-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-5191749/isu-xinjiang-terus-digoreng-bagian-dari-perang-dagang?tag_from=wp_cb_kolom_list




Kolom

Isu Xinjiang Terus Digoreng Bagian dari Perang Dagang

Drs H Agus Fathuddin Yusuf MA - detikNews

Senin, 28 Sep 2020 19:04 WIB
6 komentar
SHARE
URL telah disalin
Drs H Agus Fathuddin Yusuf MA
Foto: Istimewa
Jakarta -

Isu Xinjiang menyangkut Muslim Uighur, masjid, kamp pelatihan atau apa saja 
soal Xinjiang menjadi berita seksi yang tak ada habis-habisnya. Lembaga 
Kebijakan Strategis Australia (ASPI) Kamis lalu (24/9) merilis laporan yang 
memperkirakan sekitar 16.000 masjid di Xinjiang hancur atau rusak akibat 
kebijakan pemerintah China, sebagian besar terjadi sejak 2017.

Setahun lalu heboh soal kamp pengungsian di Xinjiang, umat Islam dilarang 
puasa, dilarang salat, dan sebagainya. Bagi Indonesia dengan jumlah umat Islam 
terbesar di dunia, isu Muslim Uighur akan terus dihembuskan dan 
'digoreng-goreng' untuk memperkuat sentimen anti China. Untuk negara lain yang 
beragama Hindu-Budha akan dihembuskan isu Tibet. Untuk negara lain di kawasan 
Asia dihembuskan perebutan wilayah di Laut China Selatan. Selebihnya isu 
komunis (PKI) dan lain-lain.

Tahun 2011-2015 selama empat tahun saya mengambil Master Jurnalistik di 
Nanchang University, Provinsi Jiangxi, China tidak pernah sekali pun mendapati 
kejadian menyangkut isu agama di daerah itu. Bahkan hampir setiap hari saya 
bertemu dengan teman-teman Muslim Uighur yang sama-sama mendapat beasiswa 
pendidikan dari pemerintah China. Mereka pun tidak pernah memperbincangkan 
keadaan kampung halamannya seperti yang diberitakan media di Indonesia. Kerap 
kali saya ditanya oleh saudara di Tanah Air, ada kejadian apa di Xinjiang? Saya 
jawab baik-baik saja. Di China aman-aman saja tidak pernah ada kejadian 
aneh-aneh.

Bagi umat Islam yang tidak paham dengan kondisi sesungguhnya bagaimana Islam di 
China, pasti sangat mudah untuk disulut sentimen anti China dengan isu Uighur 
atau Xinjiang. Tetapi bagi saya dan mungkin sebagian besar pelajar yang pernah 
belajar di China beberapa tahun lamanya akan tertawa membaca atau mendengar 
berita yang sering 'digoreng-goreng' menyangkut Xinjiang.

Umat Indonesia sebaiknya memahami, muslim di China itu bukan hanya suku atau 
etnis Uighur saja. Ada juga suku Hui di Ningxia, Hainan, Gansu, Yunnan, 
Qinghai, Xian dan lain-lain.

Di Kota Nanchang terdapat satu masjid besar yang dibangun oleh pemerintah 
komunis. Bahkan pada saat peresmian masjid itu yang hadir pimpinan partai 
komunis sendiri. Kalau Anda hadir di Guangzhou, ibu kota Guangdong Anda akan 
mendapati masjid Abi Waqash yang berdekatan dengan makam Abi Waqash. Masjid 
yang kabarnya dibangun zaman Sahabat Ustman RA masih kokoh berdiri hingga 
sekarang. Padahal di kanan-kiri areal masjid sudah menjadi kawasan 
gedung-gedung bertingkat. Masjid Niujie di Capital City, Beijing, di Ningxia 
bahkan di Kota Xian terdapat Masjid Agung peninggalan 1.000 tahun lalu.

Hari-hari biasa kami para mahasiswa muslim dari berbagai negara di dunia, salat 
zuhur, ashar, dan maghrib di kampus tidak ada persoalan. Meski belum ada masjid 
permanen setidak-tidaknya ada ruangan yang bisa kami gunakan untuk salat.

Menurut Atase Pendidikan KBRI Beijing, Yahya Sutarya, kebebasan beragama di 
China sangat dijamin. Sebanyak 15.471 mahasiswa asal Indonesia di China 
mayoritas beragama Islam. "Mereka nyaman belajar tidak ada masalah. Rumah 
ibadah banyak, restoran halal juga banyak.Kegiatan agama tidak ada kendala," 
kata Yahya.

"Kampus-kampus di seluruh China juga menyediakan makanan halal dan fasilitas 
ibadah. Seluruh masyarakat Muslim dapat beribadah dengan baik dan tenang. 
Demikian juga perayaan hari-hari raya keagamaan seperti Idulfitri, Iduladha 
juga berjalan dengan aman di China," tegasnya.

Membantah

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menyebutnya hanya rumor 
fitnah. Dia mengatakan ASPI telah menerima dana asing untuk mendukung ramuan 
kebohongan terhadap China. "Jika kita melihat jumlahnya, ada lebih dari 24.000 
masjid di Xinjiang, yang 10 kali lebih banyak daripada di Amerika Serikat 
(AS)," kata Wang.

"Artinya, ada masjid untuk setiap 530 warga muslim di Xinjiang, yang lebih 
banyak masjid per kapita daripada banyak negara muslim," imbuhnya.

Kementerian Luar Negeri China membantah klaim dari sebuah lembaga pemikir 
Australia bahwa China telah menghancurkan ribuan masjid di wilayah Xinjiang 
barat. Pemerintah China menyebutkan ada lebih dari 24.000 masjid di sana, dan 
kalau dihitung per kapita, jumlah masjid di Xinjiang lebih banyak daripada di 
negara-negara muslim.

Wang menduga perkiraan ASPI dibuat menggunakan citra satelit dan berdasarkan 
sampel dari 900 situs keagamaan sebelum 2017, termasuk masjid, tempat suci, dan 
situs keramat.

"Pemerintah China telah memulai kampanye sistematis dan sengaja untuk menulis 
ulang warisan budaya Uighur Xinjiang untuk membuat tradisi budaya asli tunduk 
pada bangsa China," demikian laporan ASPI seperti dikutip Reuters.

"Di samping upaya koersif lainnya untuk merekayasa ulang kehidupan sosial dan 
budaya Uighur dengan mengubah atau menghilangkan bahasa, musik, rumah, dan 
bahkan makanan Uighur, kebijakan pemerintah China secara aktif menghapus dan 
mengubah elemen kunci dari warisan budaya nyata mereka," sebut laporan tersebut.

China membantah memperlakukan orang Uighur dengan buruk, dan mengatakan 
kamp-kamp itu adalah pusat pelatihan kejuruan yang diperlukan untuk mengatasi 
ekstremisme.

Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj, saat bedah buku 'Islam Indonesia 
dan China, Pergumulan Santri Indonesia di China' di aula PBNU Jalan, Kramat 
Raya, belum lama ini merasa yakin tidak ada diskriminasi apalagi kekerasan 
(perkusi) terhadap etnis Uighur dan minoritas Muslim lainnya di Xinjiang, 
China. Dia menganggap pemberitaan persekusi yang dialami etnis Uighur di 
beberapa media tidak tepat lantaran pemerintah China menjamin hak beribadah 
suku minoritas tersebut.

Menurut Said Aqil, saat ini justru terlihat semakin banyak pembangunan masjid 
di China, terutama di Xinjiang. Ia juga mengatakan imam-imam masjid di seluruh 
China mendapatkan fasilitas hingga jaminan hidup yang memadai dari pemerintah. 
"Sebagian besar imam masjid bahkan diberikan beasiswa untuk mendalami Islam dan 
bacaan Alquran ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir," tegasnya.

"Sekarang, Islam sudah berkembang dengan baik di China. Pemerintah di sana 
bahkan memberi perhatian kepada umat Muslim di sana dengan memperbaiki 
masjid-masjid bahkan lahir ratusan restoran halal di mana-mana," tegas Said 
Aqil.

Said Aqil bahkan menyarankan pemerintah Indonesia tidak perlu 'ikut-ikutan' 
sejumlah negara Barat untuk mengangkat tudingan persekusi etnis Uighur di forum 
internasional. "Xinjiang sudah bagus sekali kok. Tidak perlu," ujarnya.

Said Aqil menegaskan China sangat membuka diri terhadap Islam. Ia mengatakan 
negara itu juga menjadi salah satu negara di Dewan Keamanan Perserikatan 
Bangsa-Bangsa (PBB) yang selalu mendukung kemerdekaan Palestina. "RRC (Republik 
Rakyat China) selalu berpihak ke Palestina di PBB. China jarang menggunakan hak 
veto dan China bukan penjajah. Ide penjajah itu berasal dari Inggris dan 
Perancis. China hanya pedagang dan pendatang," tegas Said Aqil.

Berkembang Baik

Pernyataan Said Aqil dibenarkan aktivis Guangdong Islamic Association Wang Yu 
Xia. Perempuan berjilbab asli China itu menceritakan bagaimana situasi 
keagamaan di negaranya. Menurutnya, perkembangan Islam di China kian membaik 
berbagai regulasi yang berpihak kepada Muslim pun telah diberlakukan sejak 
puluhan tahun yang lalu.

Ia menuturkan kebebasan beragama di China mendapat respons positif dari 
pemerintah sehingga umat Islam di China dapat beribadah secara tenang. Bahkan, 
di setiap kota telah terbentuk asosiasi umat Islam (seperti MUI di Indonesia).

"Pemerintah China mempersilahkan orang memilih keyakinannya masing-masing, hal 
itu tentu berpegang pada prinsip dasar keagamaan bahwa negara memiliki 
kebebasan menganut agama tertentu," kata Wang Yu Xia.

Wang Yu Xia mengatakan Umat Islam China hidup berdampingan dengan pemeluk agama 
lain dengan suasana kerukunan yang positif. Mereka hidup berkeluarga dengan 
berbagai aktivitas keagamaannya masing-masing.

Duta Besar China Xiao Qian saat berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) 
Semarang mengatakan, kasus Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang bukan masalah 
agama. Melainkan persoalan politik akibat segelintir orang dari Uighur yang 
menggunakan kekerasan dan terorisme untuk melepaskan diri dari pemerintah yang 
sah.

"Kami sudah sampaikan kepada tokoh muslim sedunia, Nahdlatul Ulama, 
Muhammadiyah di mana-mana kami bersahabat dengan muslim. Ini bukan masalah 
agama tetapi kedamaian negara yang dirusak oleh perilaku kekerasan, terorisme 
dan separatisme," tegas Xiao Qian.

Ketua Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Prof Dr H 
Noor Achmad mengatakan sangat memahami apa yang dilakukan pemerintah China 
dalam menangani umat Islam di Xinjiang.

"Munculnya informasi yang beragam mempengaruhi kesan yang tidak bagus dari umat 
Islam Indonesia terhadap pemerintah China harus diluruskan oleh pihak-pihak 
yang mempunyai otoritas dan kewenangan," katanya.

Selanjutnya dalam rangka untuk mempererat persahabatan antara umat Islam 
Indonesia-China menurutnya perlu ditingkatkan kerja sama di berbagai bidang 
terutama pendidikan, kebudayaan dan ekonomi. "Pemerintah China juga harus 
berani membuka lebar-lebar informasi tentang umat Islam China dan 
mempersilahkan kepada siapa saja untuk berkunjung ke daerah-daerah muslim," 
katanya.

Semoga tulisan ini bermanfaat Amin.

Drs H Agus Fathuddin Yusuf MA, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik (Fisip) 
Universitas Wahid Hasyim (Unwaha) Semarang, alumni Nanchang University, Jiangxi 
Province, RRC.
(ads/ads)
uighur
china






Kirim email ke