Saya sependapat dengan OH, Rata-rata Dosen di UNG hanya berebutan
menjadi pimpinan. Pada hal Jabatan REKTOR sekalipun hanya merupakan
tugas tambahan yang diberikan kepada seorang DOSEN. Jadi pekerjaan
seorang dosen adalah merupakan pekerjaan yang utama dalam
fungsionalnya di PERGURUAN TINGGI. Peran dosen di PT merupakan suatu
barometer untuk meningkatkan kualitas pendidikan bukan hanya
menunjukkan bahwa dia pintar memimpin dalam suatu jabatan struktural.
Peran dosen tersebut harus lebih banyak diarahkan untuk TRI DARMA PT.
Dosen di UNG tidak banyak melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain:
1. Dosen2 tersebut banyak menghabiskan waktunya untuk mengajar yang
sudah lebih dari 12 SKS. Dan hal ini sangat bertentangan dengan aturan
dalam akreditasi suatu Perguruan tinggi. Dosen di UNG sangat percaya
diri jika mempunyai banyak mata kuliah,walaupun Mata kuliah itu bukan
kompetensinya hal ini sangat terkait erat dengan uang kelebihan SKS
yang diberikan oleh pihak UNG, sehingga kualitas pembelajaran tidak
tercapai dengan baik, karena banyak dosen yang mengajar bukan
bidangnya sendiri. Contoh kasus di FA-IL-IL-PERTA UNG. Ada dosen yang
hanya mempunyai kompetensi SOSEK Pertanian, tetapi bisa mengajar untuk
bidang lain, kata dosen itu pada waktu dia belajar dulu di Fak.
Pertanian semua mata kuliah diambilnya, sehingga dia tahu semuanya
tentang pertanian. Dengan pendapat dosen tersebut berarti semua dosen
di UNG boleh mengajar MK. AGAMA, karena semua dosen pernah belajar
AGAMA entah agama apa saja yang penting sesuai dengan keyakinannya.
2. Banyak dosen2 di UNG tidak mengerti maknya dari suatu penelitian
dan pengabdian pada masyarakat. Kebanyakan Dosen2 hanya mengetahui
bahwa, pengabdian masyarakat itu hanya datang disebuah desa/wilayah
kemudian berbuat sesuatu yang bisa bernilai akademik dan punya biaya
maka setelah itu pengabdian itu selesai. Pada hal makna pengabdian
pada masyarakat bukan sesederhana itu. Pengabdian masyarakat oleh
seorang dosen adalah bagaimana dosen PT tersebut dengan naskah
akademiknya yang baik mampu mengadakan perubahan di dalam masyarakat,
baik itu perubahan sosial, ekonomi dll. Dan perubahan itu dapat
berdampak baik terdahap perkembangan masyarakat. Di bidang penelitian
kebanyakan dosen2 di UNG hanya berorientasi pada penelitian kenaikan
pangkat, sehingga tidak sedikit karya SKRIPSI mahasiswa yang
dibimbingnya dijadikan hasil penelitian dosen tersebut untuk kenaikan
pangkatnya dan ini merupakan kejahatan akademik yang belum banyak
terungkap di UNG. Selain itu contoh kasus di FA-IL-IL-PERTA UNG ada
dosen yang menulis Bahan Ajar yang hanya di JIPLAK LANGSUNG dari buku
UNIVERSITAS TERBUKA dan hanya diganti covernya saja.
3. Dosen-dosen di UNG terlalu mengkulturkan keilmuan, sehingga bidang2
ilmu lain tidak dihargai. Contoh UNG adalah berasal dari IKIP,
sehingga banyak dosen2 yang memposisikan diri sebagai yang terbaik
dibidang ilmunya (pendidikan) dan tidak memberikan kesempatan kepada
bidang ilmu lain untuk berkembang (non kependidikan) dan hal ini
banyak di lakukan oleh suatu lembaga di UNG. 
4. Dosen2 di UNG kebanyakan hanya mengurus pribadi orang lain,
sehingga banyak waktunya yang tersita hanya untuk membicarakan dan
mengurus masalah orang lain tersebut. (BERSAMBUNG)

By.

MIB
--- In [email protected], "R. H. Uno" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Saya pernah tanya sama pak Rektor apakah ada jurnal yang diterbitkan
> UNG, jawab beliau jurusan2 sudah ada kecuali universitas. Walaupun so
> uzur dan jauh dari Gorontalo, saya tetap ingin punya akses pada hasil
> tulisan paling tidak para DOKTOR2 melalui internet atau situs mana saja.
> Mohon dibantu pak Bei,siapa2 nama DR di UNG yang bisa saya baca
> karyanya. Saya  tidak mau hanya mendengar "latabu" dari teman saya pak
> MY.
>  
> Wass&maapu juh,OH 
>  
> -----Original Message-----
> From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Pandu Nusantara
> Sent: Saturday, July 05, 2008 10:37 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [GM2020] Re: Kebijakan 4 hari kerja (tanggapan)
>  
> kalau saja dosen UNG yang lebih dari 400an orang itu mampu membuat
> satu tulisan setiap dua bulan dari hasil penelitian & pengabdiannya
> maka setiap 4 bulan akan ada 800an tulisan yang siap dimuat diberbagai
> jurnal. Jadi butuh sekitar 100an jurnal untuk menampung semua karya
> ilmiah itu. Kondisi sekarang dengan jumlah jurnal internal yang
> sekitar 10 saja selalu molor terbit karena minimnya karya ilmiah yang
> masuk. Padahal dosen hanya diminta minimal 2 jam saja dalam sehari
> diluar jam kuliah hadir di kampus untuk keperluan bimbingan akademik
> mahasiswa.
> 
> Pak Nurdin, bukannya fenomena di UNG banyak dosen lebih senang rebutan
> jabatan struktural dari pada melaksanakan fungsinya? Rebutan jadi
> kepala dan sekretaris LP2M, Lemlit dll yang seharusnya ditempati para
> administrator. Seharusnya para dosen bergiat menjadi profesor dengan
> kegiatan ilmiahnya bukan rebutan menjadi rektor atau jabatan2
> administratif lainnya.
> 
> Ini sekedar sharing, untuk lanjutannya silahkan diteruskan di milis ung.
> 
> Rgrds,
> PN
> 
> Pada tanggal 05/07/08, Nurdin Baderan, SP <udinsoilung@
> <mailto:udinsoilung%40yahoo.com> yahoo.com> menulis:
> > assalamu alaikum
> > setelah membaca posting tentang 4 hari kerja bagi dosen terkait dengan
> uang
> > lauk pauk, saya sebagai salah satu bagian tersebut menilai cukup baik
> jika
> > dilihat dari sudut pandang administratif. tetapi jika kita lihat dari
> > keseluruhan permasalahan kinerja dosen yang dianggap belum efektif dan
> > efisien, rasanya tidak cukup untuk menjadi solusi terbaik. selama
> bekerja
> > dengan profesi ini, saya justru melihat beban kerja dosen dengan
> dharma yang
> > seharusnya dilaksanakan oleh seorang dosen belum berimbang. seorang
> dosen
> > khususnya di UNG harus bekerja kadangkala sudah melampaui jam kerja
> efektif
> > seorang dosen dan paling banyak justru bukan persoalan akademik,
> tetapi
> > persoalan administrasi contohnya penyiapan berkas administrasi
> programstudi
> > (prodi), jurusan,bahkan fakultas..akibatnya, produktifitasnya sebagai
> > seorang fungsionalist belum terpenuhi secara optimal, seperti
> meneliti,
> > menulis (artikel atau buku)dan mengabdi kepada khalayak sasaran antara
> yang
> > strategis
> > (masyarakat). hal ini merupakan fenomena yang terjadi hampir disemua
> > fakultas. di sisi lain, UNG harus menjadi universitas yang besar dan
> > kualifaid dengan jumlah dosen ahli yang punya spesifikasi khusus di
> > bidangnya masing2 serta diakui oleh masyarakat lokal Gorontalo,
> regional
> > sulawesi, tingkat nasional, bahkan internasional. ini dapat dicapai
> > diantaranya jika UNG punya prodi dengan kurikulum standar nasional
> prodi
> > tersebut dengan dosen yang kompeten dan kulifaid di mata kuliah pada
> > kurikulum tersebut. untuk mencapai hal tersebut, dosen harus diberikan
> waktu
> > untuk mengexplore ranah ilmunya yang spesifik tersebut melalui
> membaca,
> > meneliti, menulis dan mensosialisasikan hasil explorasi keilmuannya
> baik
> > studi literatur maupun penelitian kepada khayalayak (masyarakat)
> supaya
> > terjadi interaksi yang baik. ini butuh waktu dan kesempatan yang cukup
> lama.
> > sehingga kebijakan absensi dosen, apalagi bagi dosen dengan basik
> lapangan
> > cukup menjadi kendala bagi
> > kesempatan mengexplore ranah kilmuannya, seperti dosen di faperta.
> IPB, UGM
> > dan universitas yang sudah besar saat ini, dosen-dosennya banyak
> meneliti
> > dan berinteraksi di luar kampus, sehingga dikenal dan secara tidak
> langsung
> > melambungkan nama besar almamaternya (interaksi yang positif), tetapi
> punya
> > komitmen yang kuat terhadap kegiatan akademik..ini dapat dijadikan
> bahan
> > perbandingan untuk UNG dan dosen-dosennya, agar UNG menjadi
> universitas yang
> > lebih maju dari sekarang..
> >
> > NM
> >
> >
> > --- On Sat, 7/5/08, Pandu Nusantara <[EMAIL PROTECTED]
> <mailto:tepandu%40gmail.com> com> wrote:
> >
> >> From: Pandu Nusantara <[EMAIL PROTECTED] <mailto:tepandu%40gmail.com>
> com>
> >> Subject: Re: [GM2020] Re: Kebijakan 4 hari kerja
> >> To: gorontalomaju2020@ <mailto:gorontalomaju2020%40yahoogroups.com>
> yahoogroups.com
> >> Date: Saturday, July 5, 2008, 5:27 AM
> >> Bung Redho, sebenarnya latar belakang adanya daftar hadir
> >> bagi dosen hanya
> >> terkait dengan uang lauk pauk. Syarat administrasi menerima
> >> uang lauk pauk
> >> yang sekitar 500 - 600 rb perbulan (kalau tidak salah) itu
> >> hanya daftar
> >> hadir yang sudah ditandatangani. Sayangnya absen yang
> >> manual ini pun sering
> >> dirapel, ditandatangan sekaligus untuk satu bulan
> >> hehehe.... Absensi finger
> >> print hanya sekedar data pembanding absen manual.
> >> Tapi di beberapa unit kerja di UNG, data absensi finger
> >> print ini yang
> >> dijadikan acuan pencetakan absensi manual. Artinya kalau
> >> tidak absen finger
> >> print di hari tertentu, tidak bisa tandatangan absen manual
> >> karena kotak
> >> tempat untuk tanda tangannya itu otomatis tercetak hitam
> >> penuh. jadi
> >> walaupun tanda tangannya di rapel saru bulan, pegawai tidak
> >> bisa tanda
> >> tangan di hari-hari dimana dia tidak hadir (tidak absen
> >> finger print)
> >>
> >> Rgrds,
> >> PN
> >>
> >> Pada 5 Juli 2008 03:06, rhedho <[EMAIL PROTECTED]
> <mailto:rhedho%40yahoo.co.id> co.id>
> >> menulis:
> >>
> >> > Teruntuk Bung Pandu Nusantara! Benar sekali apa yang
> >> anda kemukakan di
> >> > milis ini. Secara pribadi, saya selaku orang UNG
> >> mengakui keadaan yang
> >> > terjadi di UNG sedemikian adanya seperti yang Bung
> >> Pandu kemukakan.
> >> > Namun ada hal yang perlu saya kemukakan tentang isi
> >> dari Pedoman
> >> > Akademik UNG yang telah anda baca tersebut. Hal ini
> >> saya kaitkan juga
> >> > dengan apa yang dipertanyakan oleh Ibu Titien tentang
> >> daftar hadir
> >> > para dosen yang ada dimasing-masing jurusan dan
> >> program studi di UNG.
> >> > Salah satu latar belakang dimunculkannya konsep
> >> kehadiran dosen dalam
> >> > Pedoman Akademik UNG dengan direalisasikannya dalam
> >> bentuk Daftar
> >> > Hadir Dosen adalah dalam rangka mengenjot kinerja para
> >> dosen di UNG
> >> > yang dihargai dengan kenaikan pendapatan dari
> >> Kelebihan Mengajar para
> >> > dosen di UNG (entah sekarang masih berlaku atau
> >> tidak). Menurut saya
> >> > tujuannya sangat baik jika benar dalam rangka
> >> meningkatkan kinerja Tri
> >> > Dharma Perguruan Tinggi para dosen di UNG. Namun! Hal
> >> ini menurut saya
> >> > tidaklah efektif dan efesien.
> >> >
> >
> >
> >
> >
>


Kirim email ke