan Trisakti sempat menggemparkan kalangan dunia batu 
mulia. Intan tersebut hanya kalah besar dari intan terbesar di dunia yang 
menempel pada mahkota Ratu Elizabeth II dari Inggris dan bernama Intan 
Koh-I-Noor. Ternyata Intan Trisakti sampai saat ini tidak diketahui di mana 
keberadaanya, hilang dan raib dari persada Nusantara!

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/read/detail/347926-misteri-harta-karun-soekarno







Kirim email ke