Thu, 6 Apr 2000 09:35:44 +0700
---------------------------------------------------------

ISTIQLAL (5/03/2000)#

*G.30-S MENUNGGANGI SUKARNO,*

*SUHARTO MENUNGGANGI G.3O-S*

Oleh: *Alam Tulus*

Setelah Presiden Gus Dur meminta maaf atas terbunuhnya orang-orang yang disangka komunis dan di antara pembunuhnya terdapat orang-orang NU maka Gus Dur juga meminta supaya masalah G.30-S diusut kembali.

Sutomo Martopradoto, mantan Menteri Perburuhan periode Agustus 1964-April 1966 menjawab pertanyaan wartawan mengatakan kelompok komunis itu merasa cemas dengan sakitnya Bung Karno. Kalau Sukarno wafat, mereka akan dihabisi. Karena itu Aidit cs tergiur melakukan kup, dibantu oleh Syam.

Dari jawaban Sutomo yang singkat itu cukup jelas, bahwa Sutomo berkecenderungan untuk menyatakan G.30-S itu adalah kudeta Aidit sesuai dengan apa yang dituduhkan Suharto selama ini. Benarkah G.30-S itu kudeta atau pemberontakan yang dilancarkan PKI untuk menggulingkan Presiden Sukarno atau sebaliknya justru G.30-S itu telah digunakan Suharto untuk menghancurkan PKI dan menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya?

*TUDUHAN SUHARTO: G.30-S PKI*

Seperti diketahui dini hari 1 Oktober 1965, G.30-S melancarkan operasi militernya, "dengan alasan untuk menggagalkan rencana kudeta dari Dewan Jenderal terhadap Presiden Sukarno.

Menurut Yoga Sugama (Memori Jenderal Yoga, hal 148) pada pagi l Oktober 1965, dirinyalah yang pertama tama tiba di Kostrad. Setelah Ali Murtopo datang, maka kepada Ali Murtopo, Yoga Sugama memastikan bahwa yang melancarkan gerakan penculikan dini hari tsb adalah anasir PKI. Ali Murtopo tidak begitu saja mau mempercayai keterangan Yoga Sugama.

Setelah ada siaran RRI jam 7.20 ( pagi), yang mengatakan telah terbentuk Dewan Revolusi, dengan diketahui oleh Letkol Untung, maka Yoga Sugama segera memperkuat kesimpulannya di atas. Sebab menurut Yoga Sugama ia kenal Untung sebagai perwira TNI-AD yang berhaluan kiri. Untung pernah menjadi anak buahnya ketika RTP II bertugas menumpas PRRI di Sumatera Barat.

Jenderal Suharto yang datangnya di Kostrad belakangan dari Yoga Sugama, juga bertanya pada Yoga Sugama: "Apa kira-kira Presiden Sukarno terlibat dalam gerakan ini?" Yoga Sugama dengan tegas menjawab:" Ya ". Tuduhan Yoga Sugama bahwa di belakang gerakan ini anasir PKI serta presoden Sukarno terlibat di dalamnya, tampaknya menjadi pegangan Suharto.

Pada jam 9.00 (pagi) Jenderal Suharto memberikan briefing di Kostrad. Dengan tegas ia mengatakan: "Saya banyak mengenal Untung sejak dulu. Dan Untung sendiri sejak tahun 1945 merupakan anak didik tokoh PKI Pak Alimin".

Suharto bohong. Sebab, Pak Alimin baru kembali di Indonesia pertengahan tahun 1946. Bagaimana mungkin Pak Alimin mendidik Untung sejak tahun 1945, padahal ketika itu Pak Alimin masih berada di Tiongkok daratan? Hal ini dapat diketahui dengan membaca majalah Bintang Merah Agustus 1946 yang terbit di Solo. Di sana dimuat wawancara Pak Alimin yang dilakukan Redaksi Bintang Merah dengan Pak Alimin sekitar kepulangannya ke Indonesia.

Faktor Untung yang memimpin G.30-S itulah yang digunakan Suharto untuk memastikan PKI-lah yang menjadi dalang G.3O-S. Apalagi setelah Editorial Harian Rakyat (2 Okt 1965) mengatakan bahwa, "G.30-S adalah persoalan intern angkatan darat dan HR mendukung gerakan perwira-perwira yang maju". Mendukung tidak sama dengan memimpin atau mendalangi. Peranan pendukung hanya di pinggir.

Adalah suatu hal yang tidak mungkin PKI akan melakukan pemberontakan atau melakukan kudeta terhadap presidan Sukarno. Melakukan kudeta atau pemberontakan terhadap Presiden Sukarno adalah bertentangan dengan garis Nasional ke-V PKI di tahun 1954, yang menetapkan untuk mencapai tujuan Demokrasi Rakyat, PKI akan menempuh jalan demokratis dan parlementer, bukan pemberontakan bersenjata.

Suatu hal yang tidak masuk akal PKI akan melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan presiden Sukarno, karena pemerintahan Presiden Sukarno itu menguntungkan posisi PKI.

Bila G.30-S pemberontakan PKI, artinya pemberontakan itu terjadi 1 Oktober 1965, maka Nyoto, orang ketiga PKI yang hadir dalam sidang Kabinet 6 Oktober 1965 di Bogor, mengapa tidak ditangkap?

Karena Presiden Sukarno tidak pernah merasa diberontaki PKI, maka sampai akhir hayatnya Presiden Sukarno tidak mau membubarkan PKI.

Juga Brigjen Supardjo bukannya melapor kepada: Aidit di Halim 1 Okt 1965, melainkan melapor kepada Presiden Sukarno. Kalau PKI yang mendalangi G.30-S, atau melakukan pemberontakan, tentu BrigJen Supardjo akan melapor kepada Aidit, bukan pada presiden Sukarno.

*GESTOK*

Berbeda dengan yang lain, Presiden Sukarno menamakan gerakan 30 September itu ialah GESTOK (Gerakan 1 Oktober). Mengapa Presiden Sukarno menamakan nya GESToK?

Menurut Solichin Salam (Bung Karno Putra fajar, Solichin Salam, hal 278) melalui bukunya "Bung Karno Putra Fajar" (1984) bahwa dirinya mengajukan pertanyaan kepada Presiden Sukarno sbb: "Di dalam  masyarakat timbul dua perbedaan pengertian mengenai nama "Gestapu" dan Gestok. Kalau gestapu itu adalah gerakannya Letkol Untung yang didalangi serta disokong PKI. Kalau Gestok itu ialah gerakan jenderal." Atas pertanyaan ini, Bung Karno menjelaskan sbb:

"Nama "Gestapu " itu siapa yang memberikannya?" (Pertanyaan Presiden tsb dijawab penulis: Brigjen RH Sugandhi. Presiden bertanya kembali: "Dari mana penulis tahu?". Beliau sendiri yang mengatakan kepada saya." Sesudah ini baru Presiden menjelaskan bahwa:

"Kalau PKI sendiri mengatakan gerakan tsb bukan Gestapu, akan tetapi "Getipus" (Gerakan 30 September). Adapun saya memberikan nama Gestok itu, karena gerakan G.30-S itu dilaksanakannya tidak pada hari 30 September 1965, melainkan sesudah masuk tanggal 1 Oktober 1965. Disamping itu singkatan Gestapu itu dipakai dengan maksud untuk mengindentikan dengan Gestaponya Hitler. Itulah sebabnya saya memakai nama "Gestok".

Pada tanggal 1 Oktober itu juga Jenderal Suharto tanpa sepengetahuan Presiden Sukarno, apalagi persetujuan, telah mengangkat dirinya menjadi pimpinan Angkatan Darat. Padahal jabatan panglima suatu angkatan, adalah hak prerogatif Presiden menentukan siapa yang akan memangkunya. Jabatan panglima adalah jabatan politik.

Pada 1 Oktober 1965 itu juga, Suharto memberi "4 petunjuk" kepada Presiden Sukarno melalui Kolonel KKO Bambang Widjanarko. Jadi, pada 1 Oktober itu bukan Presiden Sukarno lagi yang memberi petunjuk apa yang harus dikerjakan Suharto sebagai bawahannya, melainkan Suharto yang mengatur apa yang harus dikerjakan Presiden Sukarno. Itu artinya kekuasaan secara de facto  sudah berada di tangan Suharto. Empat petunjuk (AM Hanafi Menggugat, Kudeta Jenderal Suharto dari Gestapu ke Supersemar, hal 262) Suharto tsb, sbb;

1.Mayjen Pranoto Rekso Samudro dan Mayjen Umar Wirahadikusumah tidak dapat menghadap Presiden Sukarno untuk tidak menambah korban. (Artinya jika jenderal Pranoto dan Umar Wirahadikusumah ke Halim, tentu akan dibunuh pula, seperti jenderal-jenderal yang telah dibunuh pagi hari itu. Petunjuk ini mengandung tuduhan bahwa Presiden Sukarno yang bertanggungjawab atas terbunuhnya Jenderal Yani cs dini hari 1 Oktober 1965, pen).

2.Mayjen Suharto untuk sementara telah mengambil over pimpinan TNI AD berdasarkan Perintah tetap Men/Pangad (Perintah tetap yang dimaksud ialah konsensus yang berlaku di kalangan TNI-AD, jika Pangad berhalangan, Panglima Kostrad otomatis penggantinya. Hak prerogatif Presiden dikesampingkannya saja. Atau dinilainya kedudukan konsensus dalam TNI-AD lebih tinggi dari hak prerogatif Presiden, pen).

3.Diharapkan agar perintah-perintah Presiden Sukarno selanjutnya disampaikan melalui Mayjen Suharto. (Petunjuk 3 ini berarti Mayjen Suharto yang mengatur apa yang harus dikerjakan Presiden Sukarno dan bukan sebaliknya, meskipun diselimuti dengan kata-kata "diharapkan". Seharusnya Presiden Sukarno selaku Pangti ABRI yang mengatur apa yang harus dilakukan Suharto, pen).

4.Mayjen Suharto memberi petunjuk kepada Kolonel KKO Bambang Widjanarko agar berusaha membawa Presiden Sukarno keluar dari Pangkalan Udara HP, karena pasukan yang berada di bawah komando Kostrad akan membersihkan pasukan-pasukan pendukung G.3O-S yang berada di Pangkalan Udara HP sebelum tengah malam 1 Oktober 1965 (Petunjuk 4 ini berarti Mayjen Suharto memerintahkan Presiden Sukarno meninggalkan Pangkalan Udara HP sebelum tengah malam, karena Halim akan diserang. Padahal sebelumnya Presiden Sukarno telah mengeluarkan perintah lisan kepada Brigjen Supardjo untuk menghentikan operasi militer G.3O-S dan jangan bergerak tanpa komandonya. Ketaatan pasukan G.30-S atas perintah lisan Presiden Sukarno, dimanfaatkan Suharto untuk "memukul" pasukan G.30-S, pen) (G.30-S Pemberontakan PKI, hal 146-147 ).

Setelah melalui kekuasaan secara de facto, maka kemudian Suharto meningkatkannya menjadi kekuasaan secara de jure melalui dimanipulasinya Supersemar sebagai pelimpahan kekuasaan, padahal hanya tugas pengamanan.

*BUKAN AIDIT DAN PKI*

AM Hanafi melalui bukunya "AM Hanafi menggugat" mengemumakan kesimpulannya bahwa G.30-S menunggangi Sukarno dan Suharto menunggangi G.30-S. Lebih jelasnya sbb:

"Kalau sungguh-sungguh mau menemukan dari mana sumber kesalahan paling pokok, yang menimbulkan malapetaka, yang "dimahkotai" oleh kemenangan coup d'etat Suharto, dengan penyembelihan sejuta lebih rakyat yang tidak berdosa itu, saya berpendapat pertama-tama bukanlah harus dicari pada Sukarno, juga bukan kepada Aidit dan PKI, tetapi terhadap mereka yang telah melacurkan diri kepada Amerika. Mereka itulah yang mengacau dengan menjalin-jalin jerat provokasi: Dengan apa yang disebut Gerakan Tigapuluh September (Gestapu). Dari situlah Suharto mulai menggunakan Gestapu itu sebagai kuda tunggangannya untuk mencapai puncak kekuasaan, kemudian merestorasi neo kolonialisme di Indonesia seperti yang dialami sekarang.

Tapi jelas, Gestapu itu bukan PKI dan PKI bukan Gestapu!!! Gestapu menunggangi Sukarno, Suharto menunggangi Gestapu. Kesimpulan AM Hanafi ini sesuai dengan fakta-fakta sbb:

1).G.30-S menunggangi Sukarno:

    a. Atas nama hendak menggagalkan rencana Kudeta Dewan Jenderal terhadap Presiden Sukarno, G.30-S melancarkan operasi militernya pada dini hari 1 Oktober 1965.

    b. Untuk keperluan operasi tsb, G.30-S menggunakan pasukan pengawal Presiden Sukarno, Cakrabirawa.

2). Suharto menunggangi G.30 S:

    a. Brigjen Supardjo dan Letkol Untung meminta Kolonel Latief pada tanggal 30 September 1965 untuk menyampaikan kepada Jenderal Suharto, rencana pengambilan 7 jenderal pada dini hari 1 Oktober 1965. Dengan adanya laporan itu, maka Suharto dapat mempersiapkan diri apa yang harus dikerjakannya supaya dapat berkuasa.

    b. Pada tanggal 30 September malam itu yang tidak diawasi oleh pasukan G.30-S hanya sisi markas Kostrad, sedang daerah lain di Merdeka Selatan diawasi. Dengan tidak diawasinya sisi markas Kostrad maka memberi keleluasaan bagi Suharto untuk menggunakan markasnya sebagai pangkalan untuk berkuasa. Ini merupakan indikasi ada hubungan kerjasama antara G.30-S dengan Panglima Kostrad.

    c. Buat memberi dalih bagi Suharto bertindak (menuduh G.30-S melakukan kudeta) maka Untung mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi dan pendemisioneran kabinet Sukarno. Padahal kenyataannya, kabinet tidak pernah demisioner. Dibuktikan, dengan melapornya brigjen Supardjo kepada presiden Sukarno di Halim pada 1 Oktober 1965 padahal Presiden Sukarno bukan anggota Dewan Revolusi.

    d. Dengan dilancarkannya operasi G.30-S dini hari 1 Oktober 1965, terbuka jalan bagi Suharto untuk mengangkat dirinya menjadi pimpinan TNI-AD tanpa sepengetahuan apalagi persetujuan Presiden/Pangti Sukarno.

Terang kiranya, benar seperti yang dikatakan Sunardi SH dalam pidato pembelaannya bahwa coup d'etat G.30-S yang dikatakan gagal, justru berhasil dengan baik, sesuai dengan rencana lebih dulu, telah diatur dan diperhitungkan dengan cermat, yaitu menjatuhan kekuasan Sukarno sebagai pemegang pemerintahan yang sah.

Seperti diketahui Sunardi SH pada tanggal 10 Desember 1981 telah mengirimkan surat kepada 500 alamat pejabat tinggi, termasuk Presiden Suharto isinya menuduh Presiden Suharto terlibat G.30-S. Sunardi SH ditangkap dan diadili oleh pengadilan negeri 7 Oktober 1982, dituntut hukuman 4 tahun 6 bulan, potong masa tahanan.

Apa yang digatakan sebagai analisa oleh Sutomo Martopradoto bahwa Aidit tergiur melakukan kup terhadap Presiden Sukarno, hanyalah sebuah dugaan belaka, bukan analisa. Bila analisa, tentu Sutomo tidak akan menyimpulkan demikian, karena ia tahu bahwa pemerintahan Sukarno menguntungkan posisi PKI. Hak hidup PKI terjamin. Apalagi Aidit telah muncul dengan teori dua aspek dalam kekuasaan Sukarno, yaitu aspek pro rakyat yang dipimpin Sukarno dan aspek anti rakyat yang dikepalai Nasution. Yang mungkin, Aidit akan membantu memperkuat posisi aspek pro rakyat dari Sukarno, untuk melumpuhkan kekuatan aspek anti rakyat dari Nasution. Dan bantuan Aidit dan PKI untuk memperkuat posisi pemerintahan Sukarno, senantiasa diberikan. Dan hal itu diketahui oleh pihak reaksi.

Karena itulah maka untuk menjatuhkan Presiden Sukarno, kekuatan PKI harus dilumpuhkan lebih dulu. PKI dijadikan sasaran tembak pertama, untuk memudahkan menggulingkan Presiden Sukarno dari kekuasaannya. Ya, G.30-S menunggangi Sukarno dan Suharto menunggangi G.30-S.

* * *

Kirim email ke