Salam Sejati
do2
--- On Thu, 6/11/08, danarhadi2000 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: danarhadi2000 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Re: Jalan spiritual daily --> mas Dipo
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, 6 November, 2008, 10:23 AM
Terimakasih mas Gusti Agung. You are absolutely right.
Kita fokuskan ke titik temu, maka kita adalah dalam sebuah tamansari
yang dipadati sahabat. Kalau kita mulai dengan tembok dogma yang
saling memisahkan, salah salah kita hanya ketemu musuh ha ha ha.
Oleh karena itu, saya mencoba pendekatan yang kita semua dapat
bayangkan. Misalnya "dosa". Tidak semua manusia penganut agama dan
budaya Ibrahim, yakni Yehuda, Kristiani dan Islam, yang akibatnya
dalam pembahasan pengertian dosa tidak nyambung. Demikian pula
dengan "surga", "neraka", dsb.
Satu titik yang sama, adalah pengertian, bahwa dosa ADALAH awal
segala nestapa dan duka. Ini diakui dalam SEMUA agama. Kita melangkah
lebih lanjut: dosa adalah awal dari disharmoni. Dalam budaya Asia
timur, ini dosa adalah bertentangan dengan keharmonian Yin dan Yang.
Dalam budaya Timur Tengah dosa adalah "pemisahan dari Allah". Dalam
bahasa Jerman, dosa dinamakan die Suende. Asal kata "Suende" adalah
kata Jerman tua (althochdeutsch) , yakni "Sund", ini berarti "Jurang"
atau "Celah". Alias "pemisah".
Dalam falsafah Jawa yang berguru pada ajaran Hindu dan Buddha, titik
tertinggi yang layak dicapai, adalah Manunggaling Kawula ing Gusti,
yang tak lain adalah keharmonian total dengan makrokosmos.
Keharmonian, atau penyatuan manunggal hanya dapat diraih, apabila
setiap unsur pemisah, disharmoni yang diawali oleh dosa sudah diatasi.
Penebusan oleh Kristus juga dapat dipahami dari sisi ini. Ditebus,
artinya telah mencapai keharmonian dan kemanunggalan dengan Yesus
yang diimani sebagai Ilahi. Bukan, penebusan dalam arti "menebus",
seperti membeli kembali barang gadai ha ha ha.
Penebusan pasti takkan terjadi sepihak, jadi Kristus menebus tanpa
kita berbuat apa apa. Sebab kalau demikian, manusia tak perlu berbuat
apa apa, tetap bergelimang dosa, nanti kan akan ditebus. Tidak
mungkin kan?
Juga prinsip "dosa asal" dari agama Katholik, dapat layak dicermati
dalam ajaran ini, sebagai dosa yang kita lakukan dalam hidup, yang
membuat kita sengsara, dan harus kita tuntaskan, mungkin dalam
beberapa kehidupan, sampai pencerahan sempurna dicapai. Jadi, dosa
itu kita "warisi", bukan dari orang tua yang berujung pada Adam (yang
hanya exist bagi penganut agama agama Ibrahim), namun, dosa yang kita
warisi dari kelahiran kembali ke kelahiran kembali.
Tuhan, dalam pemahaman sebagai sesuatu yang omnipresent dan
omnipotent dapat kita terima, dari Eskimo, Eropa, Afrika sampai
Indian. Tetapi, begitu ada penyempitan definisi, misalnya sebagai
Yahweh, Allah, Allah bapak, dsb, mulai mengakibatkan dikotomi dan
perbedaan pandang. Seolah Tuhan itu banyak, tergantung agama apa. Ini
juga tak mungkin kan?
Salam spiritual
Danardono
--- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "IGusti Agung"
<agungpindha@ ...> wrote:
>
>
> Thank you Mas Danardono,
>
> Once a while you met someone who walk the same path ,
> then you realised that the world is a meeting place.
>
> Every once in a moment you hear thing that worth listening,
> then you realised that the world sing you a beautiful melody.
>
> In a spare moment we witness other creature show us new things,
> then you realised that the world is a mighty classroom.
>
> Other time we never stop wonder how wonderful nature provide,
> then we realised ooh.. what a wonderful world....... .....
>
> feel what time want.
> watch what surround shows.
> listen to the whisper of nature.
> life is learning process.
> learn well till time permit.
>
> agung,nov 08.
>
>
>
>
>
>
> --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "danarhadi2000"
> <danarhadi2000@ > wrote:
> >
> > Mas Dipo yang baik,
> >
> > kita temukan dalam mencari jawaban atas pertanyaan mas Dipo cara
> > berpikir analisis seperti yang terdapat pada konsep Empat
> Kebenaran
> > Mulia. Cara berpikir tersebut adalah:
> >
> > +Memahami Suatu Masalah dan menganalisa masalah tersebut
> > +Menyadari dan menemukan ada penyebab masalah tersebut
> > +Mengetahui bahwa masalah dapat teratasi dan mencari cara
> > penyelesaiannya
> > +Menemukan cara mengatasi masalah tersebut dan Menjalankan
caranya
> >
> > Ketika pikiran yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan,
> > terang, tak ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah,
> > lentur, mantap dan mencapai keadaan tak terganggu, Kita
> > mengarahkannya pada pengetahuan tentang hancurnya noda-noda (tiga
> > akar kejahatan yaitu: keserakahan/ lobha, kebencian/dosa dan
> > ketidaktahuan atau kebodohan-batin/ moha).
> >
> > Secara langsung kita mengetahui sebagaimana adanya: `Inilah
> > penderitaan' , `Inilah asal mula penderitaan' , `Inilah berhentinya
> > penderitaan' , `Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan' ;
> Secara
> > langsung aku mengetahui sebagaimana adanya `Inilah noda-
> > noda', `Inilah asal mula noda-noda', `Inilah berhentinya noda-
> > noda', `Inilah jalan menuju berhentinya noda-noda'
> >
> > Kata penderitaan yang digunakan di sini mewakili kata dukkha,
> > walaupun tidak sepenuhnya dapat mewakili makna kata dukkha.
> Sebelum
> > lebih lanjut membahas tentang penderitaan (dukkha), kita akan
> melihat
> > definisi dukkha;
> >
> > "Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan;
> > penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan;
> kesedihan,
> > ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan (ketidaksenangan) dan
> > keputusasaan adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang
> diinginkan
> > adalah penderitaan Dengan kata lain Lima kelompok kehidupan
> > (Pancakhandha) yang dipengaruhi kemelekatan adalah penderitaan
> > (dukkha)."
> >
> > Memang jika diterjemahkan sebagai penderitaan, kata dukkha akan
> > membuat seolah-olah hidup ini pesimistis. Namun, dukkha bukan
> hanya
> > berarti penderitaan dalam artian biasa. Penderitaan disini yang
> > dimaksud adalah penderitaan dari ketidakpuasan seseorang terhadap
> > suatu hal, padahal apapun pasti berubah. Dukkha bisa diartikan
> > sebagai penderitaan karena tidak bisa menerima perubahan.
> >
> > Sebelum membahas lebih jauh tentang dukkha, perlu diketahui bahwa
> > ciri semua hal yang ada di dunia ini bersifat `selalu berubah'.
> Ini
> > adalah sesuatu yang pasti. Perubahan selalu terjadi, entah
> disadari
> > atau tidak, diakui atau tidak.
> >
> > Tiga corak umum mempunyai arti bahwa tiga hal tersebut pasti dan
> > selalu berlaku, yakni ketidakkekalan (anicca), penderitaan atau
> > ketidakpuasan (dukkha), dan tidak ada diri/sesuatu yang tetap
> > (anatta). Ketiganya tak lain mewakili realitas dunia yang selalu
> > berubah.
> >
> > Jadi dukkha sebenarnya adalah cara pandang manusia terhadap
> perubahan
> > itu. Dukkha adalah penderitaan atau ketidakpuasan karena manusia
> > tidak bisa hidup kekal (anicca).
> >
> > Konsep perubahan diwujudkan dari 3 sisi pandang yaitu:
> >
> > Bagi alam atau benda mati dikatakan sebagai anicca (tidak kekal)
> >
> > Bagi cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri dikatakan
> sebagai
> > dukkha (menderita karena merasakan perubahan)
> >
> > Bagi manusia atau mahkluk hidup dikatakan sebagai anatta (tidak
> ada
> > diri yang tetap abadi tanpa perubahan atau roh/jiwa yang kekal
> tanpa
> > perubahan)
> >
> >
> > Jadi dukkha di sini menjadi jelas jika memandangnya dari sudut
> > manusia terhadap diri sendiri dan itu berarti dukkha lebih tepat
> > dikatakan sebagai penderitaan karena cara pandang yang salah
> terhadap
> > kenyataan. Dengan kata lain dukkha terjadi karena manusia masih
> > bersifat subjektif dalam memandang realitas segala sesuatu, yaitu
> > perubahan.
> >
> > Sebelumnya telah dijelaskan bahwa perasaan tidak puas karena
> > kehilangan atau perubahan itulah yang dinamakan dukkha. Dengan
> > pemahaman terhadap penderitaan (dukkha) seperti itu, kita dapat
> > melihat bahwa penderitaan tersebut diakibatkan oleh `perasaan
> tidak
> > puas'.
> >
> > Perasaan tidak puas ini,tanha adalah nafsu keinginan yang
melekat.
> > Melekat artinya jika tidak mendapatkan, maka akan menderita. Kita
> > perlu memahami dengan jelas keinginan biasa dan keinginan yang
> > melekat. Contohnya adalah seorang anak kecil yang ingin mainan.
Ia
> > terus ingin dan ingin padahal faktor penunjang untuk mendapatkan
> > mainan tersebut tidak ada. Akhirnya anak tersebut menangis dan ia
> > merasa menderita. Seandainya anak tersebut hanya ingin, namun ia
> > sadar bahwa kenapa orang tuanya tidak membelikannya, keinginannya
> > menjadi hal yang wajar dan tidak melekat.
> >
> > Akar dari keinginan yang melekat adalah ketidaktahuan (avijja).
> > Ketidaktahuan (avijja) adalah ketidaksadaran pada suatu momen
> (saat
> > ini) akan realitas dunia ini yang selalu berubah. Contohnya
adalah
> > anak kecil yang ingin mainan tersebut. Seandainya anak kecil
> tersebut
> > mengerti bahwa keinginannya hanya sesaat dan belajar dari
> pengalaman
> > sebelumnya bahwa mainan tersebut lama-kelamaan akan membuatnya
> bosan
> > juga, ia akan terbebas dari keinginan yang melekat. Jadi ketika
> > keinginan datang menghampiri, kita harus hati-hati untuk tidak
> > terikat kepadanya. Pikiran dan renungkan dengan bijak apakah
> > keinginan tersebut betul-betul kita butuhkan atau hanya untuk
> > memuaskan keserakahan kita.
> >
> > Berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa
> sisa,
> > penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan nafsu
> > keinginan.
> >
> > Disini, kita tak mempersoalkan maut, yang selalu datang, bila
> hidup
> > ini berakhir. Apakah kita berdosa atau tidak. Juga kebangkitan
> roh,
> > adalah selalu terjadi, apabila sebuah kehidupan didunia berakhir.
> > Manusia TAK perlu dibangkitkan dari kematian, karena roh memang
> > selalu bangkit dari kematian, karena jasad sudah hancur,
> Kehancuran
> > jasad adalah bagian dari hukum alam, yakni SEMUA akan
> berakhir.Anicca.
> >
> > Nibbana sebagai kedamaian atau kebahagiaan sejati adalah ketika
> > penderitaan lenyap, ketika akar penderitaan yaitu keserakahan
> > (lobha), kebencian (dosha) dan kebodohan batin (moha) telah
> lenyap.
> > Itulah Nibbana, kebahagiaan sejati yang saat ini dapat kita alami
> > karena sifat keserakahan, kebencian dan kebodohan batin dapat
kita
> > hancurkan saat ini juga dengan ketidakserakahan atau
> ketidakmelekatan
> > (berdana), ketidakbencian atau cinta kasih dan welas asih, serta
> > dengan kebijaksanaan sejati.
> >
> > Matur nuwun, telah sabar mendengar keterangan ini.
> >
> > Salam spiritual universal
> >
> > Danardono
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, mang dipo <dipo1601@>
> > wrote:
> > >
> > > Mas Danar,
> > > Dalam praktek sehari-hari bagaimana menjalankannya. .
> > > Disekitar dan linkungan kita mungkin bisa membuat
> > dosa/keserakahan/ moha lagi. Bagaimana kita harus menjahuhinya?
> > > Mungkin dalam pekerjaan kita mau tidak mau harus terlibat atow
> > melibatkan diri masuk kedalam 3 penderitaan tersebut.
> > > Mohon pencerahannya. .
> > > Nuwun, dipo
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > ____________ _________ _________ __
> > > From: danarhadi2000 <danarhadi2000@ >
> > > To: Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com
> > > Sent: Wednesday, November 5, 2008 8:06:37 PM
> > > Subject: [Spiritual-Indonesi a] Re: Mas Danar
> > >
> > >
> > > "Dosa" yang mas Djanto kutip adalah pengertian dari kelompok
> agama
> > > agama Ibrahim. Dosa sendiri, dalam khazanah bahasa kita,
berasal
> > dari
> > > kata bahasa Sanskerta "dosha", yang berarti kebencian.
> > >
> > > Hidup kita di didunia ini dicengkeram oleh PENDERITAAN.
> Penderitaan
> > > itu memiliki 3 akar yaitu:
> > >
> > > 1. Lobha (Keserakahan) melekat pada obyek yg menyenangkan
> > > 2. Dosa (Kebencian) menolak pada obyek yg tidak menyenangkan
> > > 3. Moha (Kegelapan batin) tidak mengetahui yg benar dan tidak
> benar
> > >
> > > Untuk itu manusia memiliki PR yg simple namun berat yaitu
> > > menghancurkan Lobha, Dosa, dan Moha tersebut. Namun yg dapat
> > > menghancurkan lobha, dosa, dan moha tersebut adalah duri kita
> > > sendiri, bukan orang tua kita, sahabat, saudara, nabi, atau pun
> > > supreme being apapun.
> > >
> > > Dengan demikian kita merupakan pejuang-pejuang sejati yg harus
> > mampu
> > > mengalahkan dirinya sendiri! karena lobha, dosa, dan moha
> > > bersarang di dalam batin!
> > >
> > > Untuk itu kita mempunyai cara ampuh yaitu Jalan Tengah yg
> artinya
> > > kita dapat mengalahkan lobha, dosa, dan moha itu dengan
> > > mempraktikkan : SILA (KEMORALAN) SAMADHI (KONSENTRASI BENAR)
dan
> > > PANYA (kebijaksanaan) .
> > >
> > > Bila kita mampu mempraktikkan SILA-SAMADHI- PANYA dengan
> > > sempurna maka lobha, dosa, dan moha dapat hancur total
> > > sehingga kita mampu merealisasi Nibbana, menjadi seorang
> > >
> > > Jadi Nirvana atau Nibbana adalah terbebas dari PENDERITAAN, yg
> > > artinya merealisasi KEBAHAGIAN MUTLAK.
> > >
> > > That's so easy.
> > >
> > > Salam spiritual
> > >
> > > Danardono
> > >
> > > --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "benediktus_
> > sudjanto"
> > > <bens.sudjanto@ ...> wrote:
> > > >
> > > > Mas Danar,
> > > >
> > > > Dosa dalam pengertian manusia 'beragama', sebenarnya bukan
> > demikian.
> > > > Dosa adalah renggang/putusnya hubungan sepihak karena pilihan
> > > individu
> > > > dari sang Pencipta (Alam Raya).
> > > > Jadi dosa itu sifatnya individual.
> > > > Yesus menunjukkan jalan (the Way), kehidupan dan kebenaran.
> > > > Itulah jalan Kasih, tapi oleh manusia dalam kumpulannya yang
> lalu
> > > > diambil sebagai jalan Takut yang sifatnya 'pribadi'
> > atau 'kelompok'
> > > > sehingga disebut 'tersesat jalan'
> > > > Sedangkan Kasih & Takut itu dua hal saling berlawanan yang
tak
> > > mungkin
> > > > didampingkan.
> > > >
> > > > Siapa yang mengampuni, ya tiap orang mengampuni dirinya
> sendiri
> > dan
> > > > 'tidak berbuat dosa lagi' serta 'saling mengampuni'
dan 'tidak
> > > berbuat
> > > > dosa lagi'
> > > >
> > > > Salam,
> > > > bens
> > > >
> > > > --- In Spiritual-Indonesia @yahoogroups. com, "danarhadi2000"
> > > > <danarhadi2000@ > wrote:
> > > > >
> > > > > --->Orang baru boleh masuk sorga dg syarat : Tidak Berdosa
> > > (Zero%).
> > > > > Padahal semua orang berdosa, upah dosa adl maut, maka perlu
> > > > > adanya "Rahmat Pengampunan" ; Siapakah yang berkuasa
memberi
> > > ampunan
> > > > > dan menghapus dosa dunia itu ? Jawab : Yesus Kristus.
Adakah
> > > orang
> > > > > lain mampu mengampuni dan menghapus dosa dunia ? Eddy Tg
> > > > > <eddyhbh@>
> > > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > > ***** Maut adalah keadaan dimana jiwa meninggalkan raga.
> Mati.
> > > bahaya
> > > > > maut berarti bahaya yang mematikan. Roh adalah energi,
sudah
> > > terbebas
> > > > > maut. Dosa, adalah sesuatu yang dilakukan manusia dan
> menjadi
> > > beban
> > > > > bagi hidupnya, baik didunia, maupun dalam kehidupannya
> kemudian.
> > > > >
> > > > > Manusia yang berdosa dan mati, tak lagi kedua kali
mengalami
> > maut
> > > > > karena dosanya. Dia tetap exist, dan mengembara dialam
> > spiritual
> > > > > dalam perjalannya menyempurnakan dirinya. Pengembaraan ini
> > > berbasis
> > > > > pada free will tiap makhluk.
> > > > >
> > > > > Dosa ini harus ditebus TIAP manusia sebagai
> tanggungjawabnya,
> > dan
> > > tak
> > > > > ada yang dapat mengambil-alih dari dirinya. Dosa yang saya
> > > lakukan,
> > > > > akan berwujud kharma buruk bagi kehidupan saya, baik kini,
> > > > > dikehidupan ini, maupun dikehidupan kelak. TAK ada satupun
> atau
> > > > > seorangpun yang akan mengambil tanggung jawab ini dari diri
> > saya.
> > > > >
> > > > > "Pengampunan" adalah wujud dimana kita mengalami
> keharmonisan
> > > dengan
> > > > > alam makrokosmos berkat upaya mulia kita dalam mengatasi
> dosa
> > > kita.
> > > > > berperilaku mulia. Hanya inilah yang akan membebaskan kita
> dari
> > > > > kesengsaraan bathin. Bila kesempurnaan ini tercapai, kita
> > > terbebas
> > > > > dari beban dosa, kita mencapai level arahat.
> > > > >
> > > > > Salam
> > > > >
> > > > > Danardono
> > > >
> > >
> >
>
__._,_.___
Messages in this topic (94) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to
Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Recent Activity
23
New MembersVisit Your Group
Give Back
Yahoo! for Good
Get inspired
by a good cause.
Y! Toolbar
Get it Free!
easy 1-click access
to your groups.
Yahoo! Groups
Start a group
in 3 easy steps.
Connect with others.
.
__,_._,___
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Quote:
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal
Energy **
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---