-- 
j.gedearka <[email protected]>




https://bali.antaranews.com/berita/212281/bnpb-waspadai-gempa-magnitudo-hingga-88-di-selatan-bali



BNPB: Waspadai gempa magnitudo hingga 8,8 di selatan Bali

Jumat, 9 Oktober 2020 19:13 WIB

Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Dr Aam Abdul Muhari dalam 
rapat kerja yang dipimpin oleh Kepala BNPB Doni Monardo dengan Gubernur Bali 
(Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/2020)
Denpasar (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengingatkan 
masyarakat Bali untuk mewaspadai ancaman potensi gempa dengan magnitudo hingga 
8,8 yang berpusat di selatan Pulau Bali dan Nusa Tenggara.

"Kita punya ancaman di selatan Bali, di Bali ada zonanya yang beberapa lama 
tidak ada gempanya, sehingga ada potensi selatan Bali dan Nusa Tenggara itu 
potensi magnitudo 8,8. Ini patut diwaspadai karena gempa magnitudo 5 sampai 6 
di selatan Bali sudah beberapa kali terjadi," kata Direktur Pemetaan dan 
Evaluasi Risiko Bencana BNPB Dr Aam Abdul Muhari dalam rapat kerja yang 
dipimpin oleh Kepala BNPB Doni Monardo dengan Gubernur Bali, di Denpasar, Jumat.

Menurut Aam, jika gempa itu terjadi, maka dampaknya akan sangat parah terjadi 
di daerah Nusa Dua dan Kuta, Kabupaten Badung, dan Sanur, Kota Denpasar.

"Bali itu 'kan ada lehernya di sebelah selatan, dan lehernya bisa terendam dari 
sisi kiri dan kanan. Tinggi tsunami di darat sekitar 4 hingga 15 meter," 
ucapnya.

Terlebih di kawasan Kabupaten Badung banyak jalan yang tegak lurus pantai dan 
jalan ini dikelilingi rumah, sehingga ketika air tsunami masuk ke jalan itu 
maka gerakannya akan lebih cepat.

Baca juga: BMKG: Gelombang 4 meter berpotensi terjadi di laut Bali dan Selat 
Lombok

Selain potensi gempa dari selatan Bali, Aam mengatakan Bali juga memiliki 
ancaman terkena imbas gempa yang dahsyat dari segmen Jawa Barat dan selatan 
Jawa Timur. "Kalau itu pecah secara bersamaan, potensi magnitudo gempanya bisa 
9,1, seperti halnya gempa di Aceh Tahun 2004," ujarnya.

Bagi Bali, lanjut dia, efek gelombangnya diprediksi akan sampai dalam waktu 
30-40 menit, sehingga waktu sekianlah kesempatan yang dimiliki untuk melakukan 
evakuasi.

"Jadi penting untuk paham sekiranya merasakan gempa lebih dari 20 detik, maka 
kita harus evakuasi. Biasanya jika gempa tidak diiringi tsunami itu pelepasan 
gempanya kurang dari 10 detik. Kalau gempa terus hingga 20 detik itu hampir 
pasti diiringi tsunami," kata Aam.

Dia menambahkan, dengan melihat kondisi populasi penduduk yang sudah padat di 
kawasan selatan Pulau Bali, maka tempat evakuasi harus banyak, mudah diakses 
dan kelihatan.

"Ketika gempa terjadi siang hari, lampu lalu lintas pasti tidak nyala sehingga 
akan menimbulkan kemacetan dan tidak bisa melakukan evakuasi. Kalau pengalaman 
di Jepang, di setiap perempatan ada jembatan penyeberangan yang dijadikan 
tempat evakuasi sementara, sehingga ketika ada kemacetan, bisa naik ke jembatan 
penyeberangan tersebut," katanya.

Baca juga: Nelayan Pantai Kedonganan tidak melaut karena gelombang tinggi

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo 
mengatakan kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus diingatkan selalu pada 
masyarakat.

"Suka tidak suka, senang tidak senang, negara kita memiliki ancaman risiko 
bencana tertinggi di dunia," ucapnya.

Meskipun dengan ancaman risiko bencana tertinggi, Doni mengatakan kekayaan 
flora dan fauna serta keindahan alam Indonesia sangat luar biasa dan berlimpah 
yang tentu harus disyukuri.
Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA







Kirim email ke