Fitnah Politikus AS terhadap Inisiatif Sabuk dan Jalan
Merupakan Penghinaan kepada Dirinya Sendiri
http://indonesian.cri.cn/20201027/7f873503-d378-b90b-26d1-cd99a25c2a03.html
2020-10-27 10:53:39
Baru-baru ini Mike Pompeo berkali-kali mencoreng Tiongkok di ajang
internasional, terus menyebarkan kebohongan tentang “perangkap hutang”
yang diakibatkan Inisiatif Sabuk dan Jalan, tujuannya adalah mengganggu
kerja sama negara-negara lain dengan Tiongkok, hal ini telah menimbulkan
antipati umum dari masyarakat internasional.
Inisiatif Sabuk dan Jalan adalah produk publik global yang disediakan
Tiongkok kepada masyarakat internasional. Sejak inisiatif itu dicetuskan
pada tahun 2013, Tiongkok selalu mengembangkan kerja sama dengan
negara-negara berkembang di atas dasar saling menghormati, kesetaraan
dan kemenangan bersama, menyediakan bantuan sebatas kemampuan tanpa
syarat politik apa pun, di mana telah berhasil mendorong pertumbuhan
ekonomi dan masyarakt serta kesejahteraan setempat, maka disambut baik
berbagai pihak. Sejauh ini belum ada satu negara pun yang terjerumus
dalam apa yang disebut sebagai “perangkap hutang” akibat kerja sama
dengan Tiongkok. Terhitung sampai bulan Mei lalu, totalnya terdapat 138
negara dan 30 organisasi internasional sudah menandatangani 200 dokumen
kerja sama dengan Tiongkok tentang pembangunan bersama Sabuk dan Jalan.
Itulah kepercayaan dan dukungan nyata dari masyarkat internasional
kepada inisiatif Sabuk dan Jalan.
Sebaliknya, menurut data IMF, terhitung sampai akhir tahun 2019, sekitar
40 persen negara-negara Afrika jatuh ke dalam kesulitan hutang, akan
tetapi kebanyakan kreditornya dari bank dan perusahaan negara-negara
Eropa dan Amerika Serikat (AS). Siapalah yang menyeret negara-negara
Afrika ke dalam perangkap hutang? Negara-negara Barat yang dipimpin AS
itu harus bertanggung jawab.
Kini, wabah Covid-19 telah membawakan dampak serius kepada ekonomi
global. Untuk membantu banyak negara-negara berkembang yang sedang
menghadapi tekanan ekonomi, Tiongkok aktif memprakarsai dan mengikuti
Rencana G20 tentang Penundaan Pembayaran Hutang, sementara itu berupaya
mendorong proyek infrastruktur dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan untuk
memperdayakan negara-negara berkembang. Hal ini menandakan bahwa
Inisiatif Sabuk dan Jalan bukanlah “perangkap” yang menimbulkan
kesulitan hutang, sedangkan adalah solusi untuk mewujudkan pembangunan.
Tiongkok Undang Teman Mancanegara Berjalan-jalan ke Xinjiang
http://indonesian.cri.cn/20201027/2359928e-f65e-5a6c-779b-c1c2d26a3e78.html
2020-10-27 10:55:08
Pada tanggal 19-22 Oktober lalu, para dubes dan diplomat dari 20 negara
Arab dan Liga Arab untuk Tiongkok mengunjungi Xinjiang. Juru Bicara
Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian hari Senin kemarin (26/10)
menyatakan, pembangunan ekonomi dan sosial serta prestasi pengentasan
kemiskinan di Xinjiang, persatuan dan harmoni berbagai etnis serta
kemajuan usaha HAM di Xinjiang, hasil anti-terorisme dan deekstremisme
di Xinjiang telah disaksikan semua orang. Pihak Tiongkok menyambut
teman-teman mancanegara termasuk yang dari Arab dan negara-negara Islam
berjalan-jalan ke Xinjiang, dan menceritakan keadaan Xinjiang yang
nyata, indah dan pesona kepada dunia.
Rombongan tersebut berkunjung ke perusahaan, sekolah, program
pengentasan kemiskinan dan komunitas basis setempat, sempat mengadakan
pembicaraan tatap muka dengan penduduk desa, secara mendalam mengenal
keadaan kestabilan sosial, kesetaraan dan persatuan nasional, perbaikan
kehidupan rakyat dan pembangunan ekonomi di Xinjiang. Rombongan itu juga
menuju pondok pesantren dan mesjid untuk mengenal situasi perlindungan
kebebasan pada kepercayaan dan agama di Xinjiang. Para diplomat menilai
positif prestasi perkembangan ekonomi, sosial dan usaha HAM di Xinjiang.
Ada yang menunjukkan, kebohongan dunia luar mengenai keadaan HAM
Tiongkok dan Xinjiang sama sekali tidak berdasar. Mereka berpendapat,
pengalaman Xinjiang di bidang anti-terorisme dan deekstremisme patut
dibelajari, dan banyak anggota rombongan beramai-ramai menyatakan akak
memberikan kontribusi kepada kerja sama pragmatis antara negara-negara
Arab dan Xinjiang.