Toon Hermans, comedian pernah bilang tentang Een leider,die nooit lijdt wat de leden lijden. Ini permainan dari kata-kata yang berbunyi hampir sama tetapi yang artinya berbeda : Seorang pemimpin tidak pernah menderita apa yang diderita anggota-anggotanya.......... Ada lagi yang saya masih ingat dengan kata yang sama, yang punya dua arti yang berbeda. Dia cerita pergi ke Tweede Kamer, lihat : Er zijn zoveel lege kopjes. Ada banyak cangkir kosong. Jadi anggota tweede kamer kerjanya minum kopi....... Atau kop berarti kepala. Di tweede kamer penuh orang2 berkepala kosong, alias tidak punya otak ?
Op wo 14 okt. 2020 om 18:56 schreef 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] <[email protected]>: > > > > > -- > j.gedearka <[email protected]> > > > https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1961-memimpin-itu-menderita > > Rabu 14 Oktober 2020, 05:00 WIB > > Memimpin itu Menderita > > Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial > > Memimpin itu Menderita Dok.MI/Seno Abdul Kohar Dewan Redaksi Media > Group. 'HANYA ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh > dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku'. Itulah petikan > pidato pembelaan proklamator kita, Bung Hatta, dalamIndonesia Vrij pada 22 > Maret 1928 di mahkamah pengadilan di Den Haag, Belanda. Di pengadilan > inilah diputuskan bahwa Kerajaan Belanda mengganti kata Hindia Belanda > menjadi Indonesia. Pesan penting dari pidato Wakil Presiden pertama > Republik Indonesia itu menyiratkan satu hal, bahwa menjadi pemimpin itu > tidak nyaman. Ia tidak saja butuh langkah konkret dan kerja nyata, tapi > juga yang terpenting ialah pengorbanan. Tidak ada pemimpin hebat yang lahir > di zona nyaman. Tidak ada pencapaian hebat yang tumbuh dari zona nyaman. > Bahkan, leiden is lijden, memimpin itu menderita. Begitu pepatah kuno > Belanda yang dikutip Mohammad Roem dalam karangannya berjudul Haji Agus > Salim, Memimpin Adalah Menderita (Prisma No 8, Agustus 1977). Karangan itu > mengisahkan keteladanan Agus Salim. Agus Salim dikenal sebagai salah satu > tokoh perjuangan nasional. Ia diplomat ulung dan disegani, tetapi sangat > sederhana dansangat terbatas dari sisi materi. Jika dicermati, ungkapan > tersebut sangat sarat makna. Memimpin itu, pada level mana pun, ialah > amanah, bukan hadiah. Memimpin itu sacrificing, bukan demanding. Memimpin > itu berkorban, bukan menuntut. Para pemimpin tidak boleh lupa, tak ada > kemajuan bangsa tanpa pengorbanan kepemimpinan. Tak ada kemajuan tanpa > jangkar moral yang andal. Pilihan-pilihan kebijakan politik dan ekonomi > harus dijejakkan pada kesanggupan para pemimpin mengorbankan kepentingan > egosentrismenya demi memuliakan nilai-nilai moral kenegaraan, > prinsip-prinsip yang penting bagi orang banyak. Jangkar moral akan > mengalahkan pencitraan, populisme, seolah-seolah membela kepentingan > rakyat, tapi mengorbankan rakyat yang lain. Pada prinsip-prinsip itulah > mestinya para pemimpin, termasuk para pemimpin di tingkat daerah, > bersandar. Termasuk saat menghadapi berbagai tuntutan, desakan, keinginan > sebagian kalangan untuk meninjau ulang konsensus nasional. Pemimpin sejati > akan menimbang secara tenang dan saksama beragam muatan dalam tuntutan itu, > alih-alih melempar langsung ke struktur di atasnya lagi. Dalam kasus > penolakan terhadap Undang-Undang Cipta Kerja di berbagai daerah, misalnya, > ada sebagian pemimpin daerah yang mulai goyah 'iman kepemimpinannya' dari > prinsip-prinsip besar 'memimpin ialah menderita'. Bukan cuma satu, > melainkan ada setidaknya 5 gubernur, 2 ketua DPRD provinsi, dan 8 > bupati/wali kota.. Dari mereka muncullah kalimat bernada 'insubordinat', > meskipun mereka sejatinya ialah bagian dari penyelenggara negara yang > berada dalam satu dirigen. Kalimat itu di antaranya, 'Saya sudah > mendengarkan aspirasi. Memang, dirasakan pengesahannya terlalu cepat untuk > sebuah undang-undang yang begitu kompleks dan begitu besar'. Ada juga yang > secara 'sopan' meminta Presiden Joko Widodo untuk tidak buru-buru > menerapkan UU sapu jagat itu. Bahasanya kira-kira seperti ini: 'Mohon agar > Bapak Presiden menunda penerapan UU Cipta Kerja hingga benar-benar tuntas > disosialisasikan kepada publik'. Malah, ada yang secara 'telak' menolak > konsensus yang sudah dicapai itu melalui laman Facebook pribadi dengan > menulis, 'Assalamualaikum, selamat sore, saya Gubernur Provinsi Kalimantan > Barat dengan ini mohon kepada Presiden untuk secepatnya mengeluarkan perpu > yang menyatakan mencabut omnibus law UU Cipta Kerja demi terhindarnya > pertentangan di masyarakat dan tidak mustahil semakin meluas. Undang-undang > yang baik harusnya sesuai dengan rasa keadilan yang tumbuh dan berkembang > dalam masyarakat'. Sang gubernur secara terang benderang telah berada dalam > garis berseberangan tanpa menyisakan 'pertanyaan batin', bukankah saya > ialah bagian dari pemerintahan? Apakah saya tidak terseret terlampau jauh > ke arah populisme dan membangun citra di tengah permasalahan bangsa? > Bukankah undang-undang ini merupakan jawaban atas keluhan kami soal > sulitnya mendatangkan investasi dan sulitnya menyerap lapangan kerja? > Bukankah saya disumpah untuk tunduk pada undang-undang? Bukankah saya tidak > berwenang menilai undang-undang? Bukankah dengan menyebut bahwa > 'undang-undang yang baik dan benar ialah yang selaras dengan keadilan yang > tumbuh di masyarakat', artinya saya sudah menilai sebuah instrumen yang > tidak seharusnya saya nilai? Jalan nyaman, enak, tenang, tidak dipusingkan > tetek bengek yang mengganggu nyenyaknya tidur, jelas bukanlah jalan > pemimpin. Ia juga bukan jalan 'perbuatan' sebagaimana pernah digaungkan > Bung Hatta. Sebelum larut dan terseret semakin jauh dalam badai populisme, > wahai para pemimpin, segeralah bangun dan kembali ke kredo utama sebagai > pemimpin, leiden is lijden, memimpin itu menderita. Kalau tidak sanggup, > ya, jangan jadi pemimpin. Baca Juga > > Sumber: > https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1961-memimpin-itu-menderita > > >
