Pembohong Pompeo Tidak Pantas Bicarakan Agama dengan Kaum Muslim Indonesia 2020-11-07 09:16:03 http://indonesian.cri.cn/20201107/616ce4b9-76d6-9643-2249-72ee46626c4d.html
Sejak lama Amerika Serikat (AS) dan kekuatan anti Tiongkok yang menguntitnya berulang kali memfitnah dan menyerang keadaan HAM di Xinjiang, Tiongkok. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo tidak sungkan menyerang Tiongkok dengan menggunakan kesempatan berkunjung ke Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia. Sosok pria ini khusus memilih NU dan Muhammadiyah untuk berdialog dan menyampaikan pidato dengan mengangkat tema kebebasan beragama. Dia mengimbau kaum Muslim Indonesia memperhatikan kebebasan menganut agama di daerah Xinjiang, Tiongkok, dengan harapan bisa menjejali ajaran radikal kepada kaum Muslim Indonesia yang moderat, menghasut sentimen anti Tiongkok di masyarakat Indonesia untuk pada akhirnya dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan oleh lapisan tingkat tinggi Indonesia. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Keadaan asli seperti apa yang terjadi di Xinjiang? Hanya orang-orang yang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri yang tahu keadaan aslinya. Pada kenyataan, banyak orang Indonesia yang pernah berkunjung ke Xinjiang. Ketimbang Mike Pompeo, merekalah yang tahu benar bagaimana keadaan aslinya di Xinjiang. Pada 17 hingga 24 Februari 2019, 15 pemuka agama dari tiga organisasi Muslim terbesar Indonesia alias Majelis Ulama Indonesia (MUI), NU dan Muahammadiyah beserta wartawan dari sejumlah media ternama termasuk Harian Republika, TVOne dan Detik News melakukan kunjungan ke Beijing dan daerah Xinjiang, atau tepatnya Urumqi, Hotan dan Kashgar. Selama berada di Xinjiang, mereka mengunjung Madrasah Islam Xinjiang, masjid di Hotan, Masjid Id Kah di Kashgar dan bersama umat setempat melakukan ibadah shalat. Selain itu para tamu Muslim Indonesia juga melakukan inspeksi ke bazzar Urumqi, kota kuno Kashgar dan bersilaturahmi dengan para pengusaha dan masyarakat setempat. Para tamu Indonesia dihidangkan pertunjukan musik tradisional maupun sajian makanan khas setempat. Dengan mata kepala sendiri mereka telah menyaksikan kerukunan antar masyarakat berbagai etnis di Xinjiang serta kehidupan bahagia warga lokal. Delegasi Indonesia khusus mendatangi sebuah pusat pendidikan dan latihan kejuruan di kabupaten Karakax dan kota Kashgar. Mereka menginspeksi ruang kelas, tempat atletik, gedung asrama dan tempat makan, dan sempat bercakap-cakap mesra dengan para peserta pendidikan dan latihan. Muhyiddin Junaidi dari NU menyatakan, apa yang disaksikannya di Xinjiang membuat dia benar-benar merasakan perhatian pemerintah Tiongkok kepada kelangsungan hidup kaum Muslim setempat. Ia terus terang mengatakan mempunyai pendiriannya mengenai laporan negatif terhadap Xinjiang, dan pendirian itu tidak akan tergoyah karena fitnahan dan berita palsu. Kaum Muslim Indonesia menentang kekerasan, radikalisme dan terorisme. Ia berharap Muslim Indonesia dan Tiongkok dapat menjalin hubungan kerja sama yang kondusif. Ketua NU Said Aqil Siradj jauh pada 2016 sudah berkunjung ke Xinjiang. Pada 2019, ia menyatakan di ajang publik bahwa pemerintah Tiongkok menjamin kebebasan beragama masyarakat Uighur yang menganut agama Islam, dan berita-berita yang mengklaim penduduk etnis Uighur dan Muslim etnis lainnya mengalami persekusi adalah tidak benar dan semata-mata kebohongan. Pada November 2019, mantan Ketua DPR Indonesia, Wakil Ketua Partai Gelora (Gelombang Rakyat), Fahri Hamzah berkunjung ke Urumqi, Xinjiang dengan memimpin rombongan yang terdiri atas anggota DPR dan para pengusaha Indonesia. Selama kunjungan tersebut, Fahri selain diterima para pejabat tinggi lokal, juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke masjid, madrasah, bahkan pasar, komunitas penduduk dan perusahaan setempat untuk melakukan silaturahmi dengan masyarakat setempat. Fahri mengatakan “orang Indonesia perlu membetulkan kesannya terhadap Tiongkok”. Ia mengusulkan orang-orang yang berprasangka agar melakukan perlawatan ke Xinjiang untuk mendapat jawaban yang tepat. Stasiun televisi Metro TV mengirim wartawan berkunjung ke Xinjiang pada November 2019 dan melakukan pemberitaan yang berjudul Pengelolaan Majemuk di Xinjiang. Metro TV dalam laporannya menyebut bahwa Xinjiang adalah provinsi yang paling luas arealnya di Tiongkok. Di Xinjiang terdapat 17 etnis utama. Xinjiang merupakan daerah dengan paling banyak populasi yang menganut agama Islam di Tiongkok, sekaligus daerah yang penuh dengan keanekaragaman. Bagaimana kebebasan beragama di Xinjiang? Hanyalah mereka yang hidup di Xinjiang yang berhak berbicara tentang hal ini. Persatuan Islam Xinjiang pada 3 November lalu merilis Laporan Kebebasan Beragama di Xinjiang, yang menunjukkan bahwa kebebasan menganut agama di Xinjiang mendapat perlindungan sepenuhnya, kegiatan agama normal dilakukan secara teratur, radikalisme agama ditolak dan kegiatan pertukaran dengan dunia luar berjalan dengan lancar. Laporan tersebut menunjukkan, menghormati dan melindungi kebebasan beragama adalah manifestasi semangat tata hukum sosialis. Baik adat istiadat terkait sandang pangan, perayaan hari raya serta acara pernikahan maupun perkabungan kaum Muslim Xinjiang diberikan perlindungan dan penghormatan penuh. Kegiatan agama yang normal, seperti ibadah shalat, makan sahur, pemberian ajaran maupun perayaan hari raya dapat dilakukan secara rutin di masjid, atau di rumah menurut adat istiadat setiap individu, dengan kata lain, semua kegiatan dilakukan secara sukarela. Para jemaah haji juga diatur oleh pemerintah untuk menumpangi pesawat carter demi menunaikan ibadah naik haji ke Mekkah, Arab Saudi. Terhitung hingga saat ini, tercatat 50 ribu lebih Muslim yang pernah menunaikan ibadah naik haji ke Mekkah. Hak partisipasi kaum Muslim dalam pemerintahan juga mendapat jaminan sepenuhnya. Sebanyak 1.400 tokoh agama yang memangku jabatan di Kongres Rakyat Nasional atau Kongres Rakyat Daerah dan Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat. Xinjiang berpegang teguh pada prinsip bebas merdeka dalam mengurusi urusan agama. Di atas dasar itu, mereka selalu berusaha menjalin dan mengembangkan hubungan persahabatan dengan kalangan agama di luar negeri. Di Xinjiang ada kata pepatah yang berbunyi: rakyat berdamba ketenteraman, musuh berdamba kerusuhan. Menghadapi situasi rukun dan rekonsiliasi yang terjadi di Xinjiang, sejumlah politikus AS menjadi kian gelisah dan terus melontarkan argumentasi yang konyol untuk mencapai tujuan jahatnya yang tersembunyi. Melalui kunjungan ke Xinjiang, para tokoh agama, politikus serta jurnalis dan cendekiawan Indonesia sudah mendapat pengetahuan tentang keadaan asli Xinjiang. Kunjungannya ke Xinjiang justru dimaksudkan untuk menghapuskan kesalahpahaman masyarakat Indonesia mengenai kebijakan etnis dan agama yang dijalankan oleh pemerintah Tiongkok. Akan tetapi, Mike Pompeo tidak segan-segan menodai Tiongkok dengan menggunakan masalah agama di Xinjiang saat berkunjung ke Indonesia. Dia tidak hanya menyangkal upaya berbagai kalangan masyarakat Indonesia yang selama ini terus menciptakan lingkungan opini yang kondusif, juga menipu bahkan melukai perasaan rakyat Indonesia, khususnya kaum Muslim Indonesia. Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim: Tanda orang munafik ada tiga sekalipun dia berpuasa, solat dan mendakwa dirinya muslim: Apabila bercakap dia menipu, apabila berjanji dia mungkir dan apabila diberi amanah dia khianat. Mike Pompeo yang sifatnya pembohong tidak pantas untuk membicarakan agama dengan kaum Muslim Indonesia.
