Kadang beban hidup ini serasa ingin dibagikan ke anak. Ketika melihat anak kita 
belum bisa ini itu, rasa kuatir bagaimana dia bisa bertahan di masa depan 
muncul. Lalu saya akan menghardiknya, membetulkan sikap2nya. Lupa, bahwa dunia 
ini tidak melulu bertahan hidup dengan berkompetisi, dengan 'cara' saya. Beban 
hidup, biarlah tetap menjadi bebanku, tanpa harus mewariskannya ke anak-anak. 
Dia punya caranya sendiri untuk mengucapkan 'Bapak, I love you' yang kadang 
kita artikan salah, karena dia memang belum bisa bicara. Kita lupa masih 
membutuhkan keluguan dan kepolosannya untuk bercermin. Kalau sudah begitu yang 
datang hanya sesal, tidak melewatkan waktu untuk bermain-main dengan 
'cara'-nya, dengan keriangan anak-anak yang tulus. 

Terima kasih artikelnya mas Herman.

Guntur

  ----- Original Message ----- 
  From: Herman Adriansyah 
  To: [email protected] 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Saturday, November 01, 2008 5:35 PM
  Subject: [HU] OOT : (Thoughful story) Ayah Juga Lupa


  (Thoughful story) Ayah Juga Lupa
         

  Ayah Juga Lupa

   

  Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah 
tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang kriting lengket pada 
dahimu yang lembap. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru 
beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang 
perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan 
bersalah Ayah datang masuk mengahampiri pembaringanmu. Ada hal-hal yang Ayah 
pikirkan, Nak : Ayah ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau 
sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu 
sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah 
berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

   

  Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau 
menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau 
mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain 
dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan 
sambil berseru, "Selamat jalan, Ayah!" dan Ayah mengerutkan dahi, lalu 
menjawab, "Tegakkan bahumu!"

   

  Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari 
jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, 
memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang pada kaus kakimu. Ayah 
menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. 
Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih 
berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang Ayah!

  Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, 
bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? 
Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi 
ragu-ragu di depan pintu. "Kau mau apa?" Semprot Ayah. Kau tidak berkata 
sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau 
melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan-tanganmu 
yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan 
tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekalipun tidak akan 
mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

  Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa 
takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan?

  Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca - ini adalah hadiah Ayah 
untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; 

  Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah 
sedang mengukurmu dengan kau pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.

  Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati

  mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukti-bukit luas.

  Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan 
mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam 
ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah 
sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

   

  Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; 

  Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan 
padamu saat kau terjaga. 

  Tapi esok hari Ayah akan menjadi ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib 
denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. 
Ayah akan mengigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut 
Ayah. Ayah akan terus mengucapkan kata ini seolah-olah sebuah ritual : "Dia 
Cuma seorang anak kecil - anak lelaki kecil!" 

   

  Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah 
memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu, 
Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan 
ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, 
sungguh terlalu banyak.

   

  Dikutip dari buku :

  How to win Friends and Influence People, hal 41 - 43

   

   

   




  

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke