Sangat menyentuh hati.. Thx atas sharingnya gan.

2011/11/4 Putit <[email protected]>:
> Kalo saja bisa dapetin setidaknya 5 orang seperti mereka mungkin
> negeri ini bisa makmur kali ya
> 1 untuk jadi Presiden
> 1 untuk jadi Menkumham
> 1 untuk jadi Jaksa Agung
> 1 untuk jadi Kapolri
> 1 untuk jadi Ketua KPK
>
> On 11/4/11, Ki Djoko Lemot <[email protected]> wrote:
>>  ** **
>>
>> *Subject:* Kisah Kejujuran****
>>
>> ** **
>>
>> Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang
>> langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan
>> segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah
>> sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan
>> dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau kita
>> biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh
>> hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita
>> mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.****
>>
>> <https://lh3.googleusercontent.com/-j-PA35Vv9N4/TXcz_w84fUI/AAAAAAAAAlM/mYZrYzKnPVE/s1600/anak.jpg>
>> ****
>>
>>
>> Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka
>> makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas
>> jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira
>> delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat
>> menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung
>> jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk ****Jakarta**** saya hanya
>> mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya
>> oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari
>> kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke
>> arah mereka.
>>
>> Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa
>> seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh
>> keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan ****gaya**** yang sama dengan
>> saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut
>> kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap
>> teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin ****Jakarta****. Saya
>> melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi
>> tissue putih berbalut plastik transparan.
>>
>>
>> Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka
>> tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat
>> berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit ****Jakarta*
>> ***.
>>
>>
>> “Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu ****lima**** ratus rupiah!” tukas
>> mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah
>> sepuluh ribu rupiah.
>>
>>
>> “Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka
>> menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
>> sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
>> mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
>>
>>
>> “Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan
>> kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh
>> saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar
>> empat ribu rupiah. “Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita
>> berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan
>> meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
>>
>>
>> Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya
>> dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang
>> masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan
>> uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang
>> “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras
>> mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau
>> lewat sini lagi saya kembalikan !”
>>
>>
>> Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.
>> Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya
>> tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar “**Om
>> **, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”
>>
>> “Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke si
>> kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga
>> yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan
>> langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu **Om**, biar
>> ditukar dulu … sebentar.”
>>
>> “Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu
>> uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya
>> ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun ia
>> menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil
>> temannya untuk segera cepat.
>>
>>
>> Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah
>> saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack
>> tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, maaf,
>> tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak.
>>
>>
>> Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah
>> set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa
>> saat saya mematung di ****sana****, sampai si kecil telah kembali dengan
>> genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya
>> serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih **Om**!”..mereka
>> kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit
>> mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal
>> ****kan****orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”.
>>
>>
>> Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor
>> dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia
>> super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh,
>> mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka
>> tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta
>> dengan berdagang tissue.
>>
>>
>> Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka
>> yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Apa
>> yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.****
>>
>> ** **
>>
>> --
>> GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
>> -
>> Site Milis:
>>    http://groups.google.com/group/gudangmedia
>> Blog:
>>    http://gudangmedia.blogspot.com
>> Facebook Page:
>>    http://www.facebook.com/MilisGM
>> Twitter:
>>    http://twitter.com/MilisGM
>> -
>>
>
> --
> GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
> -
> Site Milis:
>   http://groups.google.com/group/gudangmedia
> Blog:
>   http://gudangmedia.blogspot.com
> Facebook Page:
>   http://www.facebook.com/MilisGM
> Twitter:
>   http://twitter.com/MilisGM
> -
>

-- 
GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi ||
-
Site Milis: 
   http://groups.google.com/group/gudangmedia
Blog: 
   http://gudangmedia.blogspot.com
Facebook Page:
   http://www.facebook.com/MilisGM
Twitter:
   http://twitter.com/MilisGM
-

Kirim email ke