*Mungkin sekali kalau dulu PKI berkuasa, maka sekarang Indonesia sudah maju
seperti RRT di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan maupu memproduksi
berbagai bahan bernilai lebih untuk pasar dunia, sebab katanya RRT itu
konco bin sahabat kental dengan PKI**.* *Hehehehehe*


*https://suaraislam.id/tak-terbayangkan-kalau-dulu-pki-menang-dan-berkuasa/
<https://suaraislam.id/tak-terbayangkan-kalau-dulu-pki-menang-dan-berkuasa/>*


*Tak Terbayangkan Kalau Dulu PKI Menang dan Berkuasa*



Masa-masa menjelang 30 September 1965, usia saya masih sekitar delapan
tahun. Baru mau belajar shalat dan puasa. Alhamdulillah, waktu itu sudah
bisa membaca ‘alif-alif’. Begitu dulu orang menyebut ‘iqra’ yang dikenal
akhir-akhir ini.

Tentu saja saya belum mengerti apa itu ‘komunis’ atau ‘komunisme’. Saya
banyak mendengar orang dewasa yang menyebut-nyebut ‘PKI’. Tetapi, belum
lagi paham dalam konteks apa ‘PKI’ itu dibicarakan. Tidak mengerti juga apa
itu politik.

Yang masih terngiang di telinga saya adalah slogan ‘ganyang PKI’. Terus,
saya masih ingat tentang ‘lubang’ yang dibuat di halaman rumah. Di saming
atau di depan. Umumnya lubang itu berbentuk huruf ‘L’. Semua rumah tangga
di kampung wajib memilikinya. Tidak ada penjelasan yang tegas tentang
mengapa lubang-lubang itu harus dibuat.

Ada yang mengatakan, lubang itu akan digunakan bila ada serangan udara dari
Malaysia. Waktu itu, sedang top pula ‘ganyang Malaysia’. Yaitu,
konfrosntasi yang dikobarkan oleh Presiden Soekarno.

Serangan dari Malaysia sangat masuk akal sebagai penjelasan tentang
lubang-lubang itu. Sebab, kebetulan pula kampung kami berada tak jauh dari
pantai Selat Melaka. Jadi, bila ada serangan udara, penduduk langsung
berlindung di dalam lubang. Terasa pas juga penjelasan ini.

Ternyata, bertahun-tahun setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965,
barulah diperoleh jawaban yang ‘akurat’ mengenai peruntukan lubang-lubang
tsb. Yaitu, kata warga yang lebih paham tentang gerakan PKI, untuk
menguburkan mayat-mayat penduduk yang bakal dibantai oleh orang-orang PKI.
Waktu itu.

Penjelasan ini jauh lebih masuk akal. Itu pun setelah terjadi peristiwa
pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira menengah TNI pada dini hari 30
September 1965. Yang disusul dengan pengejaran terhadap orang-orang PKI
yang melakukan perbuatan makar itu.

Ketahuanlah kegunaan lubang-lubang yang digali di halaman rumah-rumah
penduduk itu. Bahwa, jika PKI yang menjadi kuat dan di atas angin, maka
mayat-mayat warga kaum muslimin akan dimasukkan ke lubang yang digali
sendiri oleh mereka.

Ketika itu, perangkat pemerintahan desa tidak tahu lubang itu untuk apa.
Mereka juga diperintahkan atasan agar memerintahkan warga menggali lubang
di halaman rumah masing-masing.

Perhatikan! PKI bisa menginfiltrasi kekuasaan. Mereka bisa mengatur agar
pemerintah menginstruksikan rakyat untuk menggali lubang yang akan
digunakan untuk menguburkan mayat yang menggali lubang itu sendiri.

*Alhamdulillah*, PKI digagalkan oleh Allah SWT. Berkat doa umat dan para
ulama, ustad, dan para kiai, akhirnya rakyat bersama ABRI (TNI) berhasil
menghentikan makar PKI. Rakyat dan tentara melakukan penumpasan. Para
pengkhianat bangsa dengan lambang palu-arit itu pun tak berkutik.

Tak terbayangkan kalau PKI menang dalam pemberontakan 30 September 1965
itu. Andaikata mereka berhasil merebut kekuasaan, tentu umat Islam akan
dijadikan sasaran utama. Agama pastilah akan dikekang dan kemudian
dilenyapkan.

Mungkinkah mereka melakukan itu? Sangat mungkin. Sebab, begitu PKI berkuasa
pada 1965 itu, maka hampir pasti pemerintahan yang dikuasai komunis akan
meminta bantuan dari RRT (RRC). Poros Djakarta-Peking telah terbangun waktu
itu. Peking (Beijing) pasti melakukan apa saja untuk mendukung kekuasaan
PKI.

Sekali lagi, *alhamdulillah*. Kita terhindar dari kemenangan PKI pada 30
September 1965. Betapa seramnya jika mereka yang berkuasa.

Mari kita ceritakan kepada anak-anak generasi muda. Agar mereka paham
tentang makar PKI yang bertujuan untuk melenyapkan agama, khususnya agama
Islam, dari bumi Inonesia. Kita wajib menceritakan ini karena ada pertanda
yang kuat dan jelas bahwa komunisme gaya baru (neo-komunisme) dan PKI gaya
baru (neo-PKI) ingin bangkit dan berperan kembali.[]

30 September 2020

*Asyari Usman*
*(Penulis wartawan senior)*

Kirim email ke