Wekekekek tembusannya (CC/BCC) kok gak ada... hehehe Coba tanya ke Pak Pandu Emailnya Pak Prof NElson..
sekalian juga mo sampaikan... kalo tmn saya yg mau jadi S1 yag jadi dosennya juga adalah seorang S1... jadi S1 mengajar calon S1 salah satu bahan materi pustakanya juga yg di ajarkan adalah Buku tentang Manajemen keluaran Orba yg masih ada tentang PJPT I, II pelita 1, 2 dst hehehhe salam PS : K Fany... masa olo ti Pak Rektor mo di suruh jalan Kaki... --- In [email protected], fany salamanya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya teringat diskusi SSG dirumah Pak Ary Pedju > tentang INOVASI. > Dalam diskusi tersebut ada Om Bakrie Arbie, Lukman > Laliyo dan anak-anak Salemba. > Kata Om Ary, "UNG mau pingin universitas terbaik pada > level mana? Level Lokal Gorontalo, Level Sulut, Level > Sulawesi, Level Indonesia Timur, Level Nasional atau > Level Internasional? Kalau pingin level Indonesia > Timur, maka rekrutlah orang2 terbaik dan terpintar > yang ada di Indonesia Timur, kalau berambisi menjadi > terbaik pada level nasional, maka rekrutlah orang2 > terbaik dan terpintar di Indonesia, dan kalau > berambisi menjadi sebuah Universitas yang terbaik pada > taraf Internasional, maka rekrutlah orang2 terbaik dan > terpintar di dunia" (Ary Pedju, Agutus, 2007; > Diskusi SSG). > > Saya membaca perekrutan CPNS di situs > http://www.ung.ac.id/web/cpns_ung.pdf > dimana Pemerintah Pusat menyediakan Jumlah Formasi 36 > PNS di UNG, soal penentuan formasi ditentukan oleh UNG > sendiri. > Keputusan UNG tentang formasi : > S3 : 1 orang > S2 : 12 orang > S1 : 11 orang > D3 : 8 orang > SMA/SMK : 4 orang > > Jumlah Total S3/S2 : 13 orang > Jumlah Total S1/D3 : 19 orang > Jumlah SMA/SMK : 4 orang > > Saya membandingkan dengan Institute Universitaire > Européen de la Mer (IUEM) tempat saya studi disini, > IUEM adalah Institusi Penelitian Kelautan dibawah > kendali Université de Bretagne Occidentale Brest > Perancis. Syarat Utama untuk menjadi Dosen adalah > lulusan S3/Doktor. Saya tidak ingin membandingkan > dengan fasilitas sarana penunjang pendidikan, karena > UNG pasti sangat kalah jauh, laboratorium, > perpustakaan. Referensi yang tidak saya temukan di > internet, atau yang saya temukan hanya abstract-nya > saja di internet, diperpustakaan tersebut pasti kita > dapatkan tulisannya ketika melakukan browsing. Saya > heran, data-data tentang laut Indonesia banyak sekali > terdapat di perpustakaan tersebut baik hardcopy maupun > softcopy yang sulit kita dapatkan diinternet. > Sebagai catatan bahwa dosen disini yang menjabat ketua > jurusan, direktur, tidak mempunyai sekretaris atau > asisten atau teknisi atau laboran atau apalah namanya. > Apalagi mempunyai sopir dinas. Jangankan direktur > atau ketua jurusan, rektor sendiri pun tidak mempunya > sopir dinas, bahkan gubernur dan walikota pergi ke > kantor membawa mobil sendiri. (Sekedar info : yang > baru saya tahu Pejabat Negara yang mempunyai sopir > dinas di Perancis adalah Presiden Nicolas Sarkozy, > untuk para menterinya saya belum tahu apakah mempunya > sopir dinas atau tidak. Kita di Indonesia para dekan > fakultas bahkan ketua jurusan dan ketua program studi > mempunyai sopir dinas, begitu pula dengan para camat. > Kita adalah bangsa yang sangat manja dan tidak > mandiri). > > Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf > Internasional. > > > Saya membandingkan dengan Universitas Diponegoro > Semarang (karena saya pernah belajar S2 disini) di > mana syarat penerimaan Dosen harus S2, tetap UNG masih > sangat kalah jauh. Apalagi dibandingkan dengan > Universitas Indonesia, UNG mungkin tidak ada > apa-apanya. Mohon para mahasiswa UI asal gorontalo > dimintai komentarnya (Agung Mozin, El-Nino Mohi, Arfin > Suaib, Suprisno Baderan, Bustamil, Syaiful Maksum). > > Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf Nasional > > > Saya membandingkan dengan UNHAS, tetap UNG masih kalah > jauh. (Mohon mahasiswa UNHAS asal gorontalo, dimintai > komentarnya) > > Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf Indonesia > Bagian Timur. > > > Saya membandingkan dengan Universitas Sam Ratulangi > (saya belajar S1 disini), jumlah Dosen Fakultas > Perikanan dan Kelautan Tahun 2002 (waktu saya wisuda) > yang bergelar S3/Doktor berjumlah 12 orang, S2/Master > berjumlah 40 orang, dan Guru Besar 4 orang, ini baru > satu (1) fakultas, belum semua fakultas. Tetap UNG > masih kalah jauh. > > Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf Sulawesi > Utara. > > > Saya membandingkan tingkat pendidikan dosen karena > kualitas tenaga pendidik sangat menentukan kualitas > sebuah Perguruan Tinggi. Merekalah yang mencetak > kader-kader terbaik. Saya teringat kata-kata El-Nino > (ketika dia baru pulang dari Amerika Serikat) bahwa > orang di luar negeri sudah dilatih oleh dosennya > tentang cara berpikir sesuatu, tapi kita di Indonesia > masih dilatih dosen tentang bagaimana cara berpikir. > Hal ini saya rasakan disini (di Perancis), bahwa dosen > mengajar hal-hal yang mendetail misalnya hasil-hasil > penelitian dan contoh-contoh kasus, sementara konsep > dan teori-teori diserahkan kepada kita untuk > mempelajarinya. Saya pernah meng-copi semua > materi-materi kuliah yang diberikan tahun lalu dari > salah seorang teman yang sudah selesai Masternya > disini, ternyata materi tersebut tidak sama dengan > materi yang diberikan tahun ini. Kita bisa > membayangkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di > luar negeri begitu sangat cepat, dan tidak terpaku > pada Modul-modul atau materi-materi kuliah yang > diberikan tahun lalu atau dua (2) tahun lalu. > Hal ini berbanding terbalik dengan materi pengajaran > di Indonesia. Materi yang diberikan 10 tahun lalu > masih diulang-ulang dan diberikan tahun ini. > > Saya tidak habis berpikir dengan kebijakan UNG yang > masih tetap merekrut tenaga teknisi dan laboran dari > lulusan SMA/SMK, D3 dan S1. Hal ini hanya akan > membuat para dosen-dosen menjadi malas untuk kerja di > laboratorium, padahal para dosen ini disamping tenaga > pengajar juga sebagai tenaga peneliti. Kita tahu > bahwa kemajuan sebuah ilmu pengetahuan ditentukan oleh > perkembangan hasil-hasil penelitian. > Tenaga SMA/SMK, D3, S1 yang direkrut UNG berjumlah 23 > orang, sementara S2 hanya 12 orang, S3 1 orang. Jadi > bagaimana UNG bisa bersaing dengan Universitas lain, > sementara ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat > cepat. > > Jadi kesimpulanya bahwa : UNG masih bertaraf lokal > gorontalo. > > Saran untuk Rektor UNG : > 1. Merekrut tenaga PNS semuanya menjadi tenaga Dosen > dengan kualifikasi S3 (50%) dan S2 (50%). Hal ini > tergantung dari Visi dan Misi Rektor UNG (kalau ada > yang tahu, tolong diberitahu), menjadikan UNG bertaraf > apa? > Cara merekrut : Data para mahasiswa S2 dan S3 yang > sementara kuliah di dalam negeri maupun di luar negeri > dan belum mempunyai ikatan dinas (kalau saya sendiri > sudah punya ikatan dinas) untuk direkrut, apalagi bagi > mereka yang mempunyai kompetensi dan sangat dibutuhkan > UNG (contoh Basri Amin yang ambil S3 di Belanda, > El-Nino S2 UI dan masih banyak lagi), sehingga pada > saat penentuan formasi terdapat kualifikasi pendidikan > mereka. Kalau mereka tidak mau, tinggal bagaimana > caranya para Pejabat UNG untuk merayu atau memaksa > mereka menjadi Dosen UNG. > 2. Menjadi Rektor yang Mandiri dan tidak mempunyai > sopir dinas. Kalau perlu jalan kaki ke kantor, > apalagi jaraknya hanya 5 menit dari rumah dinas. > Disamping menjaga kesehatan jantung Pak Rektor karena > berjalan kaki juga menjadikan Rektor dekat dengan para > mahasiswa, juga menjadi contoh teladan bagi para > dekan, ketua jurusan, dan semua dosen untuk menjadi > mandiri. Kalau sudah terlanjur mempunyai sopir dinas, > maka sekali-kali gantian membawa mobil. Kalau hal ini > dilakukan Pak Rektor, maka Pak Rektor adalah Umar Bin > Khattab di zaman sekarang. Ingat Hadits Nabi bahwa : > Ada dua (2) golongan yang doanya tidak ada hijab > dengan ALLAH, yakni orang yang teraniaya dan pemimpin > yang adil. > Kalau gebrakan-gebrakan seperti ini yang dilakukan Pak > Rektor, maka ketika Pak Rektor melepaskan jabatan atau > pensiun, Pak Rektor akan dikenang sebagai Pahlawan > Pendidikan...AMIEN.. > > > > > ________________________________________________________ > Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! > http://id.yahoo.com/ >

