*https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/25750/komunisme_bukan_jalan_menuju_kemakmuran_rakyat
<https://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/25750/komunisme_bukan_jalan_menuju_kemakmuran_rakyat>*

Komunisme Bukan Jalan Menuju Kemakmuran RakyatSelasa , 27 Oktober 2020 |
19:00

 *Oleh Taufik Darusman*

Pada 1961, ketika saya berusia 12 tahun, ayah saya, seorang diplomat karir,
ditugaskan di KBRI Beograd, (ketika itu) Yugoslavia. Di bawah tangan besi
Josip Broz Tito, Yugoslavia menganut paham komunisme namun tidak
berafiliasi kepada Uni Soviet maupun China. Posisi ini berarti negeri ini
berada di luar apa yang dikenal sebagai Tirai Besi, dan memiliki cukup
wibawa untuk memprakarsai, pada 1961, Gerakan Non-Blok (GNB) bersama
Presiden Soekarno dan beberapa pemimpin Asia dan Afrika.

Saya tidak berpretensi menguasai seluk-beluk komunisme sebagai sebuah
paham. Yang pasti, seperti saya sehari-hari saksikan sendiri di Yugoslavia
dan kemudian hari di Uni Soviet, komunisme bukanlah jalan bagi suatu negara
mana pun untuk mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya.

Selama enam tahun di Yugoslavia (1961-1967), setiap musim panas kami
sekeluarga berlibur ke salah satu negara tetangga non-komunis, yaitu
Austria, Italia dan Yunani. Saya menyaksikan sendiri betapa ketinggalannya
Yugoslavia dari mereka – dalam segala bidang. Orang Yugoslavia tidak kalah
cerdas, rajin maupun inovatif dibandingkan dengan para tetangganya. Yang
menghambat kemajuan mereka, tampaknya, adalah sistem pemerintahannya yang
berbasis komunisme – suatu sistem yang memasung kreatifitas dan
kewirausahawan.

Tidak mengherankan bahwa tak lama setelah Tito wafat, pada usia 88 tahun
(1980), rakyatnya memilih untuk pecah kongsi menjadi beberapa negara
independen yang bebas dari komunisme. Cukup sudah, menurut anggapan mereka,
hidup dengan sebuah ideologi yang tidak menghasilkan kesejahteraan yang
berarti.

Pada pertengahan 1970an ayah menjabat sebagai duta besar di Moskow (Uni
Soviet) dan saya beberapa kali mengunjungi negara itu, bahkan sempat ke
pusat teknologinya yang megah di Irkuts. (Letaknya demikian jauh di bagian
timur sehingga koridor waktunya sama dengan Indonesia.) Ketika itu saya
berkuliah dan bekerja di Negeri Belanda. Setiap musim panas saya terbang
sekitar dua jam dari Schiphol (Amsterdam) dan mendarat di Moskow. Saya
menyaksikan betapa tajamnya kontras tingkat kemakmuran antara kedua kota
itu.

Pemandangan ibu-ibu, bahkan bapak-bapak, mengantri untuk membeli sembako,
terutama roti, sangat jamak di Moskow. (Ini mengingatkan saya pada antrian
minyak tanah di Indonesia pada awal 1960an.) Di jalan-jalan raya yang
tampak hanya mobil-mobil buatan Soviet yang desiannya tidak menarik dan
merek Fiat versi negara itu. Kalau ada merek lain, itu hanya milik kedutaan
asing.

Tapi jangan salah, ayah mengingatkan saya, bangsa Soviet bukanlah tidak
cerdas. Mereka adalah salah satu dari sedikit negara (ketika itu) yang
memiliki bom atom, dan lebih dahulu dari AS dalam meluncurkan satelit dan
mengorbitkan astronaut (atau kosmonaut, istilah Soviet) ke ruang angkasa.
Dan tidak kalah penting, mungkin, negara itu memiliki grandmaster catur
terbanyak di dunia.

Kalau ada yang menganggap komunisme menghapus kelas masyarakat yang
berbeda-beda, pikirlah kembali: di Uni Soviet, para pemimpin partai
memiliki akses ke toko-toko khusus untuk membeli barang-barang luar negeri,
dan beberapa ruas jalan di dalam kota hanya boleh dilewati elit penguasa.
Mereka juga mendapatkan perawatan kesehatan yang jauh lebih baik ketimbang
yang dinikmati warga biasa, dan memiliki vila-vila mewah (*dacha*) di luar
Moskow.

*Label*

Sebagai catatan, Rusia, bahkan China pun secara praktis sudah mencampakkan
komunisme. Dewasa ini kedua negara tersebut dapat dikatakan hanya
berpura-pura menganutnya dan berbasa-basi saja menyanjung sistem tersebut.
Kedua negara itu, demikian juga benteng-benteng komunisme kelas teri
seperti Kuba dan Korea Utara, menggunakan komunisme sebagai suatu “label”
atau identitas saja yang dianggap akan membedakan mereka dari apa yang
dikenal sebagai negara-negara kapitalis seperti AS, Inggris atau Perancis.

Pada 1990, atas undangan kedubes Uni Soviet di Jakarta saya diundang ke
Moskow dan Leningrad (dulu St. Peterburg dan kini kembali bernama itu)
untuk menyaksikan hasil dari *glasnost* (keterbukaan) dan
*perestroika* (restrukturisasi
ekonomi), anjungan reformasi kembar yang diprakarsai Mikhail Gorbachev.
Ketika itu komunisme masih merupakan identitas politik negara itu, namun
peranan sektor swasta, sesuatu yang merupakan pantangan dalam sistem
komunisme yang menekankan perencanaan pusat (*central planning*), mulai
memegang peranan. Saya merasakan semangat dan gairah baru dalam jiwa orang
Soviet – mereka tampak lebih gembira, sehat dan bergairah.

20 Tahun kemudian, pada 2010, saya diajak Ketua DPD (ketika itu) Irman
Gusman turut serta dalam rombongannya melakukan kunjungan resmi ke Moskow.
(Ketika itu Uni Soviet sudah pecah menjadi beberapa negara independen dan
berubah namanya menjadi Rusia.) Saya hampir tidak mengenali lagi Moskow.
Hampir di setiap sudut kota itu terdapat gerai KFC dan McDonald’s, belum
lagi mobil-mobil mewah yang parkir di hotel-hotel berbintang yang dikelola
oleh Hilton dan Marriott.

*Oligarki*

Kita boleh  berdebat panjang-lebar apakah itu semua indikasi dari kemajuan
suatu negara. Yang jelas, komunisme mengalami penolakan di Rusia dan telah
menjadi formalisme semata. Yang  berlaku sekarang adalah sistem oligarki di
mana para anggotanya terdiri atas miliarder dolar berkat privatisasi BUMN
secara besar-besaran pada 1990an. Dan para fanatik sepakbola tentunya ingat
bahwa klub ternama Inggris, Chelsea FC, dimiliki oleh Roman Abramovich,
salah satu dari sekian banyak miliarder Rusia yang memiliki properti kelas
wahid di London.

Maka ketika beberapa waktu lalu kita menyaksikan maraknya gonjang-ganjing
mengenai bahaya Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan ideologi
komunismenya, saya menjadi terheran-heran. Apakah masyarakat kita dianggap
sedemikian dungu sehingga dikuatirkanakan terdorong untuk merangkul suatu
ideologi yang sudah bangkrut, usang dan diberangus oleh kita 50 tahun lalu?
Ironisnya pula, dikatakan bahwa komunisme sudah menyusup di kalangan
pemerintah, yang pada saat yang sama dituduh menganut paham neo-liberal.

Kepada mereka yang bermimpi komunisme membuat suatu masyarakat makmur dan
sejahtera, tunjukkanlah negara mana yang masih benar-benar menganut paham
tersebut. Semua negara komunis di Eropa Timur mencapai kemakmuran hanya
setelah Tira Besi runtuh pada awal 1990an. Dan mereka yang berusaha
menakut-nakuti masyarakat akan bahaya laten komunisme, ketahuilah bahwa
kita kini sudah jauh lebih cerdas ketimbang beberapa dekade yang lalu.
Mengangkat bahaya komunisme ke permukaan ibarat mengisahkan suatu lelucon
politik yang menghina tingkat kecerdasan suatu bangsa.

*Penulis adalah wartawan senior berkedudukan di Tangerang.*

Kirim email ke