Jubir Kemenlu Tiongkok Berbicara tentang


 70 Negara Dukung Tiongkok di Sidang Majelis Umum PBB

2020-10-07 16:13:31

Baru-baru ini, sejumlah negara Barat menyinggung masalah Hong Kong dan Xinjiang Tiongkok di depan Sidang Komite Ke-3 Majelis Umum PBB, sekitar 70 negara menyampaikan pidato bersama untuk menyatakan dukungan kepada Tiongkok terkait masalah Hong Kong dan Xinjiang, dan menentang intervensi negara Barat terhadap urusan dalam negeri Tiongkok.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying hari ini ketika menanggapi hal tersebut menyatakan, sekitar 70 negara mendukung pendirian Tiongkok terkait masalah Hong Kong dan Xinjiang. Di antaranya Pakistan menyampaikan pidato bersama terkait masalah Hong Kong atas nama 55 negara.  Kuba menyampaikan pidato bersama terkait masalah Xinjiang atas nama 45 negara untuk menyatakan dukungan kepada Tiongkok. Negara-negara itu berpendapat, Tiongkok menyusun dan melaksanakan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong, menguntungkan dilaksanakannya Satu Negara Dua Sistem secara mantap, menguntungkan kemakmuran dan kestabilan Hong Kong, agar hak sah dan kebebasan warga Hong Kong dapat dijamin dalam lingkungan aman. Negara-negara tersebut menghargai serangkaian tindakan yang dilaksanakan Tiongkok di Xinjiang untuk mengantisipasi ancaman terorisme dan ekstrimisme, dan menjamin HAM rakyat berbagai etnis Xinjiang. Negara-negara itu menenkankan, tidak mengintervensi urusan intern negara lain merupakan prinsip pokok Piagam PBB, pihaknya dengan tegas menentang tindakan politisasi masalah HAM dan standar ganda, menentang  tuduhan dan intervensi yang tak beralasan terhadap Tiongkok.

Hua Chunying mengatakan, seruan adil tersebut menandakan, keadilan telah diketahui oleh masyarakat umum. Segelintir negara Barat bermaksud menodai Tiongkok dengan masalah Hong Kong dan Xinjiang pastilah mengalami kegagalan. Tiongkok sudah berkali-kali menguraikan pendiriannya terkait masalah Hong Kong dan Xinjiang. Yang ingin saya tekankan ialah, masalah Hong Kong dan masalah Xinjiang sama sekali bukan masalah HAM, tidak boleh dipolitisasi. Tiongkok dengan tegas menentang orang siapa pun, negara dan kekuatan  mana pun membikin kerusuhan di Tiongkok, menentang manipulasi dan intervensi terhadap urusan Tiongkok dengan beralasan masalah Hong Kong dan Xinjiang.

Sejumlah negara Barat dirinya mempunyai banyak masalah HAM, masalah pengungsi dan krisis kemanusiaan, di negerinya rasisme dan ekstremisme kian meningkat. Peristiwa anti Yahudi, anti Muslim dan anti masyarakat keturunan Afrika kerap kali. Mereka dengan mudah melakukan tindakan paksa unilateral seperti blockade dan sanksi ekonomi, dengan serius meleanggar HAM negara lain. Mereka sama sekali tidak berkualifikasi membicarakan kondisi HAM negara lain. Tiongkok mutlak tidak menerima “guru HAM”, menentang  standar ganda. Tiongkok bersedia bersama dengan berbagai pihak, berprinsip sama derajat dan saling menghormati, melakukan dialog dan kerjasama konstruktif, bersama-sama mendorong perkembangan sehat usaha HAM internasional.



 Tiongkok Selalu Berperan sebagai Pelaksana dan Pembela Multilateralisme

2020-10-07 15:21:26

“Dunia menghadapi banyak masalah yang rumit. Tantangan global kian meningkat. Penyelesaiannya hanya satu yakni melalui pendekatan dialog dan kerja sama. Urusan internasional seharusnya ditangani oleh sesama negara melalui konsultasi. Solidaritas merupakan kesepahaman luas masyarakat internasional.” Pidato  Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pertemuan virtual peringatan HUT ke-75 PBB belum lama lalu telah mengundang tanggapan luas masyarakat internasional.

Sejak memasuki tahun ini, pandemi COVID-19 yang merebak secara mendadak telah mendatangkan dampak serius terhadap masyarakat internasional. Aktivitas komersial normal berhenti dan perekonomian dunia mengalami resesi. Sementara itu, proteksionisme kian meningkat, sejumlah kecil negara adik kuasa melaju semakin jauh di jalan unilateralisme sehingga dengan serius mengancam kerja sama internasional dalam penanggulangan COVID-19. Dunia terancam konfrontasi serius. Menanggapi kesulitan dan tantangan global yang berat, Tiongkok sebagai negara yang bertanggung jawab terus memberdayakan kerja sama multilateral guna membantu dunia terlepas dari jurang kemerosotan.

Demi mendorong perekonomian dunia pulih dari pandemi COVID-19, Tiongkok terus beraksi. Tiongkok dengan tegas mendukung sistem perdagangan multilateral yang berlandaskan pada WTO, membuka jalur hijau untuk memelihara rantai industri dan rantai pasokan yang stabil dan memberikan bantuan material kepada negara-negara terkait melalui jaringan inisiatif Sabuk dan Jalan dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi global. Yang patut disebuat ialah Tiongkok tengah berupaya membangun konfigurasi perkembangan baru dengan sirkulasi domestik sebagai induk dan sirkulasi internasional sebagai penopang di mana kedua sirkulasi saling mendukung. Hal ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pembangunan bermutu tinggi Tiongkok, juga mencerminkan sikap terbuka Tiongkok untuk berbagi pasar super besar Tiongkok dengan mancanegara sekaligus memperlihatkan tanggung jawab Tiongkok sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia.

Di dunia dewasa ini, arus anti globalisasi semakin meningkat, namun unilateralisme tidak akan menyelesaikan tantangan dan ancaman yang kian meningkat. Hanya multilateralisme dan keterbukaan serta kerja sama yang dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan umat manusia. Tak peduli bagaimana situasi internasional berubah, Tiongkok akan selalu berdiri di pihak yang tepat secara historis, dengan tegas memelihara tata hukum dan ketertiban internasional, terus menyuntikan kekuatan Tiongkok demi penyelesaian masalah global. Tiongkok akan untuk selama-lamanya berperan sebagai pembangun perdamaian, peserta pembangunan global dan pembela ketertiban internasional.

Kirim email ke