Pandemi Mewabah, Pasar Tiongkok Mempesona
2020-11-05 11:06:45          
http://indonesian.cri.cn/20201105/730b6878-2a13-a29a-1a44-9a436c544de9.html
 
“Seberapa besar kesulitan, kami tetap akan mengikuti CIIE ke-3 di Shanghai,” 
demikian ujar Roy, Direktur Bagian Litbang Global Perusahaan Theland, Selandia 
Baru. Apa yang dikatakan Roy merupakan suara bersama para pengusaha asing yang 
ikut serta dalam Ekspo Impor Internasional Tiongkok atau CIIE ke-3 yang dibuka 
di Shanghai kemarin malam (4/11).



CIIE adalah kegiatan ekonomi dan perdagangan internasional yang lain lagi yang 
digelar Tiongkok setelah China International Fair for Trade in Services 
(CIFTIS) pada September lalu. Penyelenggaraan CIIE ke-3 tidak hanya 
memperlihatkan kemenangan Tiongkok dalam penanganan wabah virus corona, juga 
akan memberikan energi positif bagi pemulihan ekonomi dunia.



Daya tarik Tiongkok bagi perusahaan transnasional terletak pada pasarnya yang 
didukung oleh 1,4 miliar jiwa. Pasar Tiongkok menjadi tumpuan harapan bagi 
banyak perusahaan transnasional karena Tiongkok merupakan negara besar pertama 
yang berhasil memutuskan penyebaran COVID-19 dan mewujudkan pemulihan ekonomi 
serta pasar konsumsi domestik. Pada tiga triwulan lalu, omzet penjualan yang 
diperoleh Perusahaan L’Oreal di Daratan Tiongkok naik 20,8 persen dibanding 
periode sama tahun lalu. Produksi mobil dari Grup Volkswagen Jerman di Tiongkok 
terwujud pertumbuhan sejak kuartal kedua dengan pengiriman mobil baru di 
Tiongkok mengalami kenaikan sebesar 3 persen pada kuartal ketiga. Grup 
Volkswagen dalam laporan fiskalnya menulis, Tiongkok adalah “motor penggerak 
utama yang mendorong pemulihan kontinu pasar otomotif”... dan ekonomi Tiongkok 
telah memperlihatkan ketangguhan luar biasa di hadapan krisis ekonomi. 
Pemulihan stabil pasar konsumsi Tiongkok beserta potensinya akan menarik 
semakin banyak perusahaan global untuk berkiprah di pasar Tiongkok.



Di balik keberhasilan tersebut adalah upaya tak kendur yang dilakukan Tiongkok 
melalui kebijakan terbuka terhadap dunia luar. Sejak memasuki tahun ini, 
Tiongkok dua kali menggulirkan kebijakan baru untuk menstabilkan penanaman 
modal asing di Tiongkok. Sementara itu telah mengumumkan daftar negatif 
investasi (DNI) edisi baru untuk seluruh wilayah dan Zona Perdagangan Bebas, 
mendirikan pelabuhan perdagangan bebas Hainan (HFTP), membuka tiga zona 
perdagangan bebas yang baru dan terus memperbaiki ekosistem berusaha. Dalam 
sidang pleno ke-5 Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok yang ditutup belum lama 
lalu telah diajukan rancangan mengenai Repelita ke-14 dan Visi 2035, yang 
menegaskan ke depannya Tiongkok akan melaksanakan keterbukaan terhadap dunia 
luar “secara lebih luas dan lebih mendalam”. Tiongkok sedemikian tentunya akan 
menyediakan peluang emas yang tak boleh disia-siakan oleh setiap perusahaan 
transnasional.


Kirim email ke