Buat sahabatku terbaik, info yang kamu berikan saat ini, UNG mau pingin 
universitas terbaik, level mana ? adalah suatu pertanyaan yang seharus semua 
teman2 UNG jawab. walau secara kelembagaan adalah Pak rektor yang harus 
menjelaskan sejauh mana UNG saat ini, saya orang dalam UNG walau baru kemarin, 
secara pribadi UNG akan melangkah sesuai dengan tuntutan zaman saat ini walau 
kapan itu terserah orang memandangnya, artinya dari sudut mana, kuantitas dosen 
kah ( yang memiliki kwalifikasi Strata, menurut dari info tmn2 2008 diharapkan 
oleh pak rektor semua dosen S1, tidak ada lagi di semua jurusan), Penelitian 
dosen kah, atau jumlah mahasiswa masuk UNG?. lagi2 tergantung teman2 UNG semua. 
mengenai penerimaan Dosen belakang ini saya dengar dan lihat sendiri banyak 
orang-orang terbaik gorontalo dan luar gorontalo sudah masuk ke UNG. cuma 
pertanyaan apakah orang2 terbaik ini mau mengabdi sepenuhnya untuk UNG atau 
tidak ? liat banyak orang2 UNG banyak mau tinggalkan UNG demi entah
 lah. ya ikut birokrasi, Pilkada, bahkan ada yang akan mengikuti Pemilihan BPD 
segala, baru gimana jadinya UNG.
  kalau UNG hanya di jadikan batu lanjatan aja Fanny. walaupun itu si terserah 
individu.
  

fany salamanya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya teringat diskusi SSG dirumah Pak Ary Pedju
tentang INOVASI.
Dalam diskusi tersebut ada Om Bakrie Arbie, Lukman
Laliyo dan anak-anak Salemba.
Kata Om Ary, "UNG mau pingin universitas terbaik pada
level mana? Level Lokal Gorontalo, Level Sulut, Level
Sulawesi, Level Indonesia Timur, Level Nasional atau
Level Internasional? Kalau pingin level Indonesia
Timur, maka rekrutlah orang2 terbaik dan terpintar
yang ada di Indonesia Timur, kalau berambisi menjadi
terbaik pada level nasional, maka rekrutlah orang2
terbaik dan terpintar di Indonesia, dan kalau
berambisi menjadi sebuah Universitas yang terbaik pada
taraf Internasional, maka rekrutlah orang2 terbaik dan
terpintar di dunia" (Ary Pedju, Agutus, 2007; 
Diskusi SSG).

Saya membaca perekrutan CPNS di situs 
http://www.ung.ac.id/web/cpns_ung.pdf
dimana Pemerintah Pusat menyediakan Jumlah Formasi 36
PNS di UNG, soal penentuan formasi ditentukan oleh UNG
sendiri.
Keputusan UNG tentang formasi :
S3 : 1 orang
S2 : 12 orang
S1 : 11 orang
D3 : 8 orang
SMA/SMK : 4 orang

Jumlah Total S3/S2 : 13 orang
Jumlah Total S1/D3 : 19 orang
Jumlah SMA/SMK : 4 orang

Saya membandingkan dengan Institute Universitaire
Européen de la Mer (IUEM) tempat saya studi disini,
IUEM adalah Institusi Penelitian Kelautan dibawah
kendali Université de Bretagne Occidentale Brest
Perancis. Syarat Utama untuk menjadi Dosen adalah
lulusan S3/Doktor. Saya tidak ingin membandingkan
dengan fasilitas sarana penunjang pendidikan, karena
UNG pasti sangat kalah jauh, laboratorium,
perpustakaan. Referensi yang tidak saya temukan di
internet, atau yang saya temukan hanya abstract-nya
saja di internet, diperpustakaan tersebut pasti kita
dapatkan tulisannya ketika melakukan browsing. Saya
heran, data-data tentang laut Indonesia banyak sekali
terdapat di perpustakaan tersebut baik hardcopy maupun
softcopy yang sulit kita dapatkan diinternet.
Sebagai catatan bahwa dosen disini yang menjabat ketua
jurusan, direktur, tidak mempunyai sekretaris atau
asisten atau teknisi atau laboran atau apalah namanya.
Apalagi mempunyai sopir dinas. Jangankan direktur
atau ketua jurusan, rektor sendiri pun tidak mempunya
sopir dinas, bahkan gubernur dan walikota pergi ke
kantor membawa mobil sendiri. (Sekedar info : yang
baru saya tahu Pejabat Negara yang mempunyai sopir
dinas di Perancis adalah Presiden Nicolas Sarkozy,
untuk para menterinya saya belum tahu apakah mempunya
sopir dinas atau tidak. Kita di Indonesia para dekan
fakultas bahkan ketua jurusan dan ketua program studi
mempunyai sopir dinas, begitu pula dengan para camat.
Kita adalah bangsa yang sangat manja dan tidak
mandiri).

Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf
Internasional.

Saya membandingkan dengan Universitas Diponegoro
Semarang (karena saya pernah belajar S2 disini) di
mana syarat penerimaan Dosen harus S2, tetap UNG masih
sangat kalah jauh. Apalagi dibandingkan dengan
Universitas Indonesia, UNG mungkin tidak ada
apa-apanya. Mohon para mahasiswa UI asal gorontalo
dimintai komentarnya (Agung Mozin, El-Nino Mohi, Arfin
Suaib, Suprisno Baderan, Bustamil, Syaiful Maksum).

Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf Nasional

Saya membandingkan dengan UNHAS, tetap UNG masih kalah
jauh. (Mohon mahasiswa UNHAS asal gorontalo, dimintai
komentarnya)

Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf Indonesia
Bagian Timur.

Saya membandingkan dengan Universitas Sam Ratulangi
(saya belajar S1 disini), jumlah Dosen Fakultas
Perikanan dan Kelautan Tahun 2002 (waktu saya wisuda)
yang bergelar S3/Doktor berjumlah 12 orang, S2/Master
berjumlah 40 orang, dan Guru Besar 4 orang, ini baru
satu (1) fakultas, belum semua fakultas. Tetap UNG
masih kalah jauh.

Kesimpulan : UNG bukan Universitas bertaraf Sulawesi
Utara.

Saya membandingkan tingkat pendidikan dosen karena
kualitas tenaga pendidik sangat menentukan kualitas
sebuah Perguruan Tinggi. Merekalah yang mencetak
kader-kader terbaik. Saya teringat kata-kata El-Nino
(ketika dia baru pulang dari Amerika Serikat) bahwa
orang di luar negeri sudah dilatih oleh dosennya
tentang cara berpikir sesuatu, tapi kita di Indonesia
masih dilatih dosen tentang bagaimana cara berpikir. 
Hal ini saya rasakan disini (di Perancis), bahwa dosen
mengajar hal-hal yang mendetail misalnya hasil-hasil
penelitian dan contoh-contoh kasus, sementara konsep
dan teori-teori diserahkan kepada kita untuk
mempelajarinya. Saya pernah meng-copi semua
materi-materi kuliah yang diberikan tahun lalu dari
salah seorang teman yang sudah selesai Masternya
disini, ternyata materi tersebut tidak sama dengan
materi yang diberikan tahun ini. Kita bisa
membayangkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di
luar negeri begitu sangat cepat, dan tidak terpaku
pada Modul-modul atau materi-materi kuliah yang
diberikan tahun lalu atau dua (2) tahun lalu.
Hal ini berbanding terbalik dengan materi pengajaran
di Indonesia. Materi yang diberikan 10 tahun lalu
masih diulang-ulang dan diberikan tahun ini.

Saya tidak habis berpikir dengan kebijakan UNG yang
masih tetap merekrut tenaga teknisi dan laboran dari
lulusan SMA/SMK, D3 dan S1. Hal ini hanya akan
membuat para dosen-dosen menjadi malas untuk kerja di
laboratorium, padahal para dosen ini disamping tenaga
pengajar juga sebagai tenaga peneliti. Kita tahu
bahwa kemajuan sebuah ilmu pengetahuan ditentukan oleh
perkembangan hasil-hasil penelitian.
Tenaga SMA/SMK, D3, S1 yang direkrut UNG berjumlah 23
orang, sementara S2 hanya 12 orang, S3 1 orang. Jadi
bagaimana UNG bisa bersaing dengan Universitas lain,
sementara ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat
cepat.

Jadi kesimpulanya bahwa : UNG masih bertaraf lokal
gorontalo.

Saran untuk Rektor UNG :
1. Merekrut tenaga PNS semuanya menjadi tenaga Dosen
dengan kualifikasi S3 (50%) dan S2 (50%). Hal ini
tergantung dari Visi dan Misi Rektor UNG (kalau ada
yang tahu, tolong diberitahu), menjadikan UNG bertaraf
apa?
Cara merekrut : Data para mahasiswa S2 dan S3 yang
sementara kuliah di dalam negeri maupun di luar negeri
dan belum mempunyai ikatan dinas (kalau saya sendiri
sudah punya ikatan dinas) untuk direkrut, apalagi bagi
mereka yang mempunyai kompetensi dan sangat dibutuhkan
UNG (contoh Basri Amin yang ambil S3 di Belanda,
El-Nino S2 UI dan masih banyak lagi), sehingga pada
saat penentuan formasi terdapat kualifikasi pendidikan
mereka. Kalau mereka tidak mau, tinggal bagaimana
caranya para Pejabat UNG untuk merayu atau memaksa
mereka menjadi Dosen UNG.
2. Menjadi Rektor yang Mandiri dan tidak mempunyai
sopir dinas. Kalau perlu jalan kaki ke kantor,
apalagi jaraknya hanya 5 menit dari rumah dinas. 
Disamping menjaga kesehatan jantung Pak Rektor karena
berjalan kaki juga menjadikan Rektor dekat dengan para
mahasiswa, juga menjadi contoh teladan bagi para
dekan, ketua jurusan, dan semua dosen untuk menjadi
mandiri. Kalau sudah terlanjur mempunyai sopir dinas,
maka sekali-kali gantian membawa mobil. Kalau hal ini
dilakukan Pak Rektor, maka Pak Rektor adalah Umar Bin
Khattab di zaman sekarang. Ingat Hadits Nabi bahwa :
Ada dua (2) golongan yang doanya tidak ada hijab
dengan ALLAH, yakni orang yang teraniaya dan pemimpin
yang adil.
Kalau gebrakan-gebrakan seperti ini yang dilakukan Pak
Rektor, maka ketika Pak Rektor melepaskan jabatan atau
pensiun, Pak Rektor akan dikenang sebagai Pahlawan
Pendidikan...AMIEN..

________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/


                         

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke