-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://bali.antaranews.com/berita/211421/umat-hindu-bali-lakukan-ritual-wanaralaba-untuk-pemberian-makan-kera-di-pura-pulaki-buleleng



Umat Hindu Bali lakukan ritual Wanaralaba untuk pemberian makan kera di Pura 
Pulaki-Buleleng

Kamis, 1 Oktober 2020 20:17 WIB

Umat Hindu di Bali melakukan upacara Wanaralaba di Pura Pulaki, Kabupaten 
Buleleng, Bali, yakni ritual pemberian makan berupa bunga dan buah-buahan untuk 
kera yang hidup di kawasan pura, Kamis (1/10/2020). ( Antara News Bali/Made 
Adnyana/2020)
Singaraja (ANTARA) - Umat Hindu di Bali melakukan upacara Wanaralaba di Pura 
Pulaki, Kabupaten Buleleng, Bali, yakni ritual pemberian makan berupa bunga dan 
buah-buahan untuk kera yang hidup di kawasan pura.

Upacara Wanaralaba diadakan rutin saat Upacara Pujawali di Pura Agung Pulaki 
dan pura-pura lain di sekitarnya yang bertepatan jatuh pada purnama kapat atau 
bulan purnama ke empat sesuai perhitungan kalender Bali. Untuk tahun ini, 
Wanaralaba dan Pujawali dilaksanakan pada purnama kapat, Kamis (1/10/2020).

"Wanaralaba adalah sebuah tradisi yang sudah berjalan secara turun-temurun 
sebagai wujud syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Apapun yang merupakan hasil 
bumi seperti jagung, pisang dan buah lainnya, kita wajib mempersembahkannya," 
kata Kelian Ageng (Ketua) Pengurus Pengempon Pura Agung Pulaki, Jro I Nyoman 
Bagiarta.

Baca juga: 2.000 ekor kera huni objek wisata Alas Kedaton (video)

Menurut Bagiarta, Wanaralaba wajib dilakukan setiap purnama kapat, meskipun 
sebenarnya pemberian makan kepada kera tetap dilakukan setiap hari. "Upacaranya 
pada purnama kapat, namun pemberian makan bahkan dilakukan tiga kali dalam 
sehari," katanya.

Dana untuk pembelian pakan kera ini bersumber dana dari punia (sumbangan) dari 
masyarakat umum yang mempersembahkan secara langsung saat melaksanakan 
persembahyangan. Belakangan bahkan kualitas makannya ditingkatkan sehingga kera 
itu tidak nakal seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Makannya, pagi jagung, siang buah dari ketela, tomat dan pisang," katanya 
dalam upacara yang juga dihadiri Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana bersama 
rombongan dari Pemkab Buleleng.

Rangkaian upacara Pujawali di Pura Agung Pulaki biasanya dilakukan selama tujuh 
hari, namun untuk tahun ini berlangsung selama tiga hari terhitung mulai 
tanggal 1 sampai 3 Oktober 2020. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi 
kerumunan dan interaksi antar pemedek (umat) sesuai dengan protokol kesehatan 
COVID-19.

Baca juga: Pura Pulaki dan upacara untuk kera

Bupati Putu Agus Suradnyana mengatakan, pada upacara ini kera-kera diberikan 
makanan berupa buah lokal, seperti buah jeruk, pisang, dan anggur. Selain itu 
juga diberikan bunga gumitir dan telur ayam.

"Ini menunjukkan bahwa penggunaan buah lokal di Kabupaten Buleleng nampaknya 
sudah mulai dilakukan oleh kalangan masyarakat Buleleng, baik sebagai sarana 
upacara maupun konsumsi pribadi," kata Bupati.

Agus Suradnyana menekankan kepada jajarannya agar seluruh aparatur sipil negara 
(ASN) Kabupaten Buleleng menggunakan buah lokal, baik sebagai sarana upacara 
maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan menggunakan buah lokal dipastikan 
putaran perekonomian di Buleleng akan semakin meningkat khususnya pada sektor 
pertanian.

"Kalau buah lokal terserap dengan baik maka mereka (petani) akan menjaga 
kualitas buahnya," katanya.
 
Pewarta : Made Adnyana
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA






Kirim email ke