-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-5210317/kuliah-daring-dan-masa-depan-pendidikan-tinggi?tag_from=wp_cb_kolom_list





Kolom

Kuliah Daring dan Masa Depan Pendidikan Tinggi

Jacob F N Dethan - detikNews

Senin, 12 Okt 2020 15:21 WIB

0 komentar
SHARE
URL telah disalin
Mahasiswi di Magelang ini tiap hari duduk di pinggir jalan sambil membawa 
laptop. Mereka duduk di pinggir untuk mengerjakan tugas karena mencari sinyal 
internet yang kuat.
Sejumlah mahasiwa di Magelang, Jawa Tengah mencari sinyal untuk kuliah online 
(Foto: Eko Susanto)
Jakarta -

Wakil Presiden Ma'ruf Amin baru saja meresmikan Universitas Siber Asia yang 
merupakan perguruan tinggi yang akan menjalankan sistem perkuliahan sepenuhnya 
secara daring. Dalam sambutannya, Ma'ruf menyebut bahwa perkuliahan daring 
dapat membawa dampak positif bagi pengembangan pendidikan di Indonesia. Sebagai 
negara kepulauan dengan kondisi sosial dan ekonomi yang beragam, diharapkan 
pembelajaran daring dapat menjadi pilihan pendidikan tinggi bagi masyarakat.

Dukungan juga telah diberikan sejak 2019 dari mantan Menristekdikti Mohamad 
Nasir yang memperkenalkan Jang Youn Cho sebagai rektor asing asal Korea Selatan 
yang diharapkan dapat meningkatkan angka partisipasi kasar, mutu, dan daya 
saing di level internasional. Tentunya kehadiran Universitas Siber Asia 
merupakan sebuah hal positif yang dapat bermanfaat untuk peningkatan kualitas 
pembelajaran pendidikan tinggi di Indonesia.

Kondisi Saat Ini

Universitas Terbuka merupakan salah satu perguruan tinggi yang sejak awal 
menerapkan sistem pendidikan jarak jauh secara penuh di Indonesia. Menurut data 
Universitas Terbuka per 13 Mei 2020, terdapat 290.648 mahasiswa terdaftar di 
universitas ini. Jumlah ini bisa dibilang jauh lebih besar dari rata-rata 
jumlah mahasiswa terdaftar di perguruan tinggi besar lainnya yang tidak 
menerapkan sistem pembelajaran daring secara penuh.

Mayoritas perguruan tinggi besar di Indonesia memiliki jumlah mahasiswa 
terdaftar di bawah 50.000 orang. Apalagi jika dibandingkan dengan perguruan 
tinggi swasta yang memiliki jumlah mahasiswa jauh lebih sedikit. Hal ini 
menunjukkan akan pentingnya peran yang dipegang oleh Universitas Terbuka dalam 
mendidik masyarakat untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang 
diperlukan untuk masa depan yang lebih baik.

Pemilihan perkuliahan secara daring tentunya memiliki berbagai keuntungan utama 
seperti fleksibilitas waktu dan efisiensi biaya. Tapi, terdapat juga beberapa 
kendala yang dihadapi di antaranya kurangnya terjalin ikatan emosional antara 
dosen dan mahasiswa dikarenakan oleh pertemuan yang hanya bersifat daring. 
Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki kemandirian yang tinggi agar dapat 
memaksimalkan proses belajar secara independen.

Hal ini berdampak pada bermunculannya pandangan bahwa lulusan perguruan tinggi 
yang menyelenggarakan pembelajaran secara tatap muka lebih berkualitas 
dibandingkan dengan yang sebelumnya kuliah daring secara penuh. Munculnya 
pandangan ini tentunya sebagai dampak dari apa yang terlihat oleh masyarakat. 
Tapi, pandemi Covid-19 telah secara signifikan mentransformasi sistem 
pembelajaran termasuk di perguruan tinggi saat ini.

Seluruh perguruan tinggi dipaksa untuk melakukan pembelajaran secara daring 
selama masa pandemi. Pada awalnya, banyak kendala bermunculan dikarenakan oleh 
ketidakbiasaan dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan perkuliahan secara daring 
sebelumnya. Tapi, dengan berjalannya waktu, dosen dan mahasiswa saat ini mulai 
terbiasa melakukan sistem perkuliahan secara daring.

Kondisi Masa Depan

Lantas, bagaimana dengan masa depan? Apakah sistem perkuliahan secara daring 
merupakan sistem pembelajaran terbaik di masa depan?

Di Amerika Serikat (AS), beberapa perguruan tinggi kecil telah ditutup karena 
masalah finansial sebagai dampak dari Covid-19. Adanya pandemi ini mengurangi 
jumlah mahasiswa yang berdampak pada berkurangnya pendapatan perguruan tinggi 
tersebut. Hal ini menandakan bahwa jumlah mahasiswa sangat menentukan 
keberlangsungan operasional dari perguruan tinggi terutama untuk perguruan 
tinggi swasta.

Selain jumlah mahasiswa, proses transisi ke sistem pembelajaran daring juga 
memakan biaya dan pendapatan lain yang diperoleh seperti pemasukan dari asrama 
--biaya makan dan minum juga mengalami penurunan secara signifikan selama masa 
pandemi ini. Hal-hal tersebut memperparah peluang bertahannya perguruan tinggi 
kecil di AS.

Perguruan tinggi kecil di Indonesia tentunya juga mengalami kendala semasa 
pandemi Covid-19. Tapi, pemerintah telah berupaya untuk membantu meringankan 
beban mahasiswa dan dosen salah satunya dengan dukungan paket internet yang 
diberikan. Hal ini setidaknya menjadi langkah positif yang dapat membantu 
menopang operasional sistem pembelajaran secara daring yang dilakukan.

Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah bagaimana ke depannya seandainya 
Covid-19 telah dapat dikendalikan?

Salah satu contoh kesuksesan pelaksanaan perkuliahan secara daring adalah 
sistem yang diterapkan di University Of Southern Queensland (USQ), Australia. 
USQ memiliki jauh lebih banyak mahasiswa yang belajar secara eksternal 
dibandingkan dengan yang kuliah secara tatap muka. Kendala yang dihadapi 
mahasiswa daring akan kurangnya ikatan emosional dengan dosen, dan beberapa 
kegiatan laboratorium yang harus dilaksanakan di kampus, dapat diatasi dengan 
jadwal yang bisa diatur semisal pada bulan tertentu. Sehingga mahasiswa 
eksternal dapat merasakan atmosfer kampus pada waktu tertentu.

Mempersiapkan Diri

Perguruan tinggi kita sudah selayaknya mulai mempersiapkan diri untuk dapat 
secara profesional menerapkan sistem pembelajaran secara daring yang dapat 
terus dilaksanakan pasca Covid-19, ataupun yang dapat diselenggarakan melalui 
kombinasi dengan sistem tatap muka yang disebut blended learning.

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah mulai menawarkan beberapa jurusan 
yang akan diselenggarakan secara daring. Tapi, hal ini masih terbatas pada 
beberapa perguruan tinggi besar. Mayoritas perguruan tinggi swasta masih belum 
mempersiapkan diri untuk membuka jurusan yang dapat diselenggarakan secara 
daring.

Melihat besarnya dukungan pemerintah akan sistem perkuliahan daring yang 
ditawarkan oleh Universitas Siber Asia, sudah seharusnya dapat dijadikan pemicu 
bagi perguruan tinggi lain untuk segera mempersiapkan diri untuk menentukan 
arah pendidikan di masa depan yang diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi 
perguruan tinggi itu sendiri, tapi juga dapat meningkatkan kesetaraan 
pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di kepulauan Indonesia.

Jacob F. N. Dethan, PhD Kaprodi Teknik Elektro Universitas Buddhi Dharma

(mmu/mmu)







Kirim email ke