Repelita ke-14 Tiongkok Bakal Datangkan Banyak Peluang kepada Dunia

http://indonesian.cri.cn/20201028/5abe67ea-fdc4-9e91-5c27-e10f8eef5fce.html
2020-10-28 11:33:55

Sidang pleno ke-5 Komite Sentral ke-19 Partai Komunis Tiongkok(PKT) sedang diadakan di Beijing. Sidang penting PKT tersebut sedang membahas Repelita ke-14 (2021-2025) dan target misi prospektif tahun 2035 yang ditetapkan Komite Sentral PKT.

Yang menjadi perhatian dunia luar ialah apa isi utamanya dalam perancangan Tiongkok ke depan? Di bawah situasi  global dewasa ini, seperti apa arah pembangunan Tiongkok? Dan Apa pengaruhnya  kepada dunia?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu meninjau kembali Repelita ke-13 dari 2016 ke 2020,  terjadi  perubahan apa pada kehidupan rakyat Tiongkok serta apa efek eksternnya.

Dari segi kehidupan rakyat, pertumbuhan berkelanjutan GDP Tiongkok selama tahun-tahun terakhir ini telah menambahkan banyak lowongan kerja dan mendatangkan banyak keuntungan. Salah satu di antaranya ialah tingkat kemiskinan Tiongkok menurun menjadi 0.6% pada akhir tahun 2019 dari pada 5.7% pada akhir tahun 2015.

Kini, Tiongkok telah menjadi pasar besar yang memiliki 1.4 miliar penduduk dan kelompok berpenghasilan menengah tercatat 400 juta orang. Setelah GDP perkapita Tiongkok menerobos US$10 ribu, potensi permintaan domestik semakin besar.

Apa kaitannya  dengan Repelita ke-14 yang akan diluncurkan Tiongkok?

Pertama, tak diragukan perancangan pembangunan selanjutnya akan terus menjadikan “kehidupan rakyat” sebagai tema utama. Sebelum pembukaan sidang kali ini, pemimpin tertinggi Tiongkok telah beberapa kali melakukan survei, temu wicara atau jajak pendapat melalui internet. Memperbaiki kehidupan dan memenuhi permintaan rakyat akan kehidupan lebih bahagia merupakan salah satu tema utamanya

Kedua, kini ekonomi Tiongkok juga menghadapi banyak masalah, antara lain  ketidakseimbangan dan perbedaan pembangunan antar kawasan bagian timur dengan barat Tiongkok,  kesenjangan besar   pembangunan antar kota dan desa, serta isu peningkatan kemampuan inovasi. Hal-hal tersebut bakal dititikberatkan dalam Repelita selanjutnya.

Ketiga, dilihat dari segi seluruh dunia, proteksionisme dan unilateralisme terus meningkat, merebaknya pandemi Covid-19 di dunia mempercepat perubahan situasi internasional, ekonomi dunia melesu, akan tetapi Tiongkok tetap membuka pintu di segala sektor. Pemimpin Tiongkok pernah mengumumkan, Tiongkok menyambut baik setiap negara, daerah atau perusahaan melakukan kerja sama dengan Tiongkok, termasuk pula negara bagian, daerah atau perusahaan dari Amerika Serikat,  agar mewujudkan konfigurasi kerja sama yang  serba arah, multi level dan pluralis.

Hal ini menandakan,  pada masa depan yang dapat diramalkan, penduduk Tiongkok tetap akan terus berjuang demi kehidupan yang lebih indah, pasar Tiongkok tetap akan dibuka, Tiongkok akan terus mengadakan bisnis dengan seluruh dunia, secara luas mengadakan komunikasi internasional, peluang pasar Tiongkok akan terus berbagi dengan seluruh dunia.


*
*


 Kemlu RRT Mendesak AS Jangan Gunakan Kebohongan Sebagai Senjata

http://indonesian.cri.cn/20201028/d4a52545-37eb-f571-6be0-649152ff51e9.html
2020-10-28 11:09:02

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin hari Selasa kemarin (27/10) di Beijing mengatakan, Tiongkok mendesak politikus Amerika Serikat (AS) termasuk Wakil Tetap AS untuk PBB Kelly Craft, agar mencari tahu perbatasan wilayah negeri AS dan tanggungjawab sendiri dulu, jangan menggunakan sikap kasar sebagai kebenaran, jangan menggunakan kebohongan sebagai senjata, perbuatan ini tidak menguntungkan penyelesaian masalah AS diri sendiri, juga tak berguna untuk memperkuat AS.

Dilaporkan, Wakil Tetap AS untuk PBB Kelly Craft baru-baru ini dalam artikelnya mengkritik kerja sama Tiongkok-PBB. Jubir Kemlu Tiongkok Wang Wenbin di depan jumpa pers rutin menanggapi hal itu bahwa artikel Kelly Craft memperlihatkan lagi ketidaktahuan dan prasangka sejumlah politikus AS. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, negara pembayar iuran PBB dan pemelihara perdamaian terbesar kedua, Tiongkok selalu melindungi tegas multilateralisme, mendukung pekerjaan PBB, menjaga tujuan dan prinsip Piagam PBB. AS tidak hanya menjalankan unilateralisme, tapi juga mengkritik kerja sama negara lain dengan PBB, itu sama sekali adalah pemutarbalikan kebenaran tanpa beralasan.

Kirim email ke