-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5213926/shenzhen?tag_from=wp_cb_kolom_list




Kolom

Shenzhen

Sugeng Rahardjo, - detikNews
Rabu, 14 Okt 2020 20:53 WIB
1 komentar
SHARE
URL telah disalin
Mantan Duta Besar RI untuk RRT (2014 – 2017) Sugeng Rahardjo
Foto: Pribadi
Jakarta -

Mendengar kata Shenzhen, saya selalu teringat pada tahun 1992 ketika 
ditempatkan di Washington DC, dan mendapatkan tugas untuk mendampingi kunjungan 
Almarhum Bapak Ali Wardhana (Mantan Menteri Keuangan dan Menko Ekuin, era 
Presiden Soeharto). Saat itu, beliau melakukan kunjungan singkat ke Washington 
D.C., setelah memberikan kuliah di Harvard University.

Dalam obrolan ringan di sela-sela makan siang, beliau menceritakan bahwa baru 
berkunjung ke Shenzhen, dan menyampaikan kekagumannya mengenai semangat untuk 
membangun dari sebuah desa nelayan yang miskin menjadi pusat perekonomian 
modern. Almarhum Bapak Ali Wardhana meyakini bahwa Shenzhen dalam waktu tidak 
terlalu lama akan menjadi pusat keuangan dan pusat industri teknologi maju.

Dua puluh tiga tahun kemudian, saya membuktikan apa yang disampaikan oleh 
Almarhum Bapak Ali Wardhana bahwa Shenzhen menjadi pusat ekonomi dan teknologi 
Tiongkok. Hal ini terjadi ketika saya mendapatkan undangan dari kantor pusat 
Huawei di Shenzhen, pada tahun 2015.
ShenzhenKota Shenzhen di tahun 1980 Foto: CMG

Dalam kunjungan tersebut, saya menyaksikan pusat Research and Development yang 
terintegrasi dan modern, dengan jumlah peneliti hampir mendekati 100.000 orang 
guna mengembangkan berbagai produk Huawei.

Dari obrolan dengan beberapa pengusaha Indonesia yang berdomisili di Shenzhen, 
mereka menyampaikan bahwa sebagai Zona Ekonomi Khusus, Shenzhen memberlakukan 
tarif pajak yang rendah untuk para investor dan kemudahan lainnya. Upah tenaga 
kerja juga tidak terlalu mahal. Oleh karena itu, banyak industri berdiri di 
Shenzhen, bahkan hampir semua industri di Hong Kong telah pindah ke Shenzhen.

Setelah 40 tahun membangun, Shenzhen mengalami pertumbuhan pesat dengan 
penduduk awalnya 300.000 jiwa melonjak menjadi lebih dari 12 juta jiwa. 
Shenzhen diserbu pendatang karena menawarkan pekerjaan, biaya hidup yang masih 
terjangkau, dan fasilitas yang sangat memadai.
ShenzhenJalanan Kota Shenzhen tahun 1980 Foto: CMG

Shenzhen memiliki pelabuhan udara berarsitektur bangunan modern dengan model 
atap eksterior dan interior terminal mirip sarang madu. Bandara tidak saja 
menjadi pintu gerbang utama bagi warga asing untuk melakukan perjalanan udara, 
tetapi juga sebagai indikator kemajuan suatu kota atau daerah.

Dalam kaitan ini, kita dapat menyaksikan langsung bukti kemajuan Shenzhen 
berkat kebijakan pintu terbuka Deng Xiaoping pada tahun 1978.
ShenzhenKota Shenzen di tahun 2020 Foto: CMG

Gedung-gedung pencakar langit menjulang di Shenzhen, terutama gedung 
perkantoran dan apartemen mewah. Di Shenzhen terdapat gedung tertinggi di dunia 
599 meter yaitu Gedung Ping An Finance Center.

Gedung tinggi ini terhubung dengan properti komersial dan residensial. 
Pembangunan perumahan dan gedung perkantoran dibangun secara pesat, di 
sepanjang jalan utama.

Lebar jalan dan lalu lintas teratur di Shenzhen ibarat surga bagi siapapun yang 
tinggal di berbagai belahan dunia. Hampir tak terlihat kesemrawutan, apalagi 
terdengar bunyi klakson bersahutan. Aturan lalu lintas di Shenzhen termasuk 
ketat dan dendanya juga besar.
ShenzhenJalanan Kota Shenzhen tahun 2020 Foto: CMG

Semua keunggulan Shenzhen yang berstatus Zona Ekonomi Khusus di Tiongkok, tak 
dapat dilepaskan dari arsitek modernisasi negara itu, yaitu Deng Xiaoping.

Kebijakan pintu terbuka bagi perdagangan dan investasi asing yang secara 
konsisten dijalankan sejak pemerintahan Deng Xiaoping di akhir era 1970-an 
sampai saat ini dibawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, telah membawa 
perubahan penting dalam ekonomi, politik dan budaya negara berpenduduk lebih 
dari 1,4 milyar jiwa ini.


Sugeng Rahardjo, Mantan Duta Besar RI untuk RRT (2014 - 2017)

(ega/ega)








Kirim email ke