Mas suwun nih,...

Saya trenyuh banget bacanya....asli,...

SalamSejati

Pada 1 November 2008 17:35, Herman Adriansyah <[EMAIL PROTECTED]>menulis:

>  (Thoughful story) Ayah Juga Lupa
>
>
>
> Ayah Juga Lupa
>
>
>
> Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah
> tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang kriting lengket pada
> dahimu yang lembap. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru
> beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang
> perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan
> bersalah Ayah datang masuk mengahampiri pembaringanmu. Ada hal-hal yang Ayah
> pikirkan, Nak : Ayah ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika
> kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu
> sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah
> berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.
>
>
>
> Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu.
> Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau
> mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai
> bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan
> melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan, Ayah!" dan Ayah
> mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"
>
>
>
> Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari
> jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut,
> memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang pada kaus kakimu. Ayah
> menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah.
> Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih
> berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang Ayah!
>
> Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang
> perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa
> terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena
> gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. "Kau mau apa?" Semprot Ayah.
> Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke
> arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah,
> tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan
> yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian
> sekalipun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas
> menaiki tangga.
>
> Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa
> takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan?
>
> Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca - ini adalah hadiah
> Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak
> mencintaimu;
>
> Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah
> sedang mengukurmu dengan kau pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.
>
> Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati
>
> mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukti-bukit luas.
>
> Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk
> dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi
> malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan
> Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!
>
>
>
> Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah;
>
> Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan
> padamu saat kau terjaga.
>
> Tapi esok hari Ayah akan menjadi ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib
> denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau
> tertawa. Ayah akan mengigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar
> dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkan kata ini seolah-olah sebuah
> ritual : "Dia Cuma seorang anak kecil - anak lelaki kecil!"
>
>
>
> Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah
> memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat
> tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam
> gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu
> banyak, sungguh terlalu banyak.
>
>
>
> Dikutip dari buku :
>
> How to win Friends and Influence People, hal 41 - 43
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke