Berbicara mengenai sejarah Gorontalo mungkin tidak akan habis di bahas
pada millis ini, akan tetapi implementasi sejarah dan budaya Gorontalo
dalam kehidupan masyarakat Gorontalo perlu diadakan kajian bersama
sebagai suatu bentuk aksi sosial kaum inteltual untuk kemajuan
Gorontalo.

Hal ini perlu laksanakan, karena implementasi budaya Gorontalo dalam
kehidupan masyarakat Gorontalo sudah mulai hilang. Kita jangan bicara
dulu masalah danau limbato, karena hal itu sudah merupakan fenomena alam
yang lebih identik dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh
perilaku masyarakat Gorontalo dari jaman dulu sampai sekarang yang
seakan memfungsikan danau limboto dengan segala aktivitas kehidupan,
sehingga danau kebanggaan masyarakat Gorontalo tersebut tidak akan lama
lagi akan punah ditelan masa. Untuk tetap mempertahankan pelestarian
danau limboto tidak sedikit anggaran pemerintah sudah dikeluarkan oleh
Pemrintah baik melalui penelitian maupun program lainnya, akan tetapi
penelitian itu sampai sekarang perlu dipertanyakan hasilnya apakah
berdampak positif terhadap pelestarian danau limboto atau tidak.

Sejalan dengan hilangnya danau limboto, maka budaya HUYULA yang sangat
melekat dengan adat istiadat Masyarakat Gorontalo seakan mulai memudar
di Masyarakat Gorontalo.  Hal ini terlihat dari menurunnya rasa
solidaritas dan persatuan di kalangan masyarakat dan pemerintah.

Fenomena ini dapat kita lihat dalam masyarakat Gorontalo dengan tidak
ditemukannya lagi budaya persatuan dan kerjasama, semua dinilai dengan
materi, sehingga menyebabkan masyarakat miskin semakin miskin,
masyarakat kaya semakin kaya sehingga hal ini sudah semakin jauh dari
adat-istiadat Gorontalo.

Fenomena yang paling jelas yaitu tidak dapat dipertahankannya ADIPURA di
bidang kebersihan Kota oleh Kota Gorontalo, karena semua mengenai
kebersihan seakan dibebankan kepada petugas kebersihan yang memerlukan
anggaran daerah untuk membiayai petugas kebersihan, disisi lain petugas
kebersihan adalah masyarakat yang membutuhkan kesejahteraan hidup, akan
tetapi apakah harapan petugas kebersihan itu dapat direalisasikan oleh
pemerintah terutama peningkatan pendapatan mereka?

Fenomena lainnya dibidang pemerintahan yaitu tidak adanya koordinasi
antara pemerintah Provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam
melaksanakan pembangunan. Indikatornya yaitu berbagai pembangunan yang 
akan dilaksanakan oleh pemerintah Provinsi Gorontalo seperti;
pembangunan KANAL Tamalate, pembangunan Pembangkit Listrik dan depot
pertanima di Gorontalo Utara semuanya mendapat respon yang beragam dari
masyarakat ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju, sehingga hal
ini menyebabkan kesenjangan pelaksanaan pembangunan di Gorontalo.

Fenomena-fenomena di atas perlu disikapi oleh kita semua, karena dengan
makin menurunnya budaya HUYULA di Gorontalo maka akan menyebabkan
kemunduran masyarakat Gorontalo dari segi: (1) etika, (2) moral, (3)
akhlak, (4) budaya saling menghormati dan menghargai, dan (5)solidaritas
antar sesama masyarakat. Semua akbiat dari menurunnya budaya HUYULA ini
semakin mengkristal di Masyarakat Gorontalo, indikator menurunnya budaya
HUYULA di Gorontalo yang paling signifikan dengan Pembangunan Gorontalo
yaitu:
1. Bencana Banjir setiap tahun diakibatkan oleh kerjasama masyarakat
dalam menjaga dan melestarikan lingkungan sudah mulai pudar.
2. Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan yang tidak terlalu
memperhatikan kondisi lingkungan, sehingga menyebabkan masyarakat
semakin tidak respon dengan rencana pembangunan tersebut.
3. Kerjasama masyarakat dan pemerintah seakan hanya mementingkan
kepentingan pribadi dan golongan, sehingga menyebabkan perilaku
masyarakat menjadi malas untuk bekerjasama kalau tidak ada imbalan.
4. Perkembangan daerah yang semakin hari semakin maju, sehingga
masyarakat Gorontalo lupa bahwa perkembangan daerah akan berdampak juga
terhadap kehidupan masyarakat terutama moral, etika dan ahklak.

Dengan berdasarkan pada 4 indikator di atas, maka upaya yang harus
dilakukan untuk tetap melestarikan budaya HUYULA adalah dengan
memberdayakan masyarakat dalam semua proses pembangunan serta adanya
kewibawaan pemerintah dalam melakukan koordinasi di semua Level
Pemerintahan. Hal ini perlu ditunjang oleh adanya aksi sosial dari
pemerintah, kaum intelektual, akademisi, teknokrat, dan lain sebagainya
sebagai bentuk kepedulian pada nilai-nilai budaya Gorontalo. Singkatnya
marilah kita berbuat nyata untuk masyarakat Gorontalo dan tinggalkan
tebar pesona untuk berbagai kepentingan pribadi dan golongan demi
kemajuan Gorontalo.

Tulisan ini sekaligus menanggapi kata yang makian Gorontalo yang ditulis
di Millis ini. Kata itu dalam bahasa Gorontalo dapat berarti makian,
akan tetapi jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Makian
berbahasa Gorontalo tersebut dapat berarti "Jangan Hanya Bunyi atau
Gaung Saja" akan tetapi berbuat nyata untuk Gorontalo. Jadi saya
berharap kata makian itu jangan dinilai dari sisi negatifnya melainkan
kita harus nilai juga dari sisi positifnya. Karena makian seperti itu
dapat berarti memotivasi kita untuk selalu berbuat baik dan tidak 
seenaknya mengeluarkan kata dan kalimat kalau tidak ada realisasinya.
Dan mungkin ini peringatan bagi para kandidat wakil rakyat pada PEMILU
2009 nanti. Bukan hal yang mustahil kata Makian itu akan menjadi bahan
renungan untuk wakil rakyat nanti (DPRD maupun DPR RI).Seperti lagu Iwan
Fals (Surat Bagi Wakil Rakyat). Lagu tersebut bermakna philosofis
"Jangan Hanya Gaung"

By.

MIB.

Kirim email ke