Pelajaran uang sangat berharga ! Salut Pada 4 November 2011 22:28, Putit <[email protected]> menulis:
> Kalo saja bisa dapetin setidaknya 5 orang seperti mereka mungkin > negeri ini bisa makmur kali ya > 1 untuk jadi Presiden > 1 untuk jadi Menkumham > 1 untuk jadi Jaksa Agung > 1 untuk jadi Kapolri > 1 untuk jadi Ketua KPK > > On 11/4/11, Ki Djoko Lemot <[email protected]> wrote: > > ** ** > > > > *Subject:* Kisah Kejujuran**** > > > > ** ** > > > > Kejujuran sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang > > langka dan sangat mahal harganya. Memang ketika kita merasa senang dan > > segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten > tidaklah > > sulit, tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang > berbenturan > > dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya, atau > kita > > biarkan tergilas oleh keadaan. Sebuah kisah kejujuran yang sangat > menyentuh > > hati, dua orang anak kecil menjajakan tisu di pinggir jalan. Membuat kita > > mesti belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.**** > > > > < > https://lh3.googleusercontent.com/-j-PA35Vv9N4/TXcz_w84fUI/AAAAAAAAAlM/mYZrYzKnPVE/s1600/anak.jpg > > > > **** > > > > > > Siang ini, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka > > makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas > > jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira > > delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat > > menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung > > jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk ****Jakarta**** saya hanya > > mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan > sopannya > > oleh mereka dengan ucapan, “Terima kasih Oom!” Saya masih tak menyadari > > kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk > ke > > arah mereka. > > > > Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa > > seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang > penuh > > keceriaan, laki-laki itu pun menolak dengan ****gaya**** yang sama dengan > > saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut > > kecil mereka. Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap > > teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin ****Jakarta****. Saya > > melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, dua pertiga terisi > > tissue putih berbalut plastik transparan. > > > > > > Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka > > tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka > terlihat > > berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit > ****Jakarta* > > ***. > > > > > > “Terima kasih ya mbak … semuanya dua ribu ****lima**** ratus rupiah!” > tukas > > mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah > > sepuluh ribu rupiah. > > > > > > “Maaf, nggak ada kembaliannya … ada uang pas nggak mbak?” mereka > > menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan > > sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah > > mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter. > > > > > > “Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan > > kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya > merogoh > > saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar > > empat ribu rupiah. “Nggak punya!”, tukas saya. Lalu tak lama si wanita > > berkata “Ambil saja kembaliannya, dik!” sambil berbalik badan dan > > meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur. > > > > > > Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya > > dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya > yang > > masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan > > uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia > bilang > > “Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!”, namun mereka berkeras > > mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau > > lewat sini lagi saya kembalikan !” > > > > > > Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi > meninggalkannya. > > Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya > > tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar > “**Om > > **, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!” > > > > “Eeh … nggak usah … nggak usah … biar aja … nih!” saya kasih uang itu ke > si > > kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni > tangga > > yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan > > langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu **Om**, biar > > ditukar dulu … sebentar.” > > > > “Nggak apa apa, itu buat kalian” lanjut saya. “Jangan … jangan oom, itu > > uang oom sama mbak yang tadi juga” anak itu bersikeras. “Sudah … saya > > ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !”, saya berusaha membargain, namun > ia > > menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan berteriak > memanggil > > temannya untuk segera cepat. > > > > > > Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah > > saya. “Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..”. Ia memberi saya delapan pack > > tissue. “Buat apa?”, saya terbengong “Habis teman saya lama sih oom, > maaf, > > tukar pakai tissue aja dulu”. Walau dikembalikan ia tetap menolak. > > > > > > Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya > kalah > > set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya. Beberapa > > saat saya mematung di ****sana****, sampai si kecil telah kembali dengan > > genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya > > serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih **Om**!”..mereka > > kembali ke ujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan, “Duit > > mbak tadi gimana ..?” suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal > > ****kan****orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin …….”. > > > > > > Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke > kantor > > dengan seribu perasaan. Tuhan, hari ini saya belajar dari dua manusia > > super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya > trenyuh, > > mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, > mereka > > tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta > > dengan berdagang tissue. > > > > > > Dua anak kecil yang bahkan belum balig, memiliki kemuliaan di umur mereka > > yang begitu belia. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. > Apa > > yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil.**** > > > > ** ** > > > > -- > > GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || > > - > > Site Milis: > > http://groups.google.com/group/gudangmedia > > Blog: > > http://gudangmedia.blogspot.com > > Facebook Page: > > http://www.facebook.com/MilisGM > > Twitter: > > http://twitter.com/MilisGM > > - > > > > -- > GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || > - > Site Milis: > http://groups.google.com/group/gudangmedia > Blog: > http://gudangmedia.blogspot.com > Facebook Page: > http://www.facebook.com/MilisGM > Twitter: > http://twitter.com/MilisGM > - > -- GudangMedia || MEDIA - Bertukar Informasi || - Site Milis: http://groups.google.com/group/gudangmedia Blog: http://gudangmedia.blogspot.com Facebook Page: http://www.facebook.com/MilisGM Twitter: http://twitter.com/MilisGM -
