Trump Menang, Jokowi-Tiongkok Berjaya?
/Seri Pemikiran Kishore Mahbubani #16/
S13<https://www.pinterpolitik.com/author/s13-207>-Tuesday, September 29,
2020 21:00
https://www.pinterpolitik.com/trump-menang-jokowi-tiongkok-berjaya
Jokowi dan Donald Trump (Foto: istimewa)
/7 min read/
*Genderang Pilpres Amerika Serikat (AS) kini telah makin
mendekati puncaknya. Di tengah pandemi Covid-19 yang entah akan
berakhir kapan, negeri Paman Sam itu sepertinya memang akan
tetap menggelar kontestasi elektoral 4 tahunan. Namun, Pilpres
kali ini juga dikelilingi berbagai isu terkait politik
internasional, di mana Tiongkok disebut-sebut cenderung lebih
suka jika Trump kembali berkuasa. Benarkah demikian?*
------------------------------------------------------------------------
*PinterPolitik.com <https://pinterpolitik.com/>*
*“I can confidently predict that between now and November, the
relations between the U.S. and China will get worse. Because the
easiest way to win votes in the United States is to bash China”.*
*::Kishore Mahbubani, akademisi dan mantan diplomat Singapura::*
Menariknya, di tengah ragam kritik dan sorotan terhadap pemerintahannya,
Presiden Donald Trump sepertinya masih akan menjadi kandidat kuat dalam
kontestasi elektoral ini. Ia akan menghadapi Joe Biden yang menjadi
kandidat dari Partai Demokrat.
Di atas kertas, dengan kondisi politik seperti saat ini, Biden seperti
cukup unggul dibandingkan lawannya. Beberapa lembaga survei
misalnya,*menampilkan
<https://www.realclearpolitics.com/epolls/2020/president/us/general_election_trump_vs_biden-6247.html>*hasil
jajak pendapat yang menempatkan Biden unggul atas Trump. Bahkan, dengan
isu penanganan Covid-19 dan bagaimana Trump menyikapi isu-isu politik
domestik serta luar negeri lainnya, banyak pihak yang memang cenderung
mengunggulkan Biden.
Dalam konteks geopolitik internasional, beberapa pihak menyebutkan bahwa
jika Trump kembali menang dan membalikkan semua prediksi lembaga-lembaga
survei tersebut – yang jelas terjadi juga saat Pilpres 2016 lalu – maka
akan ada dampak signifikan yang terjadi. Hal ini salah satunya
disinggung oleh diplomat dan mantan akademisi asal Singapura, Kishore
Mahbubani.
Dalam*wawancara
<https://fortune.com/2020/05/28/trump-reelection-china-rise-kishore-mahbubani/>*dengan/Fortune/beberapa
waktu lalu, Mahbubani menyinggung konteks Pilpres AS itu dari perspektif
persaingan negara adikuasa itu dengan Tiongkok. Bahkan, Mahbubani
menyebutkan bahwa jika Trump kembali menang pada Pilpres di tahun ini,
maka hal tersebut akan mempercepat “kejayaan” Tiongkok di panggung
internasional sebagai global leader alias pemimpin global.
Tentu pertanyaannya adalah benarkah demikian? Lalu, faktor apa saja yang
menjadi penentu pertarungan AS dan Tiongkok dalam kaitannya dengan
pertarungan Trump vs Biden?
*Arti Trump untuk Tiongkok*
Dalam penjelasannya, Mahbubani menyebutkan bahwa ada dua faktor penting
yang akan menentukan kesuksesan pembangunan di sebuah masyarakat di era
saat ini.
Yang pertama adalah kapitalisme pasar besar yang berjalan dan diatur
oleh/invisible hand/alias tangan yang tidak terlihat. Kapitalisme
menjadi bahan bakar pembangunan dan kemajuan masyarakat karena menjadi
penggerak ekonomi.
Sementara faktor yang kedua adalah/visible hand/alias tangan terlihat
dari pemerintahan yang baik atau/good governance./Dalam
tulisan*sebelumnya
<https://pinterpolitik.com/magic-mph-mungkinkah-diterapkan-jokowi>*yang
membahas/Magic MPH/terkait meritokrasi, pragmatisme dan kejujuran, telah
disinggung bagaimana Mahbubani melihat konteks pemerintahan yang baik
dan bersih menjadi kunci keberhasilan pembangunan yang terjadi di banyak
negara, terutama di Tiongkok.
Artinya, dua variabel ini akan sangat saling menentukan satu dengan yang
lainnya. Sayangnya, menurut Mahbubani, di bawah kekuasaan Trump, AS
hanya berjalan dengan satu tangan alias dengan/invisible hand/saja yang
berfokus pada ekonomi. Sementara persoalan/good governance/seolah
“disingkirkan” secara tidak langsung.
Hal ini sebetulnya bukan persoalan Trump semata, tetapi AS secara
keseluruhan, utamanya sejak era Ronald Raegan. Mantan aktor Hollywood
yang kemudian menjadi Presiden ke-40 AS itu memang terkenal dengan
pernyataannya yang menyebutkan bahwa pemerintah bukanlah solusi dari
masalah, melainkan menjadi masalah itu sendiri.
Gelombang Raeganisme ini – jika ingin disebut demikian – memang menandai
angin kencang neoliberalisme di panggung internasional yang secara ketat
membatasi peran pemerintah dari ekonomi. Mahbubani menyebut fenomena itu
mendelegitimasi, mendemoralisasi dan menyingkirkan pemerintah dari
intisari persoalan ekonomi.
Dalam konteks Pilpres 2020, dibandingkan Trump, Biden disebut akan lebih
mampu menyeimbangkan konteks peran pemerintah tersebut. Bahkan, menurut
Mahbubani, Biden akan bertindak lebih “sopan” ketika berhadapan dengan
Tiongkok, sembari tetap memperhitungkan posisi keduanya secara geopolitik.
Sementara dalam konteks penanganan Covid-19, pemerintahan Trump juga
dianggap menanganinya/single handedly/dengan meletakkan persoalan
ekonomi di atas segalanya – hal yang kemudian berujung pada makin
turunnya citra negara tersebut di hadapan negara-negara lain.
Menariknya, jika bicara mengenai persoalan ini dari sudut pandang
Tiongkok, negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping tersebut disebut
justru lebih tertarik jika Donald Trump kembali terpilih. Alasannya
jelas karena di bawah kekuasaan Trump, posisi politik AS di dunia
internasional terus tergerus.
Artinya, jika Tiongkok ingin tampil sebagai penguasa baru alias/new
global standing leader,/maka kemenangan Trump akan menjadi kunci
utamanya. Ini seperti mengulang kisah bagaimana Trump bisa memenangkan
Pilpres 2016 lalu dengan segala tuduhan intervensi yang dilakukan oleh
Rusia di belakangnya.
Dalam konteks yang berbeda, kemenangan kembali Trump juga akan
menegaskan posisi AS sebagai negara yang makin cenderung menuju ke
plutokrasi – sebutan untuk model pemerintahan yang dikuasai oleh orang
kaya. Dalam tulisan yang lain, Mahbubani memang*mengutip
<https://thediplomat.com/2020/09/can-america-escape-plutocracy/>*pernyataan
peraih hadiah Nobel, Joseph Stiglitz yang menyebut plutokrasi sebagai
pemerintahan yang dikuasai dari 1 persen, oleh 1 persen dan untuk 1
persen dari total masyarakat di sebuah negara. Demokrasi di AS besar
kemungkinan pada akhirnya dikalahkan oleh kelompok orang-orang kaya ini.
Dari penjabaran tersebut, jelas bahwa Pilpres AS 2020 akan punya dimensi
yang sangat luas terhadap kondisi politik internasional. Ini juga akan
menjadi penegas kemungkinan makin kuatnya posisi Tiongkok secara
geopolitik. Apalagi, negara tersebut juga kini tengah menjalankan
“politik vaksin” dengan menggunakan vaksin Covid-19 sebagai jalan
menggalang dukungan dari dunia internasional.
Jika demikian, lalu apa yang bisa dipetik Indonesia dari fenomena ini?
*Mengunci Sukses Jokowi*
Setidaknya, apa yang terjadi di AS akan mengembalikan kita ke perdebatan
tentang dua kunci untuk mencapai masyarakat yang sukses seperti yang
disebut oleh Mahbubani./Invisible hand/lewat kapitalisme pasar bebas
sudah selayaknya digariskan beriringan dengan/visible hand/lewat
penciptaan/good governance/atau pemerintahan yang baik dan bersih.
Indonesia sendiri di bawah pemerintahan Presiden Jokowi memang sudah
selayaknya melihat variabel ini sebagai jalan keluar untuk meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat. Apalagi, kunci kedua – yakni
penciptaan/good governance –/masih menjadi tantangan yang paling berat
yang harus dihadapi.
Kasus korupsi masih merajalela, penyalahgunaan wewenang juga terjadi di
mana-mana, sementara institusi penegak hukum juga mengalami pelemahan.
Sebut saja bagaimana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini tidak
lagi dianggap sebagai lembaga yang bertaji setelah perangkat hukum yang
menjadi payungnya – yakni Undang-Undang KPK – direvisi dengan segala
kewenangan yang mulai dibatasi. Padahal, seperti di Tiongkok,
pemberantasan korupsi yang bertaji dan berani adalah kunci utama arah
gerak menuju kemajuan negara.
Sementara itu, publik juga masih disuguhkan dengan kasus-kasus macam
Djoko Tjandra, kapasitas birokrasi yang melempem – katakanlah sepanjang
penanganan Covid-19 – dan masih banyak lagi persoalan-persoalan lain
yang tidak menggambarkan citra/good governance/itu sendiri.
Jangan sampai pada suatu titik, Indonesia justru masuk dalam rezim
Raeganisme baru yang menempatkan pemerintah sebagai sumber masalah utamanya.
Pada akhirnya, Pilpres AS akan menjadi pertaruhan besar bagi kondisi
politik internasional. Selain mengambil hikmah dari intisari persoalan
yang tengah dihadapi oleh AS dan Tiongkok, Indonesia juga harus bersiap
untuk segala kemungkinan yang ada. Let’s say, jika Joe Biden menang,
akan seperti apa pendekatan politik AS ke Indonesia, atau jika Trump
kembali menang, akankah ada perubahan pendekatan politik dari waktu
sebelumnya.
Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)