https://www.harianaceh.co.id/2020/11/05/ekonomi-ri-lebih-buruk-dari-perkiraan-jokowi-ekonom-tak-menduga-sedalam-ini/



Ekonomi RI Lebih Buruk dari Perkiraan Jokowi, Ekonom Tak Menduga Sedalam Ini

 *REDAKSI HAI* <https://www.harianaceh.co.id/author/redaksi/>

KAMIS, 05/11/2020 - 17:10 WIB
<https://www.harianaceh.co.id/2020/11/05/ekonomi-ri-lebih-buruk-dari-perkiraan-jokowi-ekonom-tak-menduga-sedalam-ini/>


*Pertumbuhan ekonomi RI (Indonesia) pada kuartal III 2020 akhirnya
diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar minus 3,49 persen. Angka itu
lebih baik jika dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 5,32 persen,
namun lebih buruk dari perkiraan Presiden Jokowi. *

Ekonom CORE Indonesia Indonesia, Mohammad Faisal, bahkan tak menduga
kontraksi (pertumbuhan ekonomi negatif) pada kuartal III 2020 ini masih
sedalam itu. Padahal menurutnya, pada periode tersebut Pembatasan Sosial
Berskala Besar (PSBB) sempat dilonggarkan


“Saya tadinya berpikir kontraksi tidak sedalam itu walaupun sudah lebih
baik dari kuartal II, tapi kuartal II anjlok karena pengetatan,” kata
Direktur Eksekutif CORE Indonesia itu, Kamis (5/11).

Seperti diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, sebelumnya
memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 ini sebesar minus 2,9
persen. Sementara Presiden Jokowi memproyeksikan minus 3 persen.

“Kita tahu kemarin, di triwulan II pertumbuhan ekonomi kita di angka minus
5,32 (persen). Di kuartal ketiga ini, kita juga mungkin sehari, dua hari,
tiga hari ini akan diumumkan oleh BPS, kita juga masih berada di angka
minus, perkiraan kita di minus 3 (persen) naik sedikit,” ujar Jokowi dalam
Sidang Kabinet di Istana Negara, Senin (2/11).


Faisal seperti dilansir Antara mengingatkan, realisasi pertumbuhan ekonomi
kali ini perlu menjadi catatan, karena PSBB sempat dilonggarkan namun
ekonomi belum bisa mengalami perubahan cukup besar. “Artinya potensi ke
depan bisa jadi dalam beberapa kuartal, kita masih akan mengalami
pertumbuhan yang kontraksi,” imbuhnya.

Terkait berbagai stimulus (bantuan) pemerintah melalui program Pemulihan
Ekonomi Nasional (PEN), Faisal menilai hal itu bukan untuk menaikkan
pertumbuhan ekonomi. Tapi untuk membantu masyarakat miskin dari dampak
pandemi.


“PEN bukan untuk membuat pertumbuhan ekonomi positif. Itu supaya tidak
anjlok lebih dalam, yang miskin dan pengangguran tidak bertambah. Untuk
mendorong ekonomi positif itu ekonomi mesti bergerak, digerakkan konsumsi,
khususnya menengah ke atas,” imbuhnya.

Untuk itu, menurutnya pekerjaan rumah besar yang harus ditanggulangi adalah
menangani pandemi. Karena selama ada peningkatan kasus COVID-19, konsumsi
masyarakat kelas menengah ke atas akan tetap tertahan atau menunda belanja.
(*)

Kirim email ke