Mau Marah???? Tarik Napas Dalam 2. 

 

Dapet artikel menarik ini dari Kompas dot com...artikel tentang sesuatu yang 
seringkali tidak kita sadari sering kali dilakukan oleh kita...yaitu 
marah-marah...nah, di artikel ini....kalo kita mau marah-marah, hendaknya kita 
menarik nafas kita dalam-dalam untuk mengendalikannya...

 

Ini dia selengkapnya....

 

Mau Marah???? Tarik Napas Dalam

 

PERNAHKAH kita menyadari diri saat marah, sedih, cemas, gelisah, kecewa, dan 
saat segala macam perasaan tidak menyenangkan muncul? Kalau pernah, 
bagaimanakah napas kita saat itu? Tentu, napas kita pendek-pendek dan bahkan 
bisa tersengal-sengal.

 

Dan ternyata gejalanya bisa jadi tidak hanya sampai di situ saja. Kita mungkin 
pernah berkeringat dingin saat merasa takut, sakit perut saat demam panggung, 
diare saat mau ujian, jantung berdetak cepat saat marah, takut dan sebagainya. 
Keadaan semacam dalam bahasa psikologi disebut psikosomatis.

 

Seorang profesor yang juga spesialis kanker dari Institute Rotary Cancer 
Hospital, New Delhi, India, Vinod Kochupillai menyebutkan, gejala-gejala ini 
menandakan bahwa pikiran, kondisi emosi seseorang mempengaruhi badan. "Pikiran 
dan tubuh itu menyatu," ujar professor yang telah menghasilkan 150 tulisan 
ilmiah di jurnal nasional dan internasional.

 

Vinod melanjutkan, ketika kita mulai sadar bahwa kita sedang marah atau 
mengalami emosi yang tidak menyenangkan, ada baiknya langsung menenangkan diri. 
Caranya, dengan menarik napas dalam terus menerus.

 

Dalam meditasi, yoga dan berbagai aliran senam pernapasan diajarkan bagaimana 
bernapas dalam. Selama berabad-abad, banyak orang suci dan para rishi 
menyarankan latihan yoga, meditasi, pranayam untuk mencegah atau memperbaiki 
reaksi kita terhadap stres.

 

Bernapas itu makanan penting untuk semua makhluk. Secara fisik, manusia bisa 
hidup tanpa makanan dan minum dalam waktu agak lama, misalnya tiga hari bahkan 
empat minggu. Namun, bila tanpa oksigen, sehari saja kita bisa mati.

 

Oksigen (O2) yang kita hirup digunakan untuk membakar makanan yang masuk dalam 
tubuh supaya menghasilkan energi. Sisa pembakaran berupa karbondioksida (CO2) 
dikeluarkan lewat paru-paru. Tanpa oksigen, sel-sel tubuh tidak akan berfungsi. 
Semakin lama tanpa oksigen, semakin rusak sel-sel tubuh. Artinya, tinggal 
kematian saja.

 

Pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 berlangsung karena adanya otot-otot 
diafragma (sekat rongga badan), otot-otot rongga dada dan perut yang 
memungkinkan paru-paru mengembang (menghisap udara) dan mengempis (mengeluarkan 
udara).

 

Ketika kita bernapas, udara masuk lewat hidung, tenggorokan, kemudian ke 
paru-paru. Setelah mencapai alveoli (kantong udara pada paru-paru) oksigen 
berdifusi atau menyebar melalui membran alveoli kapiler yang sangat tipis yang 
terdiri dari jaringan membran alveoli dan dinding kapiler pembuluh darah.

 

Dalam keadaan normal, semua oksigen akan diikat oleh hemoglobin sel darah merah 
selanjutnya disebarkan ke sel-sel di seluruh tubuh. Sementara itu, sisa hasil 
pembakaran dari sel yang berupa gas CO2 akan dibawa sel darah merah lewat 
membran alveoli kapiler ke alveoli. Selanjutnya dikeluarkan ke udara bebas.

 

Semakin banyak oksigen yang kita hirup secara teratur setiap hari, sel-sel 
tubuh akan mengalami regenerasi. Sel-sel tidak menjadi lapar akan oksigen dan 
selalu muda. Menurut Prof. Vinod, bernapas dalam, memungkinkan pasokan oksigen 
ke otak, sistem saraf dan seluruh tubuh tercukupi. "Akibatnya kita menjadi 
tenang, bahagia, dan merasakan nikmat yang luar biasa. Keadaan ini muncul 
akibat otak menyemprotkan saripati kenikmatan dalam tubuh karena kedua belah 
otak berada dalam keseimbangan. Kesenangan emosional ini akan meningkatkan 
sistem kekebalan tubuh. Tubuh menjadi sehat. Sel-sel yang rusak misalnya akibat 
kanker bisa diperbaiki.," ujar Kepala Departmen of Medical Oncology All Indian 
Institute of Medical Sciences, New Delhi ini.

 

Sebaliknya, ketegangan emosional semisal stres yang berkepanjangan 
mengakibatkan terjadinya kontraksi otot dada, bahu, punggung, leher, muka, dan 
diafragma. Akibatnya gerakan otot diafragma menjadi terganggu. Napas pendek dan 
cepat, bahkan sistem kardiovaskular (pembuluh darah dan jantung) kita juga 
terganggu. Efeknya, pasokan oksigen ke seluruh tubuh menipis.

 

Ini artinya irama pernapasan merupakan salah satu petunjuk fisik paling jelas 
atas keadaan emosional dan mental seseorang. Penurunan oksigen menimbulkan 
respon "lawan" dari sistem saraf dan ini akan menciptakan sensasi fisik dan 
rangsangan saraf yang mengganggu aktivitas otak. Ketidakseimbangan otak akan 
terwujud berbentuk misalnya konsentrasi buruk, panik, gelisah, cemas, tegang.

 

Dalam keadaan demikian, otak yang diwakili sistem limbic berupa kelenjar 
pituitary, amygdala, dan hippocampus akan mengeluarkan hormon stres (kortisol, 
kortikosteroid, katekolamin). Padahal hormon-hormon ini menyebabkan tekanan 
terhadap sistem kekebalan dan bahkan kekacauan metabolisme tubuh.

 

Dalam kasus esktrim, keadaan tersebut bisa menyebabkan orang menjadi kecanduan 
terhadap tembakau, alcohol, juga narkotika karena bahan-bahan di dalamnya 
mengandung zat penenang.

 

Bila serangan stres terjadi berulang dan menjadi kronis, dapat menyebabkan 
perubahan fisiologis yang permanen. Munculah penyakit seperti darah tinggi, 
diabetes, jantung koroner, asma, gastrointestinal (saluran pencernaan), 
infeksi, migrain, sakit kepala, dan lain-lain."Ini karena depresi menekan 
produksi limposit dan menurunkan fungsi kekebalan," jelas Vinod.

 

HDL Meningkat

Maka, Prof. Vinod kemudian menekankan agar kita berhati-hati terhadap emosi 
negatif yang muncul di dalam diri kita. Menurutnya, kecemasan, sikap 
bermusuhan, sikap menyerang, perasaan kesepian, amarah akan mempengaruhi 
kesehatan kita.

 

Banyak orang di dunia sekarang ini menderita penyakit dan kekacauan mental. Ini 
akibat kehabisan napas karena pernapasan yang tidak benar, kurang berolahraga, 
gizi yang buruk, polusi diri (tembakau, obat-obatan, pengawet) dan polusi 
lingkungan. Sel-sel tubuh akan lapar dengan oksigen sebagai bahan bakar utama.

 

Berbagai penelitian mengindikasikan bahwa penyakit seperti kanker, jantung, 
paru-paru dan AIDS dapat diperbaiki melalui pemberian oksigen yang sesuai 
kepada sel-sel. "Yah, paling tidak kualitas hidup penderita diperbaiki dan 
hidupnya diperlama," ujar Prof. Vinod.

 

Dalam sebuah penelitian di beberapa institusi semisal di All Indian Institute 
of Medical Sciences, India, Prof. Vinod mencobakan sebuah teknik pernapasan 
yang dikembangkan oleh tokoh spritual India, Sri Sri Ravi Shankar bernama 
Sudharsan Kriya dan Pranayam (Sk-P).

 

Dari 21 individu sehat berusia 35-50 tahun yang melakukan metode SK-P selama 70 
menit ditemukan penurunan kadar cortisol darah (hormon stress). Sebelum 
melakukan teknik SKP ditemukan kadar kortisol darah pada para individu itu 
antara 169- 375. Setelah latihan, kadar kortisol menjadi 83- 223.

 

Penelitian lain berlangsung dengan mengikutsertakan 10 orang polisi yang sedang 
menjalani penggojlokan. Selama sebulan pelatihan, stress tinggi ditunjukan 
dengan kadar laktat darah para polisi mencapai angka sekitar 0,64 mmoles/L. Ini 
karena mereka tidak menggunakan teknik SK-P. Setelah sebulan kemudian melakukan 
SK-P, kadar laktat darah para polisi menurun menjadi 0,55 mmoles/L.

 

Dalam penelitian lain lagi yang dilakukan di Bangalore Medical College, Vinod 
sekali lagi membuktikan keampuhan bernapas model ini. Selama tujuh hari, 
seseorang diminta melakukan teknik SK-P. Akibatnya, terjadi penurunan 
kolesterol serum totalnya. Dari mulai 118,32 mg% menjadi 91,75mg%. Sementara 
kolesterol HDLnya meningkat dari 43,17 mg5 menjadi 46,55 mg%. Kemudian latihan 
ditingkatkan menjadi 45 hari. Hasilnya, koletesrol total menurun lagi menjadi 
74,72 mg% dan HDL meningkat menjadi 51,51 mg%.

 

Otak Berjalan

Sebenarnya, sudah sejak lama, berbagai penelitian ilmiah menegaskan bahwa 
antara tubuh dan pikiran saling berkaitan. Sehingga muncul ilmu yang disebut 
Psychoneuroimmunology (Psycho artinya mental, neuro artinya system saraf, dan 
immunology artinya system kekebalan tubuh) atau Mind-Body Medicine.

 

Dr. Candace Pert, mantan Ketua Bidang Kimia Otak pada Institut Nasional 
Kesehatan Jiwa, Universitas California, Amerika Serikat, menyebutkan, sel-sel 
saraf dalam otak kita bekerja karena rangsangan peristiwa fisik atau 
psikologis. Misalnya, ketika kita mendapat serangan beruang atau menerima 
kritik tajam, neuropeptide yang berada dalam sel-sel tubuh segera menyampaikan 
laporan melalui reseptornya di sumsum lanjutan (medulla oblongata) ke otak.

 

Dengan kelenjar pineal sensitif yang dipunyainya, otak dengan segera 
memerintahkan penyemprotan hormon tertentu supaya tubuh aman, misalnya endorfin 
disemprot supaya rasa sakit bisa ditahan. Begitu seterusnya

 

Contoh lain, saat seseorang mendapat kabar gembira atau sedang dalam keadaan 
bernapas dalam, sebuah sel saraf menyemprotkan opiate peptides atau saripati 
kenikmatan. Efek yang dialami dalam sel saraf di seluruh system secara 
bersamaan adalah rasa nikmat.

 

"Jadi dalam tubuh kita sendiri sebenarnya sudah terdapat pabrik obat yang mampu 
memproduksi obat-oatan yang mengatur suasana hati dan jenis obat psikoaktif," 
ujar Candace.

 

Candace menyatakan, para ahli biokimia telah menemukan hampir 100 penyampai 
pesan biokimia ini membentuk sebuah jaringan informasi dalam tubuh atau pikiran 
dengan menghubungkan pikiran, emosi, dan sistem kekebalan.

 

Otak, kelenjar dan system kekebalan tubuh dihubungkan oleh jaringan informasi 
neuropeptide dan reseptor yang luar biasa. "Dalam hal ini, kita bisa menyebut 
neuropeptide dan reseptor itu sebagai otak yang dapat berjalan," ujar Prof. 
Vinod menegaskan.

 

Karena itu, membuat otak selalu seimbang adalah hal penting buat kita. Menjaga 
agar otak selalu terasup oksigen secara cukup bahkan penuh adalah langkah 
menjaga agar kedua belah otak menjadi seimbang sehingga fungsinya berjalan 
optimal.

 

Richard Leviton, dalam bukunya Brain Builders menyebutkan bahwa orang yang 
mengalami gelombang otak alpha (7-14 Hz) melaporkan bahwa perasaannya nikmat, 
rileks, kesadaran meningkat dan emosi stabil. Dalam keadaan seperti ini otak 
akan sanggup membuat tubuh tetap dalam kondisi sehat karena produksi hormon 
kekebalan tubuh lancar dan tidak terganggu metabolisme.

 

Lain halnya bila otak sudah kehabisan tenaga dan bahan bakar (oksigen) akibat 
pernapasan pendek dan tersendat terus menerus. Gangguan ini menyebabkan 
kekacauan di otak. Akibatnya produksi hormon-hormon kekebalan yang melindungi 
tubuh juga kacau dan tersendat. Kita bahkan dapat mengubah keadaan gelombang 
otak ini sesuai keinginan dengan melakukan teknik semacam meditasi.

 

 

Source : Gaya Hidup Sehat

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Quote: 
** In this age of Aquarius, science will become religious, and religion will 
become scientific. Disagreements between science and religion will come to an 
end, and people will begin to comprehend that both spirit and matter are 
derived from the same source, and are only modifications of the One Universal 
Energy **

Milis HU Internasional: 
http://health.groups.yahoo.com/group/harmonization-universal

**** HU Databases List :
****
Mendaftar Inisiasi HU by Pillar: (6 Juli 09)
http://www.flexlists.com/key/hCdOmk1co96klX1PA8fgt7LnP4sbzIbQloEIJFU7
**** 
Inisiasi Shamballa MDH Level 2: (13 Juli 09)
http://www.flexlists.com/key/ykJ2OKwfPd0uHQATQmAkA6Jrw72yYiPxCyzri6G8
****
Inisiasi Silver Violet Flame : (20 Juli 09)
http://www.flexlists.com/key/48FOSscdpUw1Of8AhI0lP4uwoPiO4EU9NAYF3bTs
****
Wings of Light Empowerment : (27 Juli 09)
http://www.flexlists.com/key/EdV3X1Rh3CEuXN94s4pyQAHNiEyS731LhWOfYFw1
****
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke