Presiden Jokowi kecam pernyataan Presiden Macron yang hina Islam
Sabtu, 31 Oktober 2020 15:24 WIB
Presiden Jokowi kecam pernyataan Presiden Macron yang hina Islam
Presiden Joko Widodo. (ANTARA/HO-Birkom Kemenparekraf/aa)
Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina
agama Islam
Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kecaman
terhadap pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menghina umat
Islam.
"Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina
agama Islam, yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia,"
kata Presiden Jokowi, di Istana Merdeka Jakarta, Sabtu.
Presiden Jokowi menyampaikan hal itu seusai bertemu dengan para tokoh
agama di Indonesia yang berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI),
Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja Indonesia
(KWI), Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma
Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Majelis
Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) serta Menteri Koordinator
Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Luar
Negeri Retno Marsudi, dan Menteri Agama Fachrul Razi.
"Yang bisa memecah belah persatuan antarumat beragama di dunia di saat
dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi COVID-19," kata
Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi menilai bahwa kebebasan berekspresi yang mencederai
kehormatan, kesucian serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama
sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan.
"Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme sebuah kesalahan besar.
Terorisme adalah terorisme. Teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada
hukum dengan agama apa pun," ujar Presiden Jokowi.
Indonesia pun mengecam keras kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice.
"Indonesia mengecam keras terjadinya kekerasan yang terjadi di Paris dan
Nice yang telah memakan korban jiwa," ujar Presiden.
Pada Kamis (29/10), penyerang bersenjata pisau menewaskan dua orang dan
melukai sejumlah orang lainnya di satu gereja di Kota Nice, Prancis.
Pelaku mengaku ingin membalas pemenggalan guru Sejarah dan Geografi
Samuel Paty (47) pada 16 Oktober 2020 di Eragny yang dipenggal oleh
pendatang dari Chechnya, Abdoullakh Abouyezidovitch (18), karena Paty
menunjukkan kartun nabi Muhammad.
Namun Presiden Emmanuel Macron berpendapat bahwa Paty hanya mengajarkan
kebebasan berekspresi dan berpendapat pada para siswanya.
Emmanuel Macron juga mengeluarkan kata-kata soal Islam yang menyinggung
umat Muslim.
Macron menyebut "Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis saat
ini, di seluruh dunia"
Menurut Macron, pemenggalan guru sejarah tersebut merupakan serangan
teroris Islam. Macron juga menuduh Muslim bersikap separatis.
Hal inilah yang membuat sejumlah negara Islam di dunia mengecam
pernyataan Presiden Prancis itu. Muncul juga kampanye untuk memboikot
produk asal Prancis.
*Baca juga:Pemerintah ingatkan protes pernyataan Presiden Prancis harus
tertib
<https://www.antaranews.com/berita/1814017/pemerintah-ingatkan-protes-pernyataan-presiden-prancis-harus-tertib>
Baca juga:Puluhan ribu Muslim protes pernyataan presiden Prancis
<https://www.antaranews.com/berita/1813149/puluhan-ribu-muslim-protes-pernyataan-presiden-prancis>*
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Budisantoso Budiman