Dear MIB,

Sangat inspiratif sekali tulisan anda di bawah ini apalagi dengan membudayakan 
HUYULA di tengah masyarakat Gorontalo yang majemuk.

Sebenarnya tdk di pungkiri masyarakat gorontalo memiliki Kualitas SDM di atas 
rata-rata bahkan jika di di lakukan Debat Tanding utk Menyampaikan sesuatu di 
Depan Podium, Pastilah Orang Gorontalo Juara 1. 

Akan tetapi perlu kita sadari jika kemampuan masing2 Orang gtlo tersebut kita 
satukan maka bisa di pastikan Gorontalo bisa menjadi Daerah yang sangat Pesat 
kemajuannya.

Sebut saja di Jakarta LAMAHU, SSG, di Bandung Ada S31, di Makassar ada KKIG dan 
Moawota, di Palu,Manado dan daerah lainnya memiliki Komunitas juga yang 
tentunya memiliki Visi yang sama membangun utk memajukan Gorontalo. Tapi oleh 
karena saat ini belum ada jalinan kerja sama yang baik sehingga masih terkesan 
berdiri sendiri2.

Melalui Budaya HUYULA yang di sampaikan oleh MIB di bawah ini sangat memgang 
peranan penting utk bisa menyatukan Visi dari masing2 Komunitas tersebut. 
dengan Landasan, Saling Menghargai, Menghormati dan Mendukung kepada sesama 
Gorontalo yang bisa menghasilkan Karya yang besar.

Adapun Makian dengan Kata "Huangango" yang di sampaikan oleh salah satu member 
Milist ini, bisa di katakan sebagai peringatan buat orang gtlo dalam 2 Hal 
Yakni Negatif dan Positif,, Untuk Negatifnya tentu saja Kata tersebut sangatlah 
Kasar dan tdk bisa di terima dengan baik oleh siapa saja, Jika di Kota Makassar 
Kata "Huangango" bisa di sejajarkan dengan Kata "Anak Sundala" dan Jika ada 
orang berkata demikian di Kota Makassar maka ganjarannya adalah biasanya Orang 
yg berkata tersebut sudah di TIKAM dengan Badik oleh orang yang menerima Kata 
tersebut. Untuk yang Positifnya, mungkin teman2 Milist yang tentu saja terdiri 
dari banyak Unsur, seperti Media Cetak, Media Elektronik, LSM, Politikus, 
Budayawan, Akademik, dll harusnya termotivasi dengan kata2 tersebut untuk bisa 
berbuat lebih dan jangan cuman dengan dengan Ucapan seperti makna yang di sebut 
oleh si pemaki tersebut. Mungkin di harapkan ke depan Harus ada Tindakan 
Kongkret yang lebih nyata utk
 membicarakan Gorontalo ke depan.

Tanpa mendahului saudara2 Gorontalo yang lain, seperti Lamahu, SSG dan 
Komunitas lainnnya walaupun saya dan teman2 dari Makassar yakin bahwa teman2 
dari JKT,Bandung,Manado serta Lain2 memikirkan Gorontalo maka bersama ini kami 
dari Komunitas Moawota Makassar Insya Allah di Hari Lebaran (H+4) akan 
menyelenggarakan Seminar Nasional yang di adakan di Kota Gorontalo dengan Nara 
Sumber : Sandiaga Uno, Dany Pomanto, Fikri Fadel Muhmmad. Ke tiga Narasumber 
ini telah bersedia utk bisa mengisi Acara tersebut. 
Adapun kegiatan tersebut mendapat Dukungan sepenuhnya dari HSG (Himpunan 
Saudagar Gorontalo) yang di Ketuai oleh Pak Toni Uloli dan Badan Investasi 
Prop. Gorontalo.
Tidak menutup Kemungkinan utk Narasumber akan bertambah sesuai dengan Bidang 
yang di kuasai. 
Adapun persiapannya sudah mulai di persiapkan sejak saat ini agar 
pelaksanaannya bisa berjalan dengan Sukses pada Hari H, tentu saja dengan 
Berbekal Kata HUYULA,AMBUA dan TUWOTO di harapkan support dari semua pihak baik 
yang ada di luar gorontalo maupun yang ada di Gorontalo.

Tentu saja ini bukan merupakan Acara Moawota Makassar, akan tetapi merupakan 
Kegiatan Masyarakat Gorontalo cuman kebetulan pelaksananya adalah Masyarakat 
Gorontalo dari Makassar. 

Insya Allah Besok tanggal 25 Juni 2008 Pak Fadel akan mampir ke Makassar semoga 
beliau bisa mendukung kegiatan tersebut.

MARI KITA BERSAMA SALING MEMBANTU, BERKUMPUL UNTUK MEMIKIRKAN GORONTALO, DENGAN 
LANDASAN SALING MENGHARGAI, KURANG BUDAYA TUTUHIYA.

Sekali lagi mohon maaf kepada teman2 yang lain jika ada yang kurang berkenan.

Wassalam

Taufik Polapa










--- On Mon, 6/23/08, eecbal_agri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: eecbal_agri <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [GM2020] Budaya HUYULA dan Berbuat Nyata
To: [email protected]
Date: Monday, June 23, 2008, 12:09 PM










    
            Berbicara mengenai sejarah Gorontalo mungkin tidak akan habis di 
bahas pada millis ini, akan tetapi implementasi sejarah dan budaya Gorontalo 
dalam kehidupan masyarakat Gorontalo perlu diadakan kajian bersama sebagai 
suatu bentuk aksi sosial kaum inteltual untuk kemajuan Gorontalo.

Hal ini perlu laksanakan, karena implementasi budaya Gorontalo dalam kehidupan 
masyarakat Gorontalo sudah mulai hilang. Kita jangan bicara dulu masalah danau 
limbato, karena hal itu sudah merupakan fenomena alam yang lebih identik dengan 
kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku masyarakat Gorontalo dari 
jaman dulu sampai sekarang yang seakan memfungsikan danau limboto dengan segala 
aktivitas kehidupan, sehingga danau kebanggaan masyarakat Gorontalo tersebut 
tidak akan lama lagi akan punah ditelan masa. Untuk tetap mempertahankan 
pelestarian danau limboto tidak sedikit anggaran pemerintah sudah dikeluarkan 
oleh Pemrintah baik melalui penelitian maupun program lainnya, akan tetapi 
penelitian itu sampai sekarang perlu dipertanyakan hasilnya apakah berdampak 
positif terhadap pelestarian danau limboto atau tidak.

Sejalan dengan hilangnya danau limboto, maka budaya HUYULA yang sangat melekat 
dengan adat istiadat Masyarakat Gorontalo seakan mulai memudar di Masyarakat 
Gorontalo.  Hal ini terlihat dari menurunnya rasa solidaritas dan persatuan di 
kalangan masyarakat dan pemerintah. 

Fenomena ini dapat kita lihat dalam masyarakat Gorontalo dengan tidak 
ditemukannya lagi budaya persatuan dan kerjasama, semua dinilai dengan materi, 
sehingga menyebabkan masyarakat miskin semakin miskin, masyarakat kaya semakin 
kaya sehingga hal ini sudah semakin jauh dari adat-istiadat Gorontalo. 

Fenomena yang paling jelas yaitu tidak dapat dipertahankannya ADIPURA di bidang 
kebersihan Kota oleh Kota Gorontalo, karena semua mengenai kebersihan seakan 
dibebankan kepada petugas kebersihan yang memerlukan anggaran daerah untuk 
membiayai petugas kebersihan, disisi lain petugas kebersihan adalah masyarakat 
yang membutuhkan kesejahteraan hidup, akan tetapi apakah harapan petugas 
kebersihan itu dapat direalisasikan oleh pemerintah terutama peningkatan 
pendapatan mereka?

Fenomena lainnya dibidang pemerintahan yaitu tidak adanya koordinasi antara 
pemerintah Provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam melaksanakan 
pembangunan. Indikatornya yaitu berbagai pembangunan yang  akan dilaksanakan 
oleh pemerintah Provinsi Gorontalo seperti; pembangunan KANAL Tamalate, 
pembangunan Pembangkit Listrik dan depot pertanima di Gorontalo Utara semuanya 
mendapat respon yang beragam dari masyarakat ada yang setuju dan ada juga yang 
tidak setuju, sehingga hal ini menyebabkan kesenjangan pelaksanaan pembangunan 
di Gorontalo. 

Fenomena-fenomena di atas perlu disikapi oleh kita semua, karena dengan makin 
menurunnya budaya HUYULA di Gorontalo maka akan menyebabkan kemunduran 
masyarakat Gorontalo dari segi: (1) etika, (2) moral, (3) akhlak, (4) budaya 
saling menghormati dan menghargai, dan (5)solidaritas antar sesama masyarakat. 
Semua akbiat dari menurunnya budaya HUYULA ini semakin mengkristal di 
Masyarakat Gorontalo, indikator menurunnya budaya HUYULA di Gorontalo yang 
paling signifikan dengan Pembangunan Gorontalo yaitu:
1. Bencana Banjir setiap tahun diakibatkan oleh kerjasama masyarakat dalam 
menjaga dan melestarikan lingkungan sudah mulai pudar.
2. Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan yang tidak terlalu memperhatikan 
kondisi lingkungan, sehingga menyebabkan masyarakat semakin tidak respon dengan 
rencana pembangunan tersebut.
3. Kerjasama masyarakat dan pemerintah seakan hanya mementingkan kepentingan 
pribadi dan golongan, sehingga menyebabkan perilaku masyarakat menjadi malas 
untuk bekerjasama kalau tidak ada imbalan.
4. Perkembangan daerah yang semakin hari semakin maju, sehingga masyarakat 
Gorontalo lupa bahwa perkembangan daerah akan berdampak juga terhadap kehidupan 
masyarakat terutama moral, etika dan ahklak.

Dengan berdasarkan pada 4 indikator di atas, maka upaya yang harus dilakukan 
untuk tetap melestarikan budaya HUYULA adalah dengan memberdayakan masyarakat 
dalam semua proses pembangunan serta adanya kewibawaan pemerintah dalam 
melakukan koordinasi di semua Level Pemerintahan. Hal ini perlu ditunjang oleh 
adanya aksi sosial dari pemerintah, kaum intelektual, akademisi, teknokrat, dan 
lain sebagainya sebagai bentuk kepedulian pada nilai-nilai budaya Gorontalo. 
Singkatnya marilah kita berbuat nyata untuk masyarakat Gorontalo dan tinggalkan 
tebar pesona untuk berbagai kepentingan pribadi dan golongan demi kemajuan 
Gorontalo. 

Tulisan ini sekaligus menanggapi kata yang makian Gorontalo yang ditulis di 
Millis ini. Kata itu dalam bahasa Gorontalo dapat berarti makian, akan tetapi 
jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Makian berbahasa Gorontalo 
tersebut dapat berarti "Jangan Hanya Bunyi atau Gaung Saja" akan tetapi berbuat 
nyata untuk Gorontalo. Jadi saya berharap kata makian itu jangan dinilai dari 
sisi negatifnya melainkan kita harus nilai juga dari sisi positifnya. Karena 
makian seperti itu dapat berarti memotivasi kita untuk selalu berbuat baik dan 
tidak  seenaknya mengeluarkan kata dan kalimat kalau tidak ada realisasinya.
Dan mungkin ini peringatan bagi para kandidat wakil rakyat pada PEMILU 2009 
nanti. Bukan hal yang mustahil kata Makian itu akan menjadi bahan renungan 
untuk wakil rakyat nanti (DPRD maupun DPR RI).Seperti lagu Iwan Fals (Surat 
Bagi Wakil Rakyat). Lagu tersebut bermakna philosofis "Jangan Hanya Gaung"

By. 

MIB.

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke