Nampak ditengah-tengah masyarakat masih ada yang BELUM SADAR bahaya
virus Covid-19 yang sampai sekarang BELUM ada obat mujarab mengatasinya,
....! Bagaimana bisa mengakhiari pandemi Covid-19 yang merebak di
Nusantara ini kalau masyarakat tidak patuh dan mentaati protokol
kesehatan yang di keluarkan pemerintah?
Juga nampak jelas, sementara orang masih saja lebih mengutamakan
kepentingan pribadi diatas kepentingan-umum atau kepentingan rakyat
banyak! Bukankah dengan TETAP menjalankan pemakaman ritual berdasarkan
Agama yang dianutnya itu, sama dengan menerjang resiko penularan terjadi
dan menjadi lebih SULIT mengatasi dan mengendalikan pandemi Covid-19,
.... Dan, kalau itu terjadi bukan hanya menambah korban diantara keluarga
sendiri tapi juga mengancam seluruh warga desa!
-------- 轉寄郵件 --------
主旨: [GELORA45] Tolak Pemakaman COVID-19, Warga Probolinggo Lempari
Ambulan dan Bakar Peti
日期: Sun, 4 Oct 2020 19:29:29 +0200
從: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>
Alangkah baiknya jika kita meyimak kata kata mutiara RA Kartini
sehybyngan dengan tingkah laku kita yang merasa "BERAGAMA">
RA KARTINI mengatakan: *"Agama menjauhkan kita dari dosa. Tapi berapa
banyak dosa yang dilakukan atas nama agama?" *
--
j.gedearka <[email protected]>
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5199752/tolak-pemakaman-covid-19-warga-probolinggo-lempari-ambulan-dan-bakar-peti?tag_from=wp_nhl_6
*Tolak Pemakaman COVID-19, Warga Probolinggo Lempari Ambulan dan Bakar Peti*
M Rofiq - detikNews
Minggu, 04 Okt 2020 23:28 WIB
Tolak Pemakaman COVID-19, Warga Probolinggo Lempari Ambulan dan Bakar Peti
Foto: Tangkapan Layar
Probolinggo -
Puluhan warga di Kabupaten Probolinggo menolak pemakaman jenazah
Probable COVID-19 dengan cara protokol kesehatan. Warga Desa Gunggungan
Lor, Kecamatan Pakuniran, mengusir petugas gabungan dan ambulans yang
membawa jenazah tersebut. Bahkan, mereka melempari ambulans dengan batu
dan membakar peti jenazah serta APD.
Aksi tolak pemakaman jenazah COVID-19, dalam video amatir yang direkam
warga, sempat viral di beberapa group Facebook, Minggu (4/10/2020).
Mobil ambulans jenazah yang membawa almarhum MSI (70), datang dengan
pengawalan ketat dari anggota TNI dan Polri. Pada saat jenazah yang
berada di peti mati diturunkan, tiba-tiba keluarga dan warga meminta
jenazah dikeluarkan dari dalam peti. Petugas pun menolak permintaan warga.
Baca juga:
Lagi, Video Anggota Polisi Joget Dangdut di Polsek Gondang Tulungagung Viral
Dari sanalah, warga mengamuk dan mengusir petugas pengantar jenazah
keluar dari kampungnya. Bahkan warga sempat melempari mobil ambulans
dengan batu, hingga akhirnya kericuhan mereda saat ambulan jenazah
meninggalkan tempat.
Sebelumnya, warga mengeluarkan membuka dan mengeluarkan jenazah dari
peti. Jenazah kemudian dibawa ke musala untuk disalatkan. Prosesi
pemakaman hingga penutupan liang lahat, dilakukan warga tanpa protokol
kesehatan. Sementara aparat dan petugas tim Satgas COVID-19 dan
Forkopimka Pakuniran, hanya berjaga-jaga di sekitar lokasi pemakaman MSI.
Koordinator Penegakan Hukum Satgas COVID-19 Kabupaten Probolinggo, Ugas
Irwanto menyesalkan aksi yang dilakukan warga. Padahal sebelumnya, saat
masih di kamar jenazah RS Rizani Paiton, pihak keluarga sanggup dan
sepakat pemakaman dilakukan protokol kesehatan, meski status pasien
meninggal masih Probable COVID-19.
"Awalnya sepakat keluarga akan dimakamkan secara protokol kesehatan saat
di rumah sakit Rizani di Kecamatan Paiton. Namun setelah tiba di rumah
duka, keluarga dan pasien menolak, dan sempat mengusir petugas medis dan
petugas. Bahkan peti mati dibuka dan APD dibakar sama warga, keluarga
memilih memakamkan sendiri seperti biasa," ujar Ugas saat dikonfirmasi
melalui ponselnya.
Sementara Hari Pribadi, Camat Pakuniran, pasien meninggal itu sebelumnya
dirawat di RS Rizani Paiton, dengan keluhan sesak nafas menahun. Saat
dirapid test, hasilnya reaktif. Hanya saja hasil swab masih belum
keluar. Menurutnya, penolakan warga terjadi, karena masih banyak warga
menganggap COVID-19 sebagai aib.
Baca juga:
Siapa Oknum LSM di Banyuwangi Marah-marah Saat Jemput Paksa Jenazah Reaktif?
Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan tracing ke lokasi tersebut,
sambil berkoordinasi dengan tim Forkopimda Kabupaten Probolinggo.
"Warga menolak petugas hendak memakamkan pasien secara peotokol
kesehatan, pasien hasil rapid tes reaktif, hasil swab belum turun. Warga
masih banyak kalau menganggap COVID- 19 sebagai aib. Kita akan melalukan
tracing, dan melakukan koordinasi dengan Satgas COVID-19 dan Forkopimda
Kabupaten Probolinggo, langkah selanjutnya," tegas Hari saat
dikonfirmasi wartawan.
Pihaknya berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Dan berpesan kepada
warga untuk bisa menahan diri dan tidak terprovokasi, hingga nantinya
bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.
Halaman