-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1959-partai-buruh



Senin 12 Oktober 2020, 05:00 WIB 

Partai Buruh 

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group | Editorial

   Partai Buruh MI/Ebet Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group. 
PERJUANGAN buruh lewat unjuk rasa tidak selalu menuai hasil. Perlu mengubah 
strategi perjuangan dari parlemen jalanan dengan membentuk Partai Buruh. Ribuan 
orang menamakan diri buruh unjuk rasa di Jakarta dan sejumlah kota besar 
lainnya, pekan lalu. Mereka menuntut banyak soal yang dipicu pengesahan UU 
Cipta Kerja. Sebagian dari demo tidak tahu substansi yang diperjuangkan. Tidak 
tahu substansi perjuangan karena mereka diajak, tepatnya dibajak. Presiden Joko 
Widodo menyebut demonstrasi itu pada dasarnya dilatarbelakangi disinformasi 
mengenai substansi dari undang-undang dan hoaks di media sosial. Esensi 
persoalan laten perburuhan di Indonesia ialah masalah kemanusiaan yang amat 
memilukan. Persoalan pada anak-anak yang harus menjadi pekerja dalam usia yang 
sangat muda. Pada perempuan muda yang dipercepat menjadi ibu rumah tangga tanpa 
merasa ada kesalahan yang patut disesalkan. Persoalan buruh di Indonesia juga 
terjadi pada migrasi besar tenaga-tenaga tidak terdidik ke luar negeri. Banyak 
di antara mereka, terutama asal Nusa Tenggara Timur, kembali tanpa nyawa. 
Masalah kemanusiaan yang amat memilukan buruh itu hadir silih berganti 
bersamaan pergantian rezim sejak reformasi. Penelitian Muhammad Zuhdan (2014) 
memaparkan persoalan buruh sejak Presiden BJ Habibie sampai Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono. Saat rezim Habibie, isu yang berkembang adalah pembebasan 
tokoh buruh, ratifi kasi konvensi perburuhan, pendirian serikat buruh, dan 
otonomisasi perburuhan dari kooptasi dan intervensi penguasa. Kemudian, saat 
pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, isu buruh mulai merambah ke 
wilayah kebijakan pemerintah, yaitu isu penolakan kenaikan BBM, isu menolak 
kenaikan anggaran militer, isu menolak disahkannya UU PPK dan UU PHI, isu 
kepemimpinan buruh yang kuat, dan isu konsolidasi penyatuan serikat buruh. Pada 
masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, buruh dan NGO dirangkul. Memasuki 
pemerintahan SBY, isu yang berkembang adalah tuntutan kenaikan upah, isu 
jaminan sosial, BPJS, isu kesetaraan dan keadilan gender, isu kewarganegaraan, 
isu pendirian partai buruh, dan isu kepemimpinan tunggal buruh. Penelitian 
Muhammad Zuhdan sampai pada kesimpulan bahwa gerakan buruh di Indonesia sudah 
sampai fase gerakan New Labour yang tidak hanya berkutat pada masalah upah atau 
hubungan industrial semata, tapi sudah jauh melangkah ke isuisu yang bersifat 
politik praktis maupun politik makro. Mengapa buruh tidak mengubah metode 
perjuangan dari parlemen jalanan menuju parlemen sesungguhnya? Bisakah buruh 
membentuk partai sendiri seperti di luar negeri? Buruh di negeri ini pada 
dasarnya ogah berorganisasi. Faktanya, jumlah buruh yang tergabung di serikat 
buruh memang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah pekerja formal 
secara keseluruhan. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan pada Maret, 
jumlah buruh yang tergabung di dalam organisasi serikat buruh cuma 3.378.808 
orang. Mereka bergabung ke dalam 195 unit konfederasi dan 1.051 unit federasi. 
Padahal, data dari BPS menyebutkan jumlah pekerja formal pada 2019 sebanyak 
55.272.968 orang. Dodi Faedlulloh sempat meneliti kegagalan gerakan buruh dan 
partai buruh pascareformasi. Pada 1999 hadir Partai Pekerja Indonesia (PPI), 
Partai Buruh Nasional (PBN), Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia 
(PSPSI), Partai Solidaritas Pekerja (PSP), dan Partai Rakyat Demokratik (PRD). 
Tidak ada satu pun partai-partai itu yang memperoleh kursi di parlemen. Pemilu 
2004 hanya menyisakan satu partai buruh yang berhasil lolos verifi kasi dan 
menjadi kontestan, yaitu Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD). Partai ini 
merupakan perubahan nama dari PBN yang sebelumnya ikut pada Pemilu 1999. Namun, 
partai ini kembali gagal memperoleh kursi dalam pemilu nasional, yang hanya 
mendapatkan 636.397 suara (0,56%). Begitu juga Pemilu 2009, partai yang 
memiliki kaitan dengan buruh yang mengikuti pemilu ialah Partai Buruh (PB) yang 
tak lain merupakan nama baru dari PBSD. Selain PB, ada Partai Pengusaha dan 
Pekerja Indonesia (PPPI). PB mendapatkan 265.203 suara (0,25%) dan PPPI 
memperoleh 745.625 suara (0,72%). Dua pemilu terakhir, pentolan buruh tidak mau 
lagi berjuang untuk membentuk partai politik. Elite buruh bersikap pragmatis, 
cukup mendukung calon presiden. Dukunglah calon presiden jika elite buruh mau 
berkantor di Istana. Jika ingin memengaruhi kebijakan legislasi, bentuklah 
partai politik sendiri atau berafi liasilah dengan partai yang sudah ada. Hanya 
itu cara buruh membangun posisi tawar. Jangan mau menjadi buruh demo alias 
orang yang dibayar untuk demo.  

Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1959-partai-buruh





Kirim email ke