Kemenangannya Biden terhitung telak 306 vs.232 Electoral Colleges, juga menang
banyak dalam popular votes, komplit.Tetapi yg juga menentukan adalah pemilihan
Senat yg sementara ini 48 vs 48 (dari total 100), seandainya nantinya GOP bisa
51+ artinya banyak policy Biden yg tidak bisa jalan atau kena blok.
Kalah dalam pemilu bukan berarti tidak bisa memimpin, ini adalah 2 hal yang
berbeda. Pemilu lebih dalam popularitas yg menarik orang utk mencoblos, sedang
memimpin lebih dalam leadership.
Wapres Harris saya kira tidak akan membantu banyak, politik beliau sementara
ini lebih ke politik identitas. Tidak tahu nantinya.
On Sunday, November 8, 2020, 05:43:42 PM PST, 'Chan CT'
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Apapun yang terjadi sesungguhnya dengan kemenangan pasangan Biden-Harris
terhadap Trump kali ini, saya kok merasa perjuangan Biden untuk membenahi
perpolitikan-ekonomi AS dan dunia yang rusak/pecah masa Trump, akan berjalan
terseok-seok, jadi lebih sulit! Saya tidak tahu jelas sampai dimana kemampuan
kepemimpinan Biden, tapi melihat kiprah selama ini berapa kali GAGAL dalam
pemilu dan hanya bisa berperan sebagai wapres, menunjukkan kemampuannya
terbatas. Ini pertama. Kedua, mengingat bertambah usia dan pernah 2X operasi
otak, akan membuat merosot kemampuannya; ketiga, kemenangan tipis kali ini,
akan membuat Biden lebih SULIT menangkan kebijakan di legislatif, ... Mudah2an
saja perkiraan saya hanya subjektif saja, dan dengan adanya BANTUAN wapres
Harris, kiprahnya bisa lebih baik dan keadaan perpolitikan demokrasi AS tidak
separah yang saya duga, .... From: Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45] Sent: Monday, November 9, 2020 2:39 AMTo: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Sejarah! Kamala Harris, Wapres Wanita Kulit Hitam
Pertama AS
Kamala Harris jadi VP karena ditunjuk Biden, omong kosong kalau dikatakan
mengalahkan ini itu.Biden kalah di Florida saya kira karena Kamala yg
sedemikian bermain politik identitas, seandainya yg dipilih orang lain sudah
akan menang waktu election day. On Sunday, November 8, 2020, 03:47:24 AM PST,
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Sejarah! Kamala Harris, Wapres Wanita Kulit Hitam Pertama AS
SHARE
Foto: Senator dan calon presiden dari Partai Demokrat AS, Kamala Harris,
berkampanye di sebuah pertemuan balai kota di Charleston Utara (REUTERS/Elijah
Nouvelage)
Jakarta, CNBC Indonesia - Kamala Harris membuat sejarah baru pada Sabtu waktu
AS. Dia menjadi wanita kulit hitam pertama yang terpilih menjadi wakil presiden
(wapres) Amerika Serikat (AS).
Dia berhasil melibas penghalang yang membuat pria, hampir semuanya berkulit
putih, yang bercokol di tingkat tertinggi politik AS selama lebih dari dua abad.
Mengutip APNews, Minggu (8/11/2020) Senator California berusia 56 tahun ini
merupakan orang pertama keturunan Asia Selatan yang terpilih sebagai wakil
presiden.
Terpilihnya Haris sebagai Wapres mendampingi Joe Biden, mewakili
multikulturalisme yang mendefinisikan Amerika, tetapi sebagian besar tidak ada
di pusat-pusat kekuasaan Washington.
|
Baca:
Jadi Presiden Baru AS, Ini Dia Sepak Terjang Joe Biden
|
Identitas kulit hitamnya dinilai memberikan kebebasan baginya untuk bersuara
secara pribadi di tengah pertiwa sebetulnya soal kebrutalan polisi dan rasisme
yang begitu sistemik di AS.
Sebagai wanita dengan peringkat tertinggi yang pernah terpilih dalam
pemerintahan Amerika, kemenangannya memberikan harapan bagi wanita yang
terpukul oleh kekalahan calon wanita sebelumnya yaitu Hillary Clinton, 4 tahun
lalu, melawan Donald Trump.
Harris telah menjadi bintang baru dalam politik Demokrat selama hampir dua
dekade terakhir, menjabat sebagai jaksa wilayah di San Francisco dan jaksa
agung California sebelum menjadi senator AS.
Setelah Harris mengakhiri kampanye presiden Demokrat 2020, Joe Biden menunjuk
Harris sebagai wakilnya. Mereka akan dilantik sebagai presiden dan wakil
presiden pada 20 Januari 2021.
Pemilihan pasangan Biden menambah signifikansi karena Biden akan menjadi
presiden tertua yang pernah dilantik, pada usia 78, dan belum berkomitmen untuk
mengupayakan masa jabatan kedua pada 2024.
APNews menilai, Harris sering membingkai pencalonannya sebagai bagian dari
warisan, dari perempuan kulit hitam perintis yang datang sebelum dia, termasuk
Mary McLeod Bethune, aktivis hak sipil Fannie Lou Hamer dan Shirley Chisholm,
kandidat kulit hitam pertama yang mencari partai besar pencalonan presiden,
pada tahun 1972.
"Kami jarang mengajarkan cerita mereka. Tapi sebagai orang Amerika, kita semua
berdiri di atas bahu mereka," ujar Harris, Agustus lalu, saat dia menerima
nominasi wakil presiden partainya.
Terlepas dari euforia kemenangan Biden-Haris atas Trump-Mike Pence, dia dan
Biden menghadapi tantangan yang berat, termasuk memperdalam ketegangan rasial
di AS setelah pandemi yang telah memakan korban yang tidak proporsional pada
orang kulit berwarna dan serangkaian pembunuhan polisi terhadap orang kulit
hitam Amerika.
Pekerjaan Harris di masa lalu sebagai jaksa penuntut telah memicu skeptisisme
di antara kaum progresif dan pemilih muda yang menginginkannya untuk mendukung
perubahan kelembagaan atas reformasi tambahan dalam kepolisian, kebijakan
narkoba, dan lainnya.
Harris adalah wanita kulit hitam kedua yang terpilih menjadi senat.
|
Baca:
Biden Menang Pilpres AS, Ini Dia PM Pertama yang Beri Selamat
|
Re kannya, Senator Cory Booker, yang juga berkulit hitam mengatakan
kehadirannya membuat institusi menjadi lebih dapat diakses oleh lebih banyak
orang dan menyarankan agar dia melakukan hal yang sama saat menjadi wakil
presiden.
Harris lahir pada tahun 1964 dari dua orang tua yang aktif dalam gerakan
hak-hak sipil. Shyamala Gopalan, dari India dan Donald Harris dari Jamaika,
bertemu di University of California, Berkeley, yang kemudian menjadi sarang
aktivisme tahun 1960-an.
Mereka bercerai, Harris dan saudara perempuannya dibesarkan oleh mendiang
ibunya yang dianggapnya paling berpengaruh dalam hidupnya.
Kamala adalah bahasa Sansekerta untuk "bunga teratai", dan Harris mengiyakan
soal warisan India-nya ini selama kampanye, termasuk dengan panggilan kepadanya.
Namanya menjadi ejekan oleh Partai Republik, termasuk Trump. Ini hanyalah salah
satu serangan yang dihadapi Harris. Trump dan sekutunya berusaha mencapnya
sebagai radikal dan sosialis terlepas dari catatannya yang lebih sentris, upaya
yang bertujuan untuk membuat orang tidak nyaman tentang prospek perempuan kulit
hitam dalam kepemimpinan.
Dia menjadi sasara n disinformasi online yang dicampur dengan rasisme dan
seksisme tentang kualifikasinya untuk melayani sebagai presiden.
Anggota Kongres Pramila Jayapal dari Washington mengatakan kekuatan Harris
tidak hanya berasal dari pengalaman hidupnya tetapi juga dari orang-orang yang
sudah dia wakili.
California adalah negara dengan populasi terpadat dan salah satu negara bagian
yang paling beragam; hampir 40% orang adalah Latino dan 15% adalah Asia..
Di Kongres, Harris dan Jayapal bekerjasama dalam rancangan undang-undang untuk
memastikan perwakilan hukum bagi Muslim yang menjadi target larangan perjalanan
Trump tahun 2017 dan untuk memberikan hak kepada pekerja rumah tangga.
Ibu Harris membesarkan putrinya dengan pemahaman bahwa dunia akan melihat
mereka sebagai wanita kulit hitam, dan begitulah cara dia menggambarkan dirinya
saat ini.
Dia kuliah di Howard University, salah satu perguruan tinggi dan universitas
kulit hitam historis bangsa, dan berjanji Alpha Kappa Alpha, perkumpulan
mahasiswa pertama bangsa yang dibuat untuk perempuan kulit hitam.
Dia berkampanye secara teratur di HBCUs dan mencoba untuk mengatasi
kekhawatiran pria dan wanita kulit hitam muda yang bersemangat untuk upaya yang
kuat guna membongkar rasisme sistemik.
APNews menilai, kemenangannya bisa mengantarkan lebih banyak perempuan kulit
hitam dan orang kulit berwarna ke dalam politik.
Walikota San Francisco London Breed, yang menganggap Harris sebagai mentor,
memandang kesuksesan Harris melalui kacamata identitasnya sendiri.
"Orang Afrika-Amerika tidak jauh dari perbudakan dan kengerian rasisme di
negara ini, dan kami masih merasakan dampaknya dengan cara kami diperlakukan
dan apa yang terjadi di sekitar pemberontakan rasial ini," katanya.
Pencalonan Harris menanamkan banyak kebanggaan dan beserta harapan,
kegembiraan. Harris menikah dengan seorang pria Yahudi, Doug Emhoff, seorang
lawyer, yang anak-anaknya dari pernikahan sebelumnya memanggilnya "Momala".
Kegembiraan tentang pencalonannya meluas kepada wanita dari berbagai ras.